Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KETAKUTAN MEREKA


__ADS_3

CLANG ....


Dua senjata tajam saling bertemu, tercipta suasana nyaring yang membuat bulu kuduk merinding. Meskipun ukurannya mini, tetapi mampu menahan pisau yang jelas-jelas ukurannya jauh lebih besar. Bukan belatinya, tapi tenaga dalam yang telah dilatih selama inilah yang sudah menahan serangan.


Bram menyeringai, sementara pria yang dianggap pemimpin kelompok itu tampak mengerutkan keningnya, yang disertai senyuman kecut.


Sebelum pria itu sempat menelaah situasinya, Bram sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya. Pria itu membulatkan mata pada detik itu juga. Namun, ia kalah cepat dari Bram.


BRUK!!


Aarggh!!


Tendangan keras dilayangkan Bram, di bagian bawah pria itu. Alhasil tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang, sambil memegangi kepunyaannya yang cenat cekat akibat terkena serangan mendadak. Sakit yang tak tertahankan, membuat ia sedikitnya meringis menahan nyeri.


Mereka yang menyaksikannya pun dibuat bergidik ngeri, sambil memegangi benda keras yang letaknya di apit kedua paha. Bagaimana tidak ngilu? Benda pusaka sebagaimana menjadi masa depan dikalangan Adam itu, harus mendapatkan serangan brutal, mereka yang memilikinya pasti akan ikut merasakan hal serupa karena bisa saja tendangan itu mengenai diri mereka, karena Bram dianggap pria tikus salah kandang berani menunjukan wajahnya seorang diri.


"Hei, kalian! Jangan diam saja. Cepat serang dia!" seru yang disertai perintah itu terdengar nyaring, keluar dari mulut pria yang baru saja kalah telak dari Bram, dengan menahan sakit memerintah.


Tanpa menunggu lama lagi keempatnya langsung mengepung Bram dari segala sisi. Setiap orang membawa senjata di tangan masing-masing. Mereka tidak lagi menganggap remeh pemuda yang kedatangannya bahkan tidak menyebutkan nama.


Bram, memutarkan tubuhnya 180 derajat secara cepat, memandang satu persatu orang-orang dari organisasi Naga Buaya tersebut.


Belati kecilnya diayunkan dengan tempo cepat. Melakukan serangan ke sembarang arah guna memberi perlawanan pada mereka yang telah datang mengepung.


"Maju kalian semua!"


Seruan dari Bram, langsung mendapat tanggapan dari mereka yang disebut-sebut sebagai Mafia paling ditakutin.


Keempatnya segera menyerang Bram dalam satu waktu. Gerakan seperti melahap itu acap kali mereka gunakan untuk membuat lawan mereka tak berdaya.

__ADS_1


Bram merunduk. Tubuh kecilnya tak mampu terlihat dari luar. Pria yang dianggap pemimpin dalam kelompok itu tampak sumringah lantaran si pengacau telah lenyap dari muka bumi ini untuk selama-lamanya.


"Yaaaachhh!!!"


BRAAAKKK ...


"Aaaaa!!!"


Hal yang diluar dugaan terjadi di sana. Keempat pria dewasa itu terpental beberapa meter dari sisi Bram. Mendapatkan dorongan dari belati miliknya, yang telah dialiri tenaga dalam dan bantuan system yang melindungi kulit Bram dari sengatan benda runcing dan tajam membuat Bram bisa terluka. Tentu saja sebelum Bram datang, bukan hanya beladiri saja yang ia punya, ia bekali menatap mafia palsu, melainkan bantuan system yang terkendali oleh Kristal dalam suatu tempat dengan auto fokus menyerang membantu Bram di ruangan kedap.


Pemimpin mereka yang posisi berdirinya agak jauh sampai terbelalak dengan mulut yang menganga.


Bram, menyeringai. Selama ini dirinya dianggap Mafia Kelas Kakap, Namun, pada kesempatan kali ini, dia telah membuktikan bahwasanya ucapan mereka salah besar.


Dia mengakui, julukan 'Mafia Kelas Kakap.' memang benar adanya, tapi itu dulu empat tahun yang lalu. Pada akhirnya dia sadar kalau potensi yang ada padanya dapat berkembang andai mau berusaha dan berlatih dengan giat, niscaya kemampuan itu akan bisa tumbuh lebih kuat.


