
Sementara Elea, dalam kegiatan sibuknya kuliah, dan meluangkan waktu ke kantor bisnis Bram. Elea tak yakin dengan apa yang ia lihat, karena saldo debet terpampang rumah sakit Buana Center. Elea terus memperhatikan, bagaimana bisa kartu yang Elea simpan di lemari. Hilang dan saat ini di pergunakan membayar tagihan.
Elea segera menghubungi Kristal, tapi tak ada jawaban. Sehingga ia mengambil kunci mobil dan jaket tasnya. Elea, menyalakan gps dari ponselnya, menuju alamat rumah sakit Buana Center yang ada di aplikasi milik id Bram! yang ia tahu itu adalah rumah sakit swasta yang terkenal penanganan dan tidak murah.
'Aku harus pastikan, apakah itu kamu Bram. Kenapa selama ini kamu bersembunyi, apa begini caranya kamu menggantungku.' sedih Elea.
Beberapa saat lalu, memang Elea sempat terpuruk ketika Bram dinyatakan hilang dalam jurang bersama mobil mewahnya. Hanya beberapa potongan mobil rusak Bram yang ada disana, dan dalam waktu dua minggu ada jenazah yang Elea rasa itu bukan Bram. Pada saat itu paman Hartawan alias papa dari Bram, tidak yakin itu adalah jasad putranya. Bersikukuh putranya masih hidup saat terbang dari Eropa.
Namun seiringnya waktu Bram yang berniat melamarnya, tragedi kecelakaan terjadi. Berkali kali kedua orangtua Elea meminta Elea menikah dengan pria lain. Tapi Elea bersikeras tidak ingin menikah selain dengan Bram, meski ia harus menjadi lajang seumur hidup pun, Elea tak mampu melupakan Bram begitu saja. Apalagi kebaikan dan ketulusan pria seperti Bram, sulit Elea dapatkan.
Dalam beberapa puluh menit, Elea berputar sekitaran jalan Buana Almajaya! Yang sebentar lagi sudah akan berada di rumah sakit Buana Center.
Tlith! Nada dering.
Hal itu membuat Elea menyingkirkan mobilnya, ia segera menerima panggilan dari dokter forensik yang mungkin saat itu Kristal sedang lakukan penyelidikan pada otopsi jenazah ulang Bram yang tinggal belulang.
Elea segera memarkir untuk masuk ke rumah sakit, tapi saat itu ada petugas yang bilang. Jika rumah sakit tutup sementara empat jam kedepan. Terkecuali keluarga pasien yang dirawat dipersilahkan masuk, itupun tidak lebih satu orang pendamping.
"Pak, tolong saya ingin masuk. Saya ingin mencari seseorang, boleh ya pak. Saya janji ga akan lama."
"Apa ada id card Buana Center. Semua data keluarga pasien harus menampilkan kartunya. Jika tidak ada, mbak bisa mendaftar di belakang rumah sakit ini untuk pendaftarannya. Tapi harus pagi ya mbak."
"Pak, saya punya rezeki sedikit. Izinkan saya masuk ya?!" penuh harap, Elea menyodorkan beberapa lembar uang merah tapi di tolak mentah.
"Mbak, ini rumah sakit untuk merawat pasien. Sudah saya bilang, kalau mencari orang hilang lebih baik ke kantor polisi. Saya juga sedang tugas mbak, anak saya lima. Bini saya tiga, kalau di phk. Mbak mau tanggung jawab?" cetus Satpam, dan menarik pagar kuning pembatas, agar yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk.
Gleeuuk!! Elea menelan saliva.
Elea dengan kesal, ia memutar arah. Menenangkan pikiran bagaimana caranya ia bisa masuk diam diam, secara ia harus mempunyai identitas rumah sakit swasta ini.
__ADS_1
Ssiiiet! 'Gimana aku bisa masuk, aku yakin itu kamu Bram.' batin Elea, yang sudah tidak sabar bertemu Bram, bukan hanya kejelasan saja. Melainkan ada hal yang harus ia katakan sesuatu penting padanya.
DI KANTOR TB GOLD.
Sementara Hari, saat itu baru saja datang bersama mama inggrid. Ia yang sudah sehat tapi masih dalam bantuan roda, sampai di kantor ruangan Bram yang saat itu sering Elea duduki.
