
Kode scan akhirnya berhasil, setiap misi yang ia jalankan. Ia selalu mendapat hadiah tak terduga, belum lagi cek satu miliar yang dalam proses ke rekeningnya memakan waktu tak sebentar.
Dan saat ini, ia antar ke alamat yang sesuai. Ia mendapat kode slot timun emas, dan berhasil mendapatkan sebuah tips sebesar 5.000.000 juta rupiah.
'Jika seperti ini, aku pasti akan kaya. Tidak ada yang sangka, pengantar box delivery yang dihina orang. Setiap harinya menghasilkan jutaan rupiah setelah mengantar pesanan. Timun emas pembawa keberuntungan. Bagaimana bisa, harga satu kg senilai 8.000.000 rupiah, dan ia dapat tips sebesar 5.000.000 rupiah.'
Bayangkan jika satu orang, jika sehari mencapai puluhan hingga ratusan. Bukankah Bram, akan menjadi pria muda terkaya, miliader di usia muda.
Tling!!
Bram terkejut, kala ada satu pesanan timun emas seharga 8.000.000. Anehnya itu adalah masih sanak keluarga Elea, yang tak lain beberapa saat lalu, Elea memintanya datang untuk Bram berjuang di depan orangtuanya.
‘[Uang sebesar 1 miliar rupiah akan segera di transferkan ke rekeningmu. Bersiap-siaplah!]’
BRAKKK!
Itu adalah kali kesekian pagi itu Bram, menerima pesan aneh semacam itu lagi, sehingga dia kesal bukan main. Saking kesalnya, Bram sampai kehilangan konsentrasinya, karena cek satu miliar itu ia lupakan dan bonus puluhan jutalah yang cepat masuk di rekeningnya sebagai bonus tips pengantar paket tepat waktu.
'Rumit sekali sih, mengklaim satu miliar.' gumamnya.
Tanpa sengaja dia menyenggol sebuah guci besar yang menyebabkan guci itu roboh mengenai yang lainnya dan guci-guci itu pun pecah.
Bram mematung beberapa saat. Dia tahu dia telah melakukan sebuah kesalahan yang tak termaafkan.
Menghela napas, Bram berusaha tak memikirkan konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya itu. Dia lalu kembali mengecek pesan-pesan yang masuk ke ponsel bututnya itu. Pesan-pesan itu dikirim melalui sebuah aplikasi yang belum pernah dilihat Bram sebelumnya. Dia juga tidak ingat pernah menginstall aplikasi tersebut.
[ Aplikasi terbaru, pelajarilah Bram! ] pesan Ruslan.
Mendengar suara benda yang terjatuh, memancing Dina, ibu dari Elea untuk keluar kamar. Dan seketika tubuh Dina lemas saat melihat pecahan guci berserakan di lantai.
“Bram! Apa yang kamu lakukan sama guci-guci kesayanganku?!” teriaknya dengan mata yang melotot.
__ADS_1
Bram terkejut dengan kedatangan Dina. Raut muka dan gestur tubuh Dina menunjukkan kalau dia siap melakukan hal buruk terhadap Bram.
Dan benar saja, ibu Elea itu memang bermaksud menamparnya dengan keras.
Refleks, Bram menahan tangan yang mengarah ke pipinya itu. Dan tanpa dia sadari, dia memegang tangan calon ibu mertuanya itu sedikit terlalu keras.
“Lepaskan! Kamu ini kurang ajar sekali, Calon Menantu Sampah, pria seperti ini yang di pertahankan putriku!” bentak Dina.
Menyadari kalau genggamannya terlalu keras, Bram pun melepaskan tangan Dina. Dia sendiri tetap berdiri tegak, menunjukkan kalau dia siap membela diri.
“Maaf, Tante, tadi tak sengaja kesenggol, dan guci-guci ini jatuh….”
“Diam kamu! Aku tidak mau dengar apa pun darimu! Mendengar suaramu saja aku sudah muak!” potong Dina, satu tangannya menunjuk tepat ke depan muka Bram.
Mendengar keributan tersebut, Elea kekasih Bram, keluar dari kamarnya. Dari arah dapur, datang kakaknya Elea yang bernama Arina.
