
Melupakan penasaran ingin tahu Mikha, tentang rumah kayu di samping mansion milik Bram, sang kakak ipar. Mikha dibuat penasaran dengan balutan baju mumi di kursi roda. Sehingga akibat karena Ryo, ia tidak jadi menghampiri, masuk ke dalam rumah dengan perasaan penasaran.
Pagi harinya, Mikha memikirkan banyak hal. Hari ini ia di minta untuk pergi mengecek sebuah coffe shop system bersama Ryo, dimana yang berkunjung, akan jauh dari cafe biasanya. Yakni, dengan ciptaan canggih, dimana ada letak telapak tangan pengunjung, yang akan datang, bisa merubah usia nya yang lebih tua menjadi remaja, hanya dengan mengkode garis tangan pada sebuah alat di depan kasir setelah memesan. Memang perusahaan Bram, dan keluarganya jauh dari yang dibayangkan pada kehidupan dunia realita pada umumnya.
Mikha pun mengangguk, pamit pada paman Bram yang memberkatinya, lalu menyenggol bahu Ryo meminta untuk dia tidak ngebut di perjalanan.
Sesampainya di dalam mobil, Mikha bertanya setelah diam berpuluh menit mengecek email dan pesan satu satu yang belum sempat ia balas. Pesan banyak yang berdatangan dan berduka akan kepergian Mas Hari dari berbagai klien dan media sosial.
"Ryo, sosial media kejam ya. Gue ga nyangka. Model cuitan akun Eri yang nyamar. Bakal ngundang Lena yang ketar ketir. Infonya dia lagi mau sewa pengacara katanya nih dari berita." ungkap Mikha.
"Ya, gitulah kalau orang bersalah Mikha. Lo kalau ngantuk tidur aja, nanti gue bangunin!" Mikha senyum menurut.
Hingga beberapa lama perjalanan, mereka turun dan tiba di tempat yang telah di minta Bram. Setelah Ryo memarkir, ia meminta Mikha untuk lebih dulu ke meja rooftop yang lokasinya sangat sejuk seperti perbukitan.
Saat Mikha dan Ryo mendiskusikan banyak hal, ia sempat menoleh saat bangkunya tersenggol. Hal itu membuat tatapan Ryo dan Mikha terdiam sejenak.
"Ada apa, kenapa kalian menatap saya seperti itu?"
Mikha menatap bulat. Pria itu sangat mirip dengan Mas Hari. Tapi gaya ala anak punk yang enggak banget bukan khas suaminya. Tak lama datang wanita memanggilnya sayang.
Honey. Sorry menunggumu udah lama ya?! mereka pun berlalu pergi.
Mikha dan Ryo, mereka kembali menyedot minuman hingga habis. Sementara satu sisi masih tak percaya.
"Itu pasti mirip atau mata gue yang salah ya Mikha. Benar gak kalau gue salah lihat?" ketus Ryo.
"Gue gak tahu. Kan dia gak mirip semua Ryo, cuma pas dari samping dan natap tadi mirip banget. Dunia sempit ya, sejauh apapun gue coba gak sedih. Bayangan mas Hari terus aja masih aja selalu ada. Bukan hanya ilusi, tapi kemiripan mas Hari itu ada. Jadi kemiripan dunia ini ada 7 kemiripan konon."
__ADS_1
"Sabar ya Mikha. Gue ngerti banget ada di posisi lo saat ini."
Beberapa jam kemudian, di perbukitan Mikha dan Ryo berada di puncak batu.
Mereka duduk di tepi tebing memandang pemandangan alam yang sangat luar biasa. Mikha yang masih tidak percaya, menatap sempurna dibawah ujung, sebuah motor moge. Dan seorang wanita tadi yang menghampiri tiba saja mendekat ikut duduk tak jauh dari mereka yang sedang berdiskusi pekerjaan.
"Ah gila, gue benar mimpi kan Ryo. Kenapa dia sangat mirip ya?" lirih Mikha.
"Udah lah Mikha, fokus lagi. Habis ini kita pulang, gue bakal cari titik spot supaya kerja lo ga sia sia tinggal di rumah mertua!"
"Dasar, pria gila kerja lo Ryo." menepuk bahu tak suka.
Pagi itu menjelang siang terik sinar menyinari menembus kulit Mikha. Ryo bicara jika siang nanti ia akan hendak terbang ke kota padat. Ia ingin berkunjung ke kantor di mana Eri memintanya. Mungkin sekedar menyapa dan bisnis bertemu Klien yang mungkin ada kaitan dengan kasus Hari Hartanto yang akan berlanjut.
"Lo gak apakan, kalau gue tinggal Mikha?"
"Gak apalah, gue kan ga sendiri Ryo. Lo anggap gue anak kecil ya?" masih mode menatap berkas.
Pernyataan Ryo, membuat Mikha tertawa lucu. Seolah ia paham dan akan berhati hati jika ia tak ada Ryo yang melindungi.
Hingga di mana, ia berlanjut pulang ketika menjelang sore. Setelah pertemuan dengan klien, Mikha cukup senang kala Ryo mengajaknya dan membuat hatinya happy dengan Alam terbuka.
Dimana tugas pekerjaan mas Hari mencari investor pasar usaha yang tak biasa, dan tidak mudah ditemukan jika bekerja sama pada usaha keluarga Hartanto.
***
Di Kamar.
__ADS_1
Tapi lagi lagi, Mikha masuk kedalam kamar setelah mandi membersihkan dirinya. Mikha terus saja kini melihat bayangan mas Hari yang ikut duduk dengan piyama tidur. Menatapnya dengan senyum dan menepuk ranjang sofa dengan telapak tangan menepuk nepuk seolah meminta duduk bersama.
'Mas Hari?'
Bingung Mikha, ia berusaha menutup dan memejamkan mata berkali kali. Seolah itu ilusi kegilaannya lagi. Namun jelas ia melangkah dan maju menghampiri, menatap dekat ke wajah mas Hari, lalu bayangan itu hilang lagi.
Mikha menohok dan lemas, ia baringkan dirinya dan berusaha untuk tenang. Ia lelah dan ingin sekali menemui dokter Hara, untuk konsultasi kejiwaannya yang semakin hari semakin gila. Semakin hari, bayangan mas Hari seolah mengikutinya kemanapun, apalagi saat ia dikamar seolah mas Hari ada di depannya tanpa sepatah katapun.
'Aku gila tanpamu, jadi aku pastikan kamu masih ada disini!'
***
Sudah dua hari Mikha bertemu Klien, ia menunggu di sebuah hotel. Ia mengurusi pekerjaan. Lalu jalan mengerahkan taksi menuju cafe group. Ada rasa berdebar tak biasa, ia berharap kenangan itu tak membuat ia sedih apalagi harus menyuplai obat dan vitamin agar dirinya tenang