Uhuuuuk Uhuuuk!!


Empat dari mereka jatuh duduk, terlempar dengan berdarah berdarah. Salah satunya mendekat ke arah Bram dengan tatapan tajam.


"Akhiri atau semua ini tidak berakhir begini saja, apakah kaya dengan memalak bisnis orang! kalian senang? Tidakkah kalian bekerja keras, ketimbang berpura pura menjadi MAFIA PALSU ...?"


"Stop! Kau kurang aja bocah tengik."


"Jika aku bocah, aku tidak akan bisa melawan anak buah kalian, yang mungkin ke empatnya akan lumpuh, karena tulang ekornya pecah! Hentikan, atau aku akan seret kalian ke jeruji besi ditahanan paling rendah! Kau tahu, makanan ba-biie sekalipun yang kalian makan, bahkan buang air ditempat satu sel sepuluh orang. Bagaimana ..?" ujar Bram mengancam pria jangkung, yang dianggap itu adalah bos dalangnya.


Hasil dari buah latihan disiplinnya selama bertahun-tahun telah membawa Bram pada system pada era baru, tidak hanya sebuah misi delivery bahkan kekuatan bela dirinya membuat Bram akan disegani pada pesaingnya kelak. Jika ada yang dengar nama Bram Hartanto, maka tak seorang pun dari mereka pesaing, berani menyinggung.


"Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu mengalihkan kami?"

__ADS_1


"Bram Hartanto. Apa masih kurang jelas, bisa searching siapa nama Bram Hartanto saat ini juga!"


Pertanyaan kecil yang langsung dijawab oleh Bram, "Kalian semua tidak perlu tahu siapa aku karena bukan waktunya kalian mengetahui identitasku. Sekarang, kedatanganku untuk membalas semua yang telah kalian ambil dariku! Kau dalang Hacker mencuri 200 miliar uangku, kembalikan tanpa satu sen pun tersisa!"


"Kedua menjauhlah dari bisnis milik Bram Hartanto, bahkan anak perusahaan yang saat ini dibangun! Jangan pungli di depan mengatasnamakan mafia kelas kakap! Jika tidak, kalian akan tercengang aku akan membawa kalian kemana saat ini juga."


Suaranya yang mengandung tenaga dalam agaknya sedikit membuat mereka berlabel Organisasi Naga Buaya itu bergetar.


Bram menyukainya. Ya, dia sangat senang dan merasa puas, lantaran telah berhasil membuat setidaknya satu kelompok kecil dari Organisasi Naga Buaya tak berkutik.


"Kau tentu tahu kami siapa?"


Pertanyaan yang dilontarkan pria bermata sayu itu, bukan membuat Bram takut, melainkan tertawa geli.


"Dasar bodoh! Pertanyaanmu salah!" dengus rekannya, sambil memukul kepala belakang si Mata Satu.


Bram semakin di puncak angin melihat mereka berdebat dan saling menyalahkan satu dengan yang lain.


Namun, tawanya itu telah mengantarkan Bram ke jurang kehancuran. Kesombongan yang dihasilkan saat dirinya merasa hebat, telah membuat Bram tidak lupa, kalau dirinya berada di Padang Savana yang dikelilingi oleh ratusan singa kelaparan yang ingin meraup uang miliaran atas jerih payah Bram saat ini.


Salah satu orang seraching nama Bram Hartanto, ia menatap tajam kala ia adalah pendiri rumah sakit Mr Taylor, Apartement Libix One. Bahkan gedung pencakar langit, serta desa Sengketa yang saat ini dibangun lima kantor penelitian telah terpampang nama Bram Hartanto.


Klik!


Bram segera mencari mata tujuan sebuah tombol, sementara lima pria itu terlihat gusar kala Bram menampilkan sebuah layar. Layar yang menampilkan mafia palsu dengan kebanyakan kejahatan. Sehingga mereka terlihat takut apa yang saat ini mengancam jiwa mereka benar benar dalam jeruji besi.


"Hentikan, tolong maafkan kami!" ujar rekan satunya yang terlihat takut.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2