Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
ISTRIKU SAKIT


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan Bram?" tanya Elea setelah keduanya melakukan pemeriksaan rutin pada kehamilan Lena, beberapa hari lalu, setelah Kristal mengutarakan kebenarannya.


"Kita tidak bisa melakukan apa pun sayang," jawab Bram, mengusap perut Elea yang sudah sedikit membuncit, karena Bram dan Elea juga sedang menantikan anak mereka lahir, tapi adanya masalah.


Tepat saat kehamilan Elea menginjak bulan ke tiga, dokter memvonis wanita itu menderita kangker otak.


"Jangan katakan pada papa ya, Bram. Atau kamu nanti bilang sama papa kalau aku yang merahasiakan penyakitku. Aku ingin melahirkannya anak kita Bram, aku tidak ingin kehilangan dia," bisik Elea mengusap perutnya dengan posesif.


Bram bisa apa, jika dia melakukan radiologi pada penyakit Elea. Itu akan mempengaruhi kondisi janin, Bram tidak mau itu terjadi. Belum lagi masalah timbul, Hari menghamili wanita yang notabane keluarga Tjandra sedang di selidiki atas kasus belasan tahun lalu.


Maka, mau tidak mau Bram mengalah. Dia menuruti keinginan Elea, sepanjang sisa hidup yang Lena miliki. Bram memperhatikan dan memperlakukan Elea dengan baik, sampai tanpa mereka sadari kisah sandiwara yang mereka lakoni. Berubah menjadi kisah nyata, baik Bram maupun Elea merasakan cinta yang semakin kuat, Bram tidak ingin kehilangan Elea dikala guncangan badai, jika Elea dinyatakan sakit kangker stadium awal.


Mau tidak mau Bram tetap bersikap seperti biasa, dia lelaki. Jadi harus lebih tegar sekalipun kenyataan membuat seluruh pertahanannya runtuh.


Sedangkan Elea menangisi Bram, karena baru saja mereka benar-benar saling mencintai. Justru dia akan meninggalkan pria sebaik itu ditambah beban seorang anak yang mereka harapkan.


Mengernyit menahan rasa sakit yang membuatnya merasakan kepalanya seolah terbelah, Elea menatap Bram penuh bahagia.


Dengan wajah pucatnya, Elea menyatakan perasaan cinta yang begitu dalam pada suaminya itu.


"Maaf menyakitimu selama ini suamiku, maaf aku meninggalkan luka dalam dan beban untukmu nantinya--"

__ADS_1


Bram meletakkan telunjuknya pada bibir Elea, dia tidak ingin mendengar permintaan maaf dari istrinya. Dia hanya ingin mendengar kekehan tawa wanita yang terbaring lemah di ranjang.


"Cukup hanya terima kasih, aku sangat mencintaimu Elea. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku yang berantakan ini," gumam Bram, dengan suara gemetar.


"Kamu yang terlalu luar biasa, Mas. Kamu luar biasa karena mau menerimaku yang tidak layak untukmu, aku adalah gadis dari seorang supir yang kamu perjuangkan." lirih Elea, hampir berbisik.


Mau tidak mau, Bram memberitahu perihal sakit yang diderita Elea pada sang papa dan papa mertuanya, yang tetap tegar meski nampak jelas kesedihan di wajah tuanya.


Namun melihat rasa cinta yang tulus dari Bram dan Elea, setidaknya dia bisa tersenyum. Anaknya dicintai dengan begitu besar, oleh orang yang baik pula.


"Beri dia namamu, jika sudah lahir nanti, ya," pinta Elea, disela rasa sakit yang semakin tak tertahankan.


Dua bulan berjuang menahan rasa sakit di kepala, tanpa obat tanpa bantuan apa pun. Semuanya dia lakukan demi bayi yang dia kandung.


Keduanya tidak bisa melakukan USG untuk mengetahui keadaan bayi atau posisinya. Sebab proses seperti itu bisa mempengaruhi kesehatan Elea.


Bram hampir lupa dengan kisah Hari, dan Lena dari keluarga Tjandra. Saat ini di tengah kesuksesannya, ia harus berjuang Elea yang sakit tengah hamil juga. Hingga melupakan hari yang berganti setiap harinya. Bram pun membawa Elea ke rumah sakit. Meski kala itu, Kristal dan Lena menghubunginya dan memberi pesan, menanyakan keberadaan Hari dimana saat ini.


Rumah Sakit.


"Operasi caesar harus segera dilaksanakan, Pak. Ini dilakukan untuk menyelamatkan keduanya, jika kami bisa. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," ujar sang dokter setelah memastikan perkiraan lahir dari bayi yang dikandung Elea lima sampai enam bulan lagi.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi Bram?" Heru, menatap lekat pintu ruang operasi yang menelan cucunya.


Bram kesulitan bicara, dia berusaha menelan bulat-bulat kesedihan yang bersarang di tenggorokannya, saat mendapat pertanyaan dari papa mertuanya itu.


"Tiga bulan lalu, saat kami melakukan pemeriksaan rutin pada kehamilan Elea. Sekalian melakukan rontgen pada kepala Elea, beberapa bulan terakhir dia mengeluhkan kepalanya yang sakit sepanjang hari. Lalu dokter menyatakan kalau Elea menderita kanker otak pah. Maaf kan Bram!" jelasnya penuh derita.


"Kenapa tidak memberitahu papa sebelumnya?" Heru tidak menyalahkan Bram, dia paham betul sifat mantunya. Jelas putrinya yang melarang Bram untuk mengabarkan hal itu padanya.


"Elea tidak ingin papa sedih, dia juga ingin mempertahankan kandungannya. Dia tahu pasti jika dia menjalani kemoterapi, itu akan mengorbankan janin yang dia kandung."


"Kalau begitu kita bawa Elea ke belanda, di sana banyak pengobatan canggih Bram!"


"Baik, Bram segera mengurusnya." pamit Bram, dengan raut sedih ke ruang adminstrasi.


Dan setelah Bram menuju ruang adminstrasi, disana sudah ada Lena dengan sebuah koper kecil.


"Kak Bram, maaf! bisakah kamu hubungi Hari, aku sudah menunggunya. Apakah dia tidak jadi bertanggung jawab, menikahi Lena?"


"Apa, tidak bisa dihubungi. Lena, pulanglah! Istriku sedang sakit, aku akan minta bantuan orangku, untuk segera Hari menikahimu." titahnya membuat Bram ingin meledak, masalah istrinya yang sakit kini Hari melarikan diri, entah apakah ia tak jadi bertanggung jawab.


TBC.

__ADS_1


Sambil tunggu Up! Yuks mampir ke judul temen litersi Author.



__ADS_2