Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MERUBAH MANAJEMEN


__ADS_3

"Aunty airport itu cantik dan baik. Siapa namanya Damar lupa? Tadi siang Damar bertemu dengannya di BI, mirip momy." celoteh Damar. Membuat Bram mengernyit, usai minum untuk meredakan tenggorokannya yang sakit karena tersedak wasabi.


"BI?" tanya Bram tidak paham, kemudian mengerti jika yang dimaksud Damar adalah BI production, setelah otaknya kembali sinkron.


Menoleh pada Kenan yang sempat bersama putranya, siapa tahu Kenan melihat Aunty airport yang dimaksud oleh Damar.


Menggelengkan kepalanya pelan, Kenan tidak tahu siapa yang dimaksud oleh tuan kecilnya.


"Siapa namanya, Boy?"


"Entah, Damar lupa, Dad. Tapi dia memanggilku dengan cara yang sama seperti, Daddy." Damar, melahap camilan terakhir yang ada dipiringnya, tapi dia masih melirik piring ayahnya sebab dia belum kenyang.


Menyorongkan piring miliknya untuk Damar, bocah itu bersorak gembira, saat kembali mendapat makanan. Sehingga Bram melupakan tentang wanita yang dimaksud putranya itu.


Kenan menatap piringnya dengan miris, apa dia harus menyerahkan miliknya pada sang tuan kecil juga?


Sejujurnya dia tidak terlalu suka sushi, tapi akan sangat kurang ajar jika dia banyak mau. Mau diberikan pada bocah itu juga sepertinya agak kurang sopan.


Kedai tempat mereka mampir, adalah kedai yang khusus menyajikan berbagai macam sushi dengan beberapa jenis olahannya.


Sedangkan Kenan adalah budak kaki lima sejati.


Piring Bram juga sudah licin di hadapan Damar, tapi dia masih melirik piring milik Kenan. Entah jenis perut apa yang dimiliki bocah itu.


"Uncle tidak mau makanannya?" tanya Damar pada Kenan yang setengah melamun.


"Damar enough!" decak Bram.


"But Dad, kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Nanti mereka menangis," lirih Damar dengan berkaca-kaca.


"Buat Tuan Damar saja, Uncle tidak makan sushi," sela Kenan menggeser piringnya ke hadapan Damar.


"Kenapa kamu tidak bilang jika tidak suka sushi, Ken?"


"Maaf Tuan."


"Sana beli makanan apa yang kamu sukai, biar aku menunggu di sini bersama Damar. Meski dia sudah makan tiga piring, pasti bocah itu akan memesan camilan nantinya," titah Bram menyerahkan beberapa lembar uang dollar pada Kenan.


"Maaf Tuan."

__ADS_1


"Apalagi, Ken? Uangnya kurang?" Bram hendak menarik kembali dompetnya untuk menambah uang makan Kenan.


"Tidak Tuan, bukan begitu."


"Lalu ...?" Bram mengernyit dengan polah Kenan.


"Ini di Indonesia Tuan, bukan di luar negeri. Agak sedikit merepotkan jika saya harus menukar uang ini terlebih dahulu sebelum menggunakannya," kata Kenan membuat wajah Bram memerah karena malu.


Terlalu sibuk dan lama tinggal di luar negeri membuatnya terbiasa menggunakan uang dollar. Apalagi sekarang dia diberi kepercayaan memegang kendali S Konstruksi. Banyaknya misi dia ke wilayah asing, menggunakan sebagian dollar untuk membeli sesuatu.


Di mana pun dia berada, black card solusinya.


"Maaf Ken. Tapi, isi dompetku hanya beberapa lembar dollar dan kartu saja. Apa kau mau menggunakan salah satunya?" tanya Bram memperlihatkan isi dompet yang membuat Kenan lebih bernafsu melempar atasannya ke jalanan.


Padahal Bram sendiri tidak berniat pamer.


Mengembalikan uang dari atasannya, Kenan keluar dari kedai sushi. Dia memilih, makan nasi goreng ekstra pedas buatan mamang-mamang di pinggir jalan dengan gerobak dorongnya.


Berupaya membungkam mulut nyinyirnya, supaya tidak kelepasan mengatakan yang tidak-tidak pada atasannya.


Usai drama per-dollaran, Kenan mengantar Bram dan Damar kembali ke rumah Reksa, dengan selamat. Tanpa ada unsur berusaha menyabotase keduanya, untuk mendapat tebusan puluhan juta.


"Apa kamu langsung pulang, Ken?"


"Berhati-hatilah, perasaanku tidak enak," pesan Bram padanya.


Setelahnya Kenan berlalu dari rumah besar. Bram masuk ke dalam rumah, membantu Damar, berganti pakaian dan membersihkan diri kemudian menemani bocah itu tidur.


