Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 KEMBALI KE RUMAH


__ADS_3

Tuhan aku yakin kebahagian terlahir dari duka, dimana kesedihan akan ada kebahagian. Aku berterimakasih karena telah memberikanku kesempatan.


Mati suri. Sebagian bicara begitu, karena aku tidur sudah selama ini, namun aku seperti tidur sesaat. Aku bersyukur karena suamiku tetap menungguku. Aku di kelilingi orang yang menyayangiku. Terimakasih atas teguran dan hikmah ini.


"Sayang, aku mencemaskanmu. Apa kamu tahu aku akan gila jika kamu benar benar pergi."


"Masa .. benarkah? biasanya pria akan mudah move on."


Damar berbicara di ruang kamar vvip, ia menggenggam tangan istrinya.


"Baiklah, tuan tampan aku sudah membaik. Kamu tidak perlu cemas, saat itu aku seperti bermimpi berjalan jauh, namun saat aku melangkah ke satu pintu, aku membalik kan arah mendengar suara tangisan, apa karena Haico bayi kita."


"Benarkah, ini semua ide Kara sayang."


Damar pun menjelaskan hingga detail dan mengeluarkan bulir air mata bahagia dan salut.


"Andai aku tak di halangi untuk melangkah, oleh seorang yang tak bisa aku lihat hanya cahaya, apa itu malaikat hubby, sebab


dia berbicara agar aku kembali untuk melangkah ke pintu berlawanan, dia bicara jika aku belum saatnya masuk pintu yang aku tuju."


Tak lama, Bram dan orangtua Siren menjenguk, juga bergantian Merli dan Zie, Nara dan Ricky, serta Mikha dan Kara ikut datang, sehingga semua tersenyum dan bahagia terharu.


"Kara, Mikha makasih ya karena kalian jasa kalian, aku berterimakasih."


"Sama - sama Siren, kita sahabat keluarga. Andai ide ku gagal, aku akan rela berkorban untukmu, kamu lebih dari orang terpenting bagi ku dan Mikha."


Sehingga semua tersenyum.


"Oh iya setahuku saat aku gagal sepertinya ada yang bicara, akan ada seorang yang mau menikah kembali."


Kara melirik jail pada Damar, sehingga Siren tahu ia menatap suaminya.


"Hubby .. benarkah?"


Damar gelagap kebingungan dan malu, sehingga Bram menatap anaknya dan menjewer telinganya.


"Dasar, pria tak punya hati kamu Damar, Dady tidak mengajarkanmu seperti itu, bisa bisanya saat sedang genting kamu bisa memikirkan itu?"


"Dad, itu ga seperti yang Dady dan kalian pikirkan. Sayang itu tidak benar, mak- maksudku di hati itu tidak benar hanya ucapan, agar Siren cepat sadar. Terbukti ia sadarkan."


Kara pun tertawa lebar, Siren ikut tersenyum.


"Benarkah hubby, kalau kamu sudah menikah lalu aku sadar, apa aku boleh menikah juga dengan pria lebih tampan darimu." ucap Siren pada Damar dengan jahil.


"Sayang, itu tidak benar aku ralat perkataan ku. Tuhan aku tarik perkataan ku saat itu, aku hanya reflek."


"Apa hubby reflek."

__ADS_1


Mak- maksudku bukan sengaja, aduh itu tidak mungkin sayang dan jangan pernah bicara kamu akan menikah dengan pria lain. Hanya boleh wajah, tubuh, dan diriku meski ada yang mirip tapi bukan Damar itu tidak boleh.


"Apa?"


Bram, menggelengkan tingkah putranya yang memulai.


"Siren, aku pamit dulu ya kamu jangan lupa cepat pulih, aku kangen kita kumpul. Aku merasa mual jika dekat suamimu, serasa ingin muntah mendengar perkataan terlalu."


"Heumph baiklah sayangku Mikha, kalian juga hati- hati ya!" balas Siren.


"Eits, Mikha ingat perkataan kau nanti, kau pasti akan mendapat karma jika mendapat suami yang benar mencintaimu dan memperjuangkan dan pastinya memang itu ada pada pamanku." lirik ke arah Hari.


Bruuugh.


Pintu rumah sakit tertutup dengan keras, Mikha sudah tak tahan mendengar suara tingkah suami sahabatnya itu.


"Dasar, jika bukan sahabat istriku sudah aku jitak Mikha itu."


"Hubby, sudahlah kamu dari tadi bicara apa,


aku lapar aku mau makan sesuatu."


"Benarkah, kamu ingin apa sayang?"


