
Di ruang lain, Bram yang kala itu sedang membicarakan manajemen Production peninggalan sang mama, tiba saja putranya Damar meraih tangannya seolah rewel.
"Daddy turun," rengek Damar.
"Jangan, Boy. Di sini ramai, nanti kamu terpisah dari Daddy," tolak Bram.
Merengek pelan, Damar terisak namun mengeratkan rangkulannya pada leher Bram Ketika rewel, Damar justru menempel erat dengannya.
"Mungkin, putra anda akan nyaman jika berada di ruangan anda Tuan," kata Randu menatap sendu pada Bram. Dia tahu, tidak mudah menjadi orang tua tunggal untuk anak semenggemaskan Damar.
Membayangkan punya kantor semacam ini saja, tidak berani Bram lakukan. Ini, Dayana menyiapkan segalanya dengan detail bahkan ruangan khusus untuknya. Yang kala itu Bram ditinggal pergi sejak kecil, ternyata sang ibu sudah mempersiapkan untuk masa depannya sebagai penerus. Kekayaan yang Bram miliki, seorang bingung untuk diapakan. Hatinya terasa sunyi, kehilangan orang yang ia sayangi, pertama sang mama, dan kedua Elea istri tercintanya, rasanya hampa namun kuat ketika Damar ada.
Detak jantung Bram sesak, matanya terasa panas. Apa yang sudah dia berikan dan lakukan untuk sang ibu, padahal ibunya sangat memikirkan kehidupan dan masa depannya.
Tidak tidak, Bram tidak boleh membalas dendam pada Tjandra. Akan tetapi Bram, hanya ingin semuanya berjalan semestinya. Mereka yang bersalah mendapat hukumannya.
Apa yang dia dapatkan saat ini, lebih dari yang Tjandra ambil darinya.
"Mama, Bram janji kepada Mama. Bram akan menjalani hidup dengan lebih baik tanpa menanggung dendam," batin Bram.
Setelahnya perasaan Bram jauh lebih ringan dari sebelumnya.
"Silahkan Tuan."
Di hadapan Bram, sebuah pintu berwarna cokelat kayu dengan ukiran namanya.
Bram Hartanto.
__ADS_1
BI Production.
Bram, Art Production.
Sudahlah, Bram tidak mampu menanggung rasa haru. Jatuh berlutut dengan Damar, dalam pelukannya, bahunya bergetar.
"Mama," bisik Bram perih.
"Daddy huuwaaaaa." Seolah merasakan kesedihan sang ayah, Damar menangis dengan kencang.
Randu hanya mengangguk berkali-kali, sambil memberikan tatapan mengancam pada bawahannya. Yang menengok hendak berkerumun pada keributan yang dibuat oleh Damar dan Bram.
"Mari masuk, Tuan." Kenan membukakan pintu untuk Bram, meski dia memahami perasaan atasannya. Tetapi, agak risih juga melihat orang-orang memandang penasaran terhadap mereka.
"Ah ya. Benar," sahut Randu. Sebenarnya dia paham dengan sikap pemilik BI tersebut, tapi ayolah. Seluruh artis di pH tersebut pasti akan menganggapnya drama.
Bram berdiri sambil menenangkan Damar yang masih rewel.
"Daddy kenapa nangis?" tanya Damar di sela tangisnya sendiri.
Bram terkekeh melihat tingkah putranya, dia jadi sadar jika sudah bersikap seperti anak kecil.
"Daddy cuma bercanda. Lalu, kenapa Damar menangis?"
"Damar karena Daddy nangis," kata Damar tersendat-sendat.
Randu yang sejatinya pengelola sekaligus tim kreatif, jelas merasa tersentuh oleh apa yang tengah dilihatnya.
__ADS_1
Membuang muka karena takut ketahuan berkaca-kaca, tatapannya justru bertemu dengan tatapan Kenan. Nyatanya meski bersikap seperti patung, mata pria itu juga berkaca-kaca.
Randu jadi ingin mentertawakan pria datar itu.
Setelah membujuk dan menenangkan Damar, sampai-sampai Randu harus memboyong mainan anak-anak dari studio bermain.
Mereka bertiga duduk berdiskusi dengan tenang, sambil memperhatikan Damar yang sedang bermain.
"Di sini pelan-pelan, mulai dari studio. Ruangan artis, tempat make up, wardrobe. Kita punya sendiri," kata Randu. Sebenarnya dia ingin membawa bosnya itu berkeliling, tapi sepertinya suasana hati sang atasan sedang tidak memungkinkan.
"Terimakasih untuk kerja keras, kesetiaan, dan dedikasi kalian selama ini," ungkap Bram tidak bisa menutupi perasaannya.
Sungguh Randu masih normal senormal-normalnya, bahkan dia memiliki seorang kekasih. Tetapi kenapa saat mendapat pujian dari Bram, dia tersipu. Padahal pujian itu untuk seluruh orang yang bekerja keras dalam BI Production.
"Hari ini, saya genap berusia tiga puluh dua tahun. Dan ini kado terindah yang diberikan dari almarhum mama buat saya." Sungguh, bahkan mungkin, tidak ada yang tahu jika saat ini dia ulang tahun.
Tetapi, papa dari Elea itulah yang berperan sangat besar dalam membentuk Bram yang sekarang, yang dahulu begitu membencinya dan melarang keras hubungannya dengan putrinya.
Tanpa beliau, jelas Bram bukanlah apa-apa.
Di sisi lain.
"Aduh panas banget sih, gini banget yak. Hidup tanpa privilege dari orang tua, tapi percuma juga dapet privilege kalau hasil ngembat punya orang," gerutu seorang gadis yang tengah berpanas-panasan untuk ikut audisi pencarian talenta baru dari sebuah rumah produksi.
Terkesiap, Bram menatap seorang wanita dari ph tersebut, dibalik jendela! membuat mata Bram, tertuju pada Kenan untuk menangani keributan para artis dari ph yang sedang kontes.
TBC.
__ADS_1
Sambil Tunggu Up! Yuks, mampir temen litersi Author.