Setelah memastikan Damar kembali terlelap, Bram keluar dari kamar putranya menuju kamarnya sendiri.


"Bram." panggil Reksa saat Bram akan menaiki tangga.


"Iya, pah," jawabnya menoleh menatap Reksa dan menuju tempat Reksa berada.


"Duduklah, ada yang ingin papah bicarakan padamu."


"Tentang apa, Pah?"


"Dari apa yang Papah dengar, ada pertentangan di dalam dewan direksi. Kamu baru saja menghancurkan salah satu bangunan yang sudah setengah jadi? sebab pak Handaru menghubungi papa baru saja." selidik Reksa.

__ADS_1


"Iya, Pah. Bangunan itu tidak sesuai standart. Akan bahaya jika bangunan itu jadi, kemudian dihuni oleh orang-orang kalangan menengah ke bawah. Bisa jadi pembunuhan masal kalau sampai bangunan itu ambruk," jelas Bram.


Selama ini, Reksa selalu menyidak secara diam-diam tiap bangunan yang ditangani oleh S Konstruksi, besannya itu. Kalaupun ada yang perlu diperbaiki, dia akan meminta kepada agen khusus yang dia bentuk supaya membangun ulang proyek-proyek tersebut.


Lalu sekarang, dengan impulsif. Menantunya mengkonfrontasi secara langsung, pihak-pihak yang menjadi cacat di dalam tubuh SK.


"Dengan kamu mengkonfrontasi mereka secara langsung, maka kamu harus siap dengan berbagai kemungkinan Bram."


Bram terdiam mendengarnya, dia memang sudah menyiapkan plan B. Tetapi, jika itu masih mengenai dirinya.


Bagaimana jika Damar lah yang menjadi sasarannya?! Kenapa dia tidak berpikir sampai ke sana?


"Mereka sangat pendendam, kau tahu. Papah selama ini harus berjuang untuk keselamatan hidup Kita karena telah merekrut orang serakah. Meski semuanya terasa sia-sia, karena orang-orang yang papah sayangi memilih meninggalkan papah sendirian."


Reksa mengenang, kala Handaru juga ikut mengenang kehilangan putrinya, kembaran anak semata wayangnya yang harus ikut pergi, bersama Dayana dan adiknya Armanto.


Kemudian Elea anak satu-satunya, juga memilih meninggalkannya seorang diri.


"Ada Bram dan Damar, Pah. Papah dan pak Handaru tidak sendirian," kata Bram. Dia tidak suka melihat pria tua itu terlihat meratapi nasibnya. Reksa yang dia kenal selama ini adalah pribadi yang kuat dan ceria.


"Kamu benar." Reksa menepuk pundak Bram.


Kemudian mereka berdiskusi perihal tim khusus, bentukan s kontruksi milik Handaru yang akan dia serahkan pada Bram untuk menjaga cucu, menantunya itu, karena mereka sudah tua dan yakin Bram bisa mengelolanya.


"Belum tentu beliau-beliau itu menerima atasan baru, seperti Bram, papah. Apalagi, bisa jadi bagi mereka, Bram masih terlalu muda dan belum berpengalaman," tolak Bram saat akan diserahi tanggung jawab tersebut.


"Padahal mereka bersama Papah, sedari masih muda." Reksa terkekeh mengingat perjuangannya, membesarkan S Konstruksi bersama Handaru bersama dengan tim khususnya.


Memang setiap pengusaha, harus memiliki pertahanan diri, sebab musuh bukan hanya dari pihak luar saja. Orang dalam pun bisa jadi musuh mereka yang paling besar.


"Biar Bram mencari orang kepercayaan sendiri, Pah. Tim khusus milik Papah dan Handaru, biar menjaga papah. Bram tahu, meski papah melepas jabatan. Mereka pasti masih mengincar nyawa papah, setelah tahu Bram."


Benar sekali yang dikatakan oleh Bram. Masih segar dalam ingatan Reksa, ketika dia sedang liburan bersama teman-teman manula-nya. Mobil yang sedianya akan dia tumpangi mengalami rem blong.


Untung saja dia urung ikut saat melakukan lawatan ke sebuah pabrik makanan segar, di mana dia adalah salah satu investornya.


Mobil masuk ke jurang, menewaskan supir dan pemandu wisata.


Bukan sekali dua kali, Reksa hampir kehilangan nyawa ketika merubah manajemen s kontruksi, berpindah pada Handaru rekannya. Tetapi, mungkin saja tugasnya belum selesai sehingga dia masih diselamatkan oleh Tuhan.

__ADS_1


"Pah, Bram sebelumnya ingin memohon izin kepada papah ...."


TBC.


__ADS_2