Bram, orangtua Siren pun kembali pulang, sehingga yang menjenguk sudah tak terlihat.


"Aku mau bubur kacang hijau, dan bubur ayam ter-enak buatan bi asih." ucap Siren.


Apa, baiklah kalau begitu aku kupaskan buah! kamu tunggu sebentar ya sayang, bagaimana aku buatkan sandwich untuk menunggu bi asih datang. Hingga Siren pun menurut.


Siren menatap suaminya yang kini selalu ia sayangi, meski sikapnya terkadang membuat orang lain ilfill, tapi ia merasa itulah sikap nya karena ia mencintainya, sehingga ia sangat menyukai jika Damar cemburu berlebih atau terkadang menjengkelkan. Rasa itu yang membuatnya nyaman dan terbiasa, jika sikap itu hilang, ia merasa Damar telah berubah.


semoga hati, jiwa perasaan Damar tak pernah pudar.


Hari berlalu, sudah seminggu Siren benar dinyatakan membaik dan kembali pulang,


ia menatap dan menyusui bayi Haico, sesekali ia memerah asi dan memompa asi. Tak sedikit Damar selalu siaga membantu.


Pertumbuhan bayi Haico, ia di rawat sudah satu bulan lebih dirumah sakit dan keadaan tubuh nya sangat cepat bertambah. Bahkan ia diperbolehkan pulang. Hingga sehari hari Siren sangat berarti dan lengkap akan hadirnya.


Hingga usia bayi Haico empat bulan, Bram tak lupa selalu membantu, acara syukuran dan aqiqah pun telah berlangsung dengan khidmat, meski bukan 40 hari.


Tapi karena keadaan membaik jadi baru bisa digelar acara syukuran dan aqiqah bayi Haico.


Di Rumah.


Bayi mungil.

__ADS_1


"Sayang lihatlah Haico seperti siapa tampan nya ?"


Heumph kenapa dia mirip seperti mu, mata indah dan hidung terlihat jelas hubby.


Iya, tapi lihatlah rambut keriting ikal lebatnya sama seperti mu.


Siren pun tertawa senyum bahagia. Karena miniature anak mereka tidaklah mirip semua seperti Damar, terlihat adil meski sepertinya akan lebih dominan Damar.


"Wah, cucu grandpa. Sangat tampan sekali sudah harum ya, sini opa peluk dan kita berkeliling taman ya."


Terlihat Damar pun senang, karena hadirnya bayi Haico membuat Dady Bram semakin kuat dan panjang umur tertawa banyak.


"Siren, Damar sayang, Haico Dady ajak dengan dua bodyguard ke depan keliling taman ya, Dady mau pamer akan cucu Dady yang tampan ini."


"Iya Dady, hati - hati!" ucap Siren.


Damar pun antusias, setelah kedua orangtuanya pergi. Ia memeluk istrinya


dari belakang, mencium pucuk rambut ketika Siren yang memakai dress dengan kancing belahan terbuka, dan terlihat jelas ia semakin seksi dan mempesona.


"Hubby, kamu lihat apa?"


Siren menatap mata suaminya yang jahil, bahkan Damar mendekat dan membopong istrinya ke kamar.


"Hubby kamu mau apa? jangan seperti ini malu!"


"Sayang, sudah lama kita tak berdua seperti ini. Jika malam Haico selalu mengganggu, Dady sepertinya membuat ruang anaknya untuk memanjakan istrinya keramas siang ini."


Siren pun tersenyum menahan rasa tawa, sehingga perut jahit an sedikit sakit jika ia tertawa keras.


"Kenapa kamu tertawa sayang?"


"Ak-aku hanya lucu akan ekspresi yang sudah lama tertahan hubby."


"Dasar istri nakal, aku akan membuat perhitungan untukmu, bisa bisanya mentertawakan suami tampan perfect ini."


"Hubby bagaimana sistem di eropa, apakah berhasil?"


"Sedikit alot, karena aku berada di ibu kota. Tapi akan aku selesaikan dan membawa kamu dan putra kita ke eropa. Aku akan membuat rumah sistem, dimana hanya ada keluarga yang bisa hadir, orang yang sedikit jahat dan picik, akan terdetek tidak bisa masuk. Itulah kemampuan ide ku bagaimana?"


Terdiam Siren, benar benar idenya pelajaran berharga dari keluarga yang di alami.


"Keren, kamu genius hubby."


Sudah tak bisa dipungkiri apa yang mereka lakukan, hanya reader bisa memahaminya.


author mau tutup mata, dan telinga tak mendengar apapun di saat Damar dan Siren menuju lantai satu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2