Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 SIREN SIUMAN.


__ADS_3

Aku telah menyusuri jalan cahaya ini, mengapa semakin lama dan tak ada ujungnya, apa aku menyasar tempat apa ini.


Tuhan apa engkau mendengarkan ku. Aku sedang ada dimana, ku mohon bantu aku kembali, jika aku tak dapat pulang beri aku tujuan kemana kaki ku terhenti.


Siren duduk menatap satu pohon ditengah jembatan penuh cahaya, ia menunduk lemas dan tak terasa kakinya seperti terisi tenaga begitu saja, tangan tubuhnya seperti ada pergerakan, bahkan terdengar suara tangisan anak kecil dan ia melihat seorang berjubah dan bersayap menghampiri dari kejauhan.


"Siapa itu, mau apa kamu? kenapa kamu mendekat?"


Argh.


Dan seseorang itu mendekat menyilaukan dua mata Siren yang menutup lagi.


"Damar, tenangkan lah hatimu. Jangan seperti ini!"


Bram menampar anak laki laki bungsunya menyadarkan, di saat Damar benar benar tidak tega, tidak ikhlas jika istrinya dinyatakan meninggal.


"Damar tenanglah! aku ada ide aku akan meminta agar bayimu dibawa kesini, lakukanlah dengan tulus dan hati-hati apa kamu paham dan bisa, lakukanlah dan dekatkanlah pada dekapan Siren, semoga sentuhan anak ibu ikatan itu terjalin, dan Siren kembali." ucap Kara.


"Benarkah Kara, aku akan meminta izin."


Damar pun menyusuri ruangan di ikuti Kara.


"Tapi itu melanggar kode etik dokter Kara, bayi tuan sedang tidak stabil karena ia lahir secara prematur." ucap suster.


Bram pun menyusuri kemana Damar, agar tak gegabah, apalagi ia adalah cucu satu satunya, bahkan tak ingin kelak menjadi lebih kacau.


"Apa ini akan berhasil Kara, monitor itu benar menunjukan Siren telah tiada, bagaimana jika tak berhasil. Kamu pasti dalam masalah." ucap Mikha menyadarkan.


Dua puluh menit dalam perdebatan dan pertengkaran adu panjang, antara Bram dan Damar serta, juga dokter. Kara mendapat ancaman keras oleh dokter Artha, karena beresiko pada bayi prematur.


"Tapi bisa saja kesehatan bayi dan anak ada ikatan dan imun semakin kuat, bisa saja Siren harusnya kembali sadar, karena anaknya tak dekat. Aku mohon Artha, aku akan terima konsekuensinya jika di copot dari kedokteran."


Bram, Damar, serta Mikha di buat terkejut, pernyataan Kara yang setia kawan. Merli, menatap sahabat Siren amat care dan beruntung, ia pun salut akan pengorbanan mereka dari awal hingga terjalin semakin membuat iri.


"Baiklah, Kara tanda tangani surat ini!"


Hingga tibalah Kara, mendorong bayi Siren dalam inkubator bayi ke ruang dimana Siren berada. Dengan penuh doa, Kara memohon pada tuhan, agar memberi sahabatnya kesempatan.

__ADS_1


Siren bangunlah jangan meninggalkan tanpa pamit, itu tak pernah ada kamu lakukan dan kamu membenci hal itu!! batin.


"Sayang bangunlah, aku dan anak kita telah kembali di dekatmu."


"Sayang, kamu tahu bayi kita laki-laki, aku nama kan ia lelaki berwibawa dan kuat sayang apa kamu mendengarnya. Namanya Haico."


Berkali kali Damar memohon hingga lemas, dan pasrah.


Kara, mengambil bayi Haico dan menaruh di jantung Siren, sehingga semua orang menatap menggeleng dan semua mata menganggap Kara gila.


Terlebih suster disekitarnya.


'Sus, beri ruang agar tuan Damar berbicara privasi aku yakin akan ada hasilnya, jika tidak aku siap dicopot dan dihukum sesuai peraturan."


"Cih, dokter Kara benar benar menyebalkan." ucap sinis seorang suster.


Sehingga hanya Damar dalam ruangan, dan Kara di ujung pintu menjaga. Tapi yang lain berada di luar ruangan menatap di kaca bening.


