
Osin cukup terkejut, ia kembali ke gedung lantai biru itu untuk meminta rekaman cctv.
"Masa gak ada sih rekamannya, saya mau bukti kenapa sahabat saya bisa kaya gitu?" tanya Osin pada kru yang bertugas dalam gedung.
"Mohon maaf. Kami tidak bisa memberikan pada sembarang, kecuali atas dasar bukti kriminal. Dan kebetulan pengawas cctv kami sedang tidak beroperasional. Jadi memungkinkan .. "
"Aah! Kalian sekongkol kan? Lihat kalian akan kena masalah, setelah ini." emosi Osin tersulut.
Osin pergi begitu saja, ia pun mendapat telepon dari Pak Hari.
[ Hallo. Ya pak, saya sudah tanya. Tapi ga bisa, aneh jawaban mereka banyak alasan. Owh .. Mikha masih dalam perawatan rumah sakit. Masih dalam ugd, saya segera ke rumah sakit kembali lagi. ]
Osin menutup ponselnya. Lalu dengan kesal ia mencari petunjuk dan menanyakan pada Office. Apa ada saksi secara kebetulan, melihat ciri ciri orang yang keluar dari ruangan, nomor tujuh belas. Hingga di mana, ia lelah banyak yang tak tahu. Osin jadi berprasangka, jika ada kaitan dengan orang yang di kenal. Berharap Mikha sadar, dan memberitahunya siapa yang melakukan semua ini.
Ga mungkin kalau gak ada yang tahu. Semua pasti sekongkol kan. Kalian bisa saya tuntut kalau ada sampai semuanya bungkam! Gue bayar tujuh kali lipat masih sanggup gue bayar ke muka kalian tahu gak?! kalian semua dibayar berapa sih dengan alasan ga tahu!! teriak Osin pada beberapa karyawan.
Pasalnya Osin tahu dari pak Eri asisten pak Hari Hartanto, jika Mikha phobia akan darah. Ia tak bisa melihat darah sedetik pun. Melihat saja ia akan pingsan, apalagi di guyur meski dengan amat kejam, alasan tak sengaja kelak. Osin berusaha menahan amarah, ia akan memberi balasan pada seseorang yang bertekad jahat pada sahabatnya itu. Terlebih pak Hari, telah meminta Osin, untuk menjaga dan menamani Mikha.
DI AUSTRALIA.
Hari yang dalam perawatan akan kecelakaan. Meski tak terlihat bekas luka, tapi ia segera berobat ke negara asal, hanya untuk menyembuhkan luka dalam yang membengkak.
"Bagaimana hasilnya Eri?" tanya Hari.
"Luka dalam, jika dibiarkan akan terkena infeksi dan.."
"Mikha istriku. Bodoh!" kecam Hari.
__ADS_1
"Oh.. Maaf! Mikha masih dalam perawatan bos. Tapi saya akan datang dan mencari bantuan pada beberapa intel."
"Hah. Pasti ada yang ga bereskan. Katakan apa yang terjadi padanya?" teriaknya.
Eri gugup, ia bingung harus menjawab apa. Kegiatan dan alasan beberapa pekerjaan yang di layangkan pada Mikha. Hanya sebuah alibi untuk menutupi sakitnya. Hingga di mana, ketidak beradaan dirinya. Membuat Hari terpukul kala Mikha tertimpa musibah dan masalah kembali.
"Kau bilang, pengawas cctv tidak beroperasi?"
"Ya. Mereka bicara seperti itu."
"Ccchh. Menjijikan sekali mereka menebarkan beberapa uang kertas. Hanya untuk menutupinya. Cepat pesan tiket sekarang juga!"
"Tapi bos! Kesehatan anda?"
"Keselamatan istriku lebih berharga, dari pada luka ini. Eri, jadi cepat lakukan sekarang juga!" tajam, menepuk pipi Eri seolah menyadarkan.
Hari banyak berfikir, ia harus mencari tahu, siapa di balik seseorang yang membuat tega seperti itu pada Mikha.
Di perjalanan dalam landing bandara. Hari gelisah dan banyak memikirkan suatu hal.
"Eri. Benar jika yang di katakan Osin, jika seseorang sengaja membuat Mikha mandi darah?"
"Benar bos."
Eri tercengak. Ia bingung, dan baru menyadari beberapa banyak pemikiran yang belum terungkap kisah misteri Mikha bersama Dani.
"Cepat kau cari informasi ini, jika dua puluh empat jam kau tidak akurat. Kau akan kehilangan dua tahun gajimu Eri!"
__ADS_1
"Huh, kenapa bisa begitu? Ah .. Siap baik bos." menurut, saat sorot mata tajam beraksi ke arahnya.
DI RUMAH SAKIT.
Osin bersyukur kala Mikha, telah di pindahkan keruangan vip. Tetapi kondisinya yang belum sadar. Membuat dirinya khawatir.
"Mik. Gue di sini, lo cepat sadar ya. Gue bakal temenin lo ampe sembuh, kenapa lo ga tunggu gue buat anter sih!"
Osin yang masih bercerita, ia menatap selang infus yang tersambung pada hidung Mikha. Hingga di mana ia mengelus peluk pada lengan Mikha. Sinta sangat sedih, jika kejadian seperti ini terulang kembali.
"Mik. Gue gak akan biarin, apalagi lepasin siapa itu orang yang buat lo kaya gini." tutur Osin.
Osin tak pernah terbayangkan, jika tadi saat di gedung. Seseorang berbicara jika wanita yang terbaring adalah sahabatnya.
Dan telah tak bernyawa, tetapi seorang dokter yang kebetulan lewat. Ia mengecek, jika kondisi Mikha hanya trauma sementara, yang mengakibatkan nadi setengah berhenti.
"Mikha. Lo tahu gak? andai lo beneran gak ada. Gue hampa, gue amat menyesal udah bikin janji sama lo. Gue udah menyesal kala gue ga ngelarang lo ketemu seseorang."
Osin menangis tersedu -sedu. Hingga di mana ia mengingat chat Mikha. Lalu keingintauan Osin adalah, apa orang yang menemuinya adalah masa lalu pak Hari. Tapi apa setega ini dia yang melakukannya.
Oisn segera melihat tas Mikha. Di mana barang Mikha yang tersimpan oleh suster di sebuah loker. Osin segera mencari sesuatu ponsel Mikha. Tapi sayangnya tak ada sedikitpun, ponsel Mikha ada di dalam tasnya.
"Huh, gue gak ngerti. Kejam banget yang udah ngelakuin ini semua. Ternyata udah di rencanakan buat lo ini sih. Mik, gue janji bakal cari siapapun itu orangnya. Demi persahabatan kita yang melebihi saudara kandung."
BRUUUGH. PINTU TERBUKA BEGITU SAJA.
Osin menoleh dan menatap seseorang yang baru saja tiba. Dengan kilat ia berdiri dan menghapus air mata yang membasahi di pipinya, sedikit menjaga jarak dan hormat.
__ADS_1
Tbc.