"Mah, jangan ke ruangan itu. Disana banyak berkas kak Bram, yang ditangani kak El." ujar Hari.
"Kamu bodoh ya! Kamu kan bisa gantikan Bram, selama dia tak ada. Anak itu pasti sudah tidak akan kembali, kalau perlu kamu dekati Elea. Lalu minta nama perusahaan Elea saat ini di rubah jadi milik kita. Bram itu kakakmu, harusnya seluruh miliknya punya kamu dong." cetus Inggrid.
"Mah, ayolah jangan membuat masalah. Kak Bram sudah baik dengan kita, bahkan Club lightdark saja yang di rusak, baru 40% dibangun. Bagaimana aku bisa menjalani bisnis lamaku mah. Uang tabungan Hari, tidak sampai ratusan untuk membangun sisanya."
"Harusnya kantor penelitian itu dijual, itukan pakai uang Bram. Buat apa di urus jadi milik Elea, dia kan bukan istri Bram. Baru jadi calon udah menguasai." cercah Inggrid yang masih kesal, karena Bram bisa kaya dan membeli aset, bisa bisanya dengan kuasa atas nama Elea kekasihnya yang belum halal.
Terlebih hubungan Inggrid dan pak Hartawan sedang tak baik baik saja. Papa dari Bram, dan Hari sedang terlibat perselisihan. Apalagi Hartawan menggugat inggrid dan terancam bercerai. Yang saat ini sedang diurus kuasa hukum mereka masing masing.
"Kalian disini?" ujar Seseorang, membuat Hari dan Inggrid menoleh.
***
-- Rumah Sakit --
Sementara Bram, yang saat ini berada di rumah sakit. Ia segera menghampiri para suster disana.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Dokter sambil mengikis jarak sama lain.
"Tolong, anak ini, Dok. Dia terluka sangat parah, wajahnya babak belur, Dok," balas Bram, yang mengikuti arus gaya si utusan langit.
"Perawat!" Dokter memanggil petugas medis yang memang sedang berjaga di sana.
__ADS_1
Seorang wanita cantik berseragam biru muda itu mendatangi Dokter setelah mendengar panggilannya tersebut.
"Ya, Dokter Oliv," sebutnya gamblang dan bisa didengar jelas oleh Bram.
"Dokter Oliv?" gumam Bram, agak heran namanya mirip Oliver si utusan langit yang sering menyamar.
"Cepat siapkan ruangan ICU. Aku akan memeriksa kondisi pasien ini."
"Baik, Dokter." Perawat itu segera pergi mengikuti perintah dari pria dengan tinggi sekitar 188 cm itu.
Suasana rumah sakit terpantau cukup sepi. Bram memperhatikan sekitarnya yang tidak ada satupun orang di sana.
Setelah puas matanya mengedar dalam beberapa menit, kini pandangannya jatuh pada sosok pria di hadapannya. "Mengapa rumah sakit ini sepi, di mana orang-orangnya? Tidak biasanya tempat seperti ini sepi."
Dokter Oliv yang sudah bisa menebak pertanyaan ini akan keluar dari mulut Bram, memilih untuk memalingkan wajahnya, memandang langit-langit sambil bersiul, berlagak seakan-akan tidak mendengar pertanyaan tersebut.
Diacuhkan seolah tidak pernah ada, membuat Bram sedikit berpikir bahwasanya setiap insiden yang terjadi pada dirinya, semata-mata hanya permainan belaka.
Dirinya bertindak sebagai boneka dan Olive adalah dalang atau sutradaranya. Rumah sakit beserta orang-orang yang menjadi penghuninya telah disetting mengikuti perintah Olive, selaku produsernya.
Tanpa banyak bicara, Bram pun membawa remaja dalam gendongannya itu ke ruang ICU, seperti yang sudah dokter Olive katakan sebelumnya.
"Mari Tuan!" Perawat itu datang kembali untuk menunjukkan jalan pada Bram, letak ruang ICU-nya.
"Ya! Aku bisa jalan sendiri!" balasnya acuh tak acuh, tanpa sedikitpun memalingkan muka pada Perawat itu, maupun dokter Oliv yang berdiri sejajar dengannya.
Sementara sang dokter sudah tahu, jika pikiran Bram saat ini, ia bukanlah dokter asli. Melainkan si utusan langit bernama Oliver Kristalion yang sedang menyamar menjadi orang medis.
Tbc.
__ADS_1