“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya Arina.
“Ya ampun, ini guci-guci yang mama waktu itu berburu sampai keluar negeri, kan? Yang limited edition itu!” tanggap Arina berlebihan, membuat emosi Dina semakin menjadi-jadi.
Bram melirik Arina. Sedari dulu dia tidak menyukai Bram ini. Wanita itu selalu bereaksi berlebihan. Lebay!
“Maaf. Nanti pasti aku ganti,” ucap Bram, lalu menoleh ke arah Elea.
“Hah? Apa kamu bilang? Mau ganti? Uang dari mana? Bahkan kamu jual ginjal pun kamu nggak akan bisa ganti! Guci-guci ini harganya sangat mahal loh!” Dina kini sampai berteriak saking kesalnya.
Mendapati hal ini, Elea menghela napas.
“Udahlah, Ma. Nanti kalau Elea ada rezeki, aku ganti. Atau Elea beli guci-guci yang baru,” ucap Elea, berusaha menengahi.
“Diam kamu, Elea! Lelaki tidak berguna seperti ini tidak layak untuk kamu bela! Heran deh, apa sih yang kamu lihat dari dia? pengantar paket yang paling setiap hari hanya memegang dua puluh ribu rupiah. Kamu bela bela sampai mati hah?!"
__ADS_1
Kini giliran Bram yang menghela napas, lalu menggelengkan kepala.
Bram, menatap Elea. Kalaupun dia masih menahan diri dari membalas hinaan-hinaan tadi, itu karena dia menghormati Elea yang memanggilnya. Selama ini Elea tak pernah menghinanya, dan tadi baru saja wanita itu membelanya. Bram kini berharap Elea melakukannya lagi.
Namun, ternyata, Elea tidak membelanya seperti tadi. Dia hanya menghela napas. Kekasihnya itu terlihat lelah dan malas mengurusi masalah ini.
“Kamu mau pura-pura tuli, hah? Apa perlu aku berteriak persis di samping telingamu?! Sana cepat pergi!” bentak Dina lagi, ibu Elea muak.
Elea masih diam. Lalu, dengan sorot mata seperti api yang nyaris padam, dia balik badan dan kembali ke kamarnya.
"Bram, letakkan saja paket itu di samping. Kita bicarakan lagi nanti ya! Papaku sedang tidak ada, tadinya aku sekalian mau bicara sama papa soal hubungan kita."
"Baik, aku pamit Elea. Terimakasih atas pesanan ini."
"Ya! Itu milik pesanan pamanku, sebentar lagi juga datang. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu Bram." pergi begitu saja Elea.
Bram merasa sesak, seperti baru saja ditikam pisau atau tombak. Sakit sekali. Sesak.
“Apa lagi sih yang kamu tunggu?! Cepat tinggalkan rumah ini, Sampah!” hardik Dina lagi.
Bram mengepalkan tangannya. Cukup sudah. Kalau memang dia harus pergi dari rumah ini, toh dia pasti akan pergi, setelah mengantar pesanan atas nama Abey, paman Elea.
'Pesanan apa sih, sampai sampai pria kotor itu yang antar injak rumah kita. Pasti banyak kuman itu.' gerutu kakak Elea.
”Akhirnya pecundang ini mengerti juga. Baguslah! Asal kamu tahu, ya, adikku tak butuh pecundang sepertimu. Dia cukup cantik untuk bisa mendapatkan calon suami seorang pria kaya-raya yang bisa diandalkan, bukan pria miskin menyusahkan sepertimu!” cerocosnya, ketika Bram berjalan menuju pintu.
Bram mendengarnya, tapi dia tak peduli. Sudah dia putuskan, detik ini juga dia tak akan menemui Elea, jika bukan karena pesanan yang masuk dari ponsel pintarnya. Tak sangka itu adalah rumah milik paman Abey, yang saat itu juga Elea dan keluarganya tidak tinggal di apartemen yang pernah ia antar makanan saji.
Tling!
Satu pesan, membuat mata Bram terkejut begitu saja.
__ADS_1
Tbc.