"Sayang, terimakasih telah membuat warna di hidupku bahagia. Tapi dirimu benar benar membuat aku kecewa, bangunlah harusnya kamu pergi dengan pamit. Sudah lama kamu menunggu, aku pun membalas menunggu mu meski lama aku telah setia, lihatlah anak kita. Haico dia sehat, dan dengarkan tangisannya. Jangan membuat lama ia menunggu pelukan hangat oleh ibunya, sama seperti ku. Jika kamu menginginkan tidur panjang selamanya. Aku akan ikhlas aku akan mencari wanita yang seperti mu untuk mengurus anak kita, meski aku tak akan pernah bisa melupakanmu." ucap Damar pasrah dan mengancam.


Kara terkejut akan ucapan Damar.


Cih apa pria jika mengancam akan selalu berbicara akan menikah kembali, bodoh harusnya aku tak mengusul ide ini.


Kara pun menghampiri Damar, sudah lima belas menit, ia telah gagal idenya, kali ini ia akan menerima hukuman kode etik. Semoga bayi Haico tak apa.


Damar, tenanglah bersabarlah kita sudah berusaha. Ayo segera lakukan dan ikhlaskan lah, mungkin Siren memang tak akan kembali, maaf aku telah salah menilai.


Tak lama bayi Haico yang menangis pun terdiam, dan seperti menatap wajah ibunya, tangannya seperti meraih bibir Siren dan menghapus air mata yang keluar di pipi ibunya. Bayi itu terdiam, sehingga Damar dan Kara terkejut menatap menyaksikan seorang bayi, seolah ia paham akan situasi, dan menyambut ibunya.


Tredeeth .. bunyi gerakan monitor kembali.


Jantung Siren kembali berdetak, tangan Siren perlahan bergerak dan air mata terlihat. Kara segera memanggil dokter Artha setelah mengambil bayi Haico ke dalam inkubator, dan selama itu pula. Damar menunggu dengan histeris senyuman terpancar, juga berterimakasih pada tuhan, dan pada Kara dengan idenya.


Dokter Artha tersenyum lebar lega, karena ini kasus pertama kalinya ia alami, ikatan batin anak dan ibu mungkin akan diterapkan jika terjadi kasus seperti ini. Ia pun memberi selamat pada Kara.


'Sus berikan selang, dan alat bantu!' terlihat dokter Artha memberikan perawatan kembali, lalu menyuruh dokter Kara membawa bayi ke ruang semestinya.

__ADS_1


Damar pun di persilahkan ke luar ruangan. Setelah menatap istrinya membuka mata sedikit, meski belum pulih dan jelas, tapi ia sudah sangat bahagia.


Semua di luar ruangan mengucapkan salut akan keberanian Kara, terutama Calvin mendengar kabar tunangannya, ia pun memberi pelukan hangat.


Mikha yang ditemani Hari suaminya, dan beradu perang dingin pada Dani seolah Mikha selingkuh.


Semua kerabat ikut bahagia, orangtua Siren yang menangis lemah, menjadi kuat dan penuh syukur.


"Tuan Damar, nyonya Siren sudah sadar. Selamat istri anda sudah pulih kembali, tapi hanya seorang saja yang masuk. Karena tetap pasien tak boleh lemah." ucap dokter.


Damar yang sudah rindu, ia pun antusias menemui istrinya.


"Sayang, bagaimana apa yang sakit? aku mencemaskan mu."


"Hai, tampan aku hanya tertidur lama sekali. Maaf membuatmu khawatir, tapi perutku sakit sekali seperti ada jahitan."


Damar pun menjelaskan dan terkejut Siren jika ia sudah melahirkan, meski bukan normal. Ia tak menyangka rasa tidurnya sudah selama itu.


"Sayang, aku mencintaimu kita akan selalu bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Jangan pernah tinggalkan aku, apalagi tanpa pamit!"


"Hubby, kamu sudah menjadi seorang ayah. Jangan cengeng menangis seperti itu!"


"Lalu .. apa nama panggilan kita? papa mama atau bunda ayah, atau dad momy?"


"Entahlah, aku berfikir papa mama, tapi kita bisa ganti jika tak ingin sama. Oleh di rumah."


Heumph! baiklah hubby, bagaimana panggilan. Papi momy. Papi Damar dan momy Siren.


"Baiklah aku setuju sayang."


Terlihat senyum lebar Damar dengan penuh senyuman, merasa kebahagian tak terhingga. Ia mendekap dan memeluk menciumi lengan istrinya.


Tuhan aku berterimakasih, entah aku berjalan seperti sesaat tapi ketika aku membuka mata, tak menyangka jika sudah selama ini.


Terimakasih aku yakin duka yang diberikan akan ada balasan suka cita balasan. Deru batin Siren, yang berat jika ia seperti lama sekali tertidur.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2