
Bram setelah menarik uang cukup besar, Elea diminta ikut ke sebuah gedung, sebelum ia memperkenalkan desa sengketa yang akan menjadi miliknya utuh. Terlebih dimana ia bekerja dengan bantuan system yang membuat dirinya kaya tanpa batas.
"Bram, apa aku tak apa ikut denganmu?"
"Kamu akan menjadi nyonya Bram, apa yang aku miliki dan lakukan. Kamu berhak tau El." senyum Bram, karena sangat jarang mereka bisa berdua.
"Tapi kita belum berganti baju?"
"Kita mandi dan berganti saja disana. Couple kalau perlu membeli yang termahal." ujar Bram, yang kali ini menyetir.
Menurut Bram, ia harus melaju pulang untuk berganti baju akan memakan waktu lebih lama. Maka dari itu Bram, akan membeli saja di gedung yang bisa sekalian ia numpang mandi atau salon sekalipun.
GEDUNG KRIME.
Semua kendaraan yang terparkir di tempat parkir gedung ini adalah mobil mewah bernilai miliaran keatas. Orang-orang disini juga berpakaian rapi dan parlente. Bram tampak seorang pengemis jika disandingkan dengan mereka, sangat tidak cocok berada di tempat ini. Tapi ia cukup punya banyak uang, jadi menurutnya tinggal tunjuk saja, beres.
"Maaf, kami tidak menerima pengemis di sini!"
Baru saja Bram, memasuki gedung hitop, gadis resepsionis cantik dengan setelan hitam, tengah berseru padanya dengan ekspresi merendahkan.
"Aku kemari bukan untuk mengemis" Bram, berkata dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kami juga tidak menerima penawaran produk-produk pertanian." Resepsionis cantik itu menambahkan.
"Aku kemari untuk bertemu seseorang."
"Bertemu seseorang? Siapa yang ingin kamu temui? Memang ada orang yang bisa kamu temui di tempat ini? Cibir resepsionis cantik.
Bram, tidak tahu siapa nama orang yang menelfonnya tadi. Dia hanya ingin tahu tentang pesan yang kristal sampaikan kepada pria paruh baya tersebut. Dia langsung melangkahkan kaki ke lift tanpa menghiraukan gadis resepsionis.
"Hei, ada apa denganmu? Sudah kubilang kamu tidak boleh masuk. Berhenti atau aku akan panggilkan satpam untuk mengusirmu!"
"Mbak, jangan seenaknya ya. Jangan lihat kami dari tampilan, kami juga ingin .." terdiam Elea, saat kekasihnya di hina lagi.
__ADS_1
"Sssst!" senyum Bram, memberi kode pada Elea.
Ting!
Pada saat ini pula, pintu lift tiba-tiba terbuka.
Bram, hendak masuk lift begitu melihat resepsionis mengejarnya.
"Aduuhh!"
Terdengar suara jeritan kecil dari dalam lift. Karena masuk dengan tergesa-gesa, Bram tidak melihat ada orang yang mau keluar dari dalam lift. Jadi, dia pun menubruk orang tersebut. Karena Bram, menerobos pergi saja dengan Elea meninggalkan recepsionis tadi yang tak ramah.
"Apa kamu tidak punya mata? Tidak melihat kalau di dalam ada orang?" Orang yang di dalam lift pun berseru.
Bram, mengangkat kepalanya melihat wanita di depannya, dia sontak tercengang.
Gadis itu berambut gelombang dengan warna merah. Tubuhnya mengenakan gaun ketat berwarna merah, tinggi semampai dan seksi. sepasang kaki indahnya terbalut stocking hitam dan mengenakan sepatu hak tinggi. Pakaian yang ketat menampakan bentuk bulatannya dengan jelas. Meski wajah cantik itu sedang marah, tapi tetap mempesona.
Gadis ini sedang memegang segelas kopi dan kopi tersebut kini tumpah di tubuh wanita itu begitu di tubruk oleh Bram.
"Maaf, aku masuk dengan tergesa-gesa dan tidak melihat ada orang di dalam sini." Sambil bicara Bram, mengambil tisu di samping lift dan hendak membantu menyeka kopi yang tumpah. Namun, ketika Elea membantu Bram, meletakan tangannya di bagian gadis cantik itu, semua orang disana terperanjat.
"Biar aku bantu mbak," raih tisue dari tangan Bram, Elea bantu.
"Hei. . . dasar pria itu hidung belang!" Gadis cantik itu menjerit secara refleks.
Dalam sekejap tujuh sampai orang satpam bergegas mendatangi Bram.
"Maaf. . . Aku tidak sengaja!"
"Mbak, lagi pula aku yang bantu bersihin kok." ucap Elea semakin kesal lagi.
Melihat para satpam sudah mendekat, Elea langsung mendorong gadis cantik itu keluar dan masuk ke dalam lift tanpa sempat mempertimbangkan hal lainnya. Dia kemudian langsung menekan tombol lantai 30. Saat para satpam tiba, lift yang dimasuki Bram sudah bergerak naik.
__ADS_1
"Manager Purnama, apa yang terjadi?"
Satpam bertanya dengan kebingungan pada gadis cantik itu.
"Tadi ada seorang pengemis yang entah muncul dari mana melecehkanku. Cepat tangkap orang itu. Aku harus membawanya ke kantor polisi. Kenapa diam saja? Cepat tangkap dia!" seru gadis dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi. . ." Kepala satpam itu tampak serba salah.
"Tapi apa?" Seru gadis cantik itu sambil mengerutkan dahi.
"Orang ini menuju lantai 30 tempat direktur Pratama. Direktur pernah mengatakan tidak seorangpun boleh ke lantai 30 tanpa izin darinya," jawab kepala satpam sambil menatap lift dengan tak berdaya.
"Haaah, seperti gembel ke lantai 30?"
Gadis cantik itu tertegun mendengar hal ini, lalu berkata lagi sambil menggertakkan gigi dengan emosi, "Oke... Kalau begitu tunggu di sini dan tutup semua pintu keluar gedung ini. Aku tidak percaya si brengsek itu tidak akan turun!"
Setelah memasuki lift Bram melihat tangan kanannya sendiri dengan tak berdaya. Elea meminta Bram, untuk mau berpenampilan lebih baik setelah ini. Bahkan melihat Bram di hina, Elea semakin tak tahan ingin memberi perhitungan.
Beberapa saat kemudian, lift berhenti di lantai 30.
Bram, berjalan keluar dari lift dan hanya menemukan sebuah ruangan kantor di lantai 30. Dekorasi di ruangan ini sangat mewah, dari tempat ini dapat terlihat seluruh kota Surabaya, pemandangannya luar biasa bagus.
"Bram, yakin ini tempatnya?"
"Iy benar, mengunjungi Tuan Ananda Pratama, ia akan bisa membantu kita menyelesaikan tanah sengketa jadi hak milikku." jelasnya.
Tlith!
[ Undangan Tio dan Via. Bram, hadirlah undangan pertunangan anak pertama saya! ] pesan pak Hartawan. Mantan bos nya itu saat di resto.
"Kenapa? tanya Elea. Bram pun menunjukan, ia tahu apa yang harus Bram lakukan membalas mereka.
"Aku takut mereka akan mempermalukanmu, sebaiknya kita langsung ke desa aja."
__ADS_1
"Tak perlu khawatir El, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Barangkali, Hari adikku juga akan datang." seringai Bram dengan nada kesalnya.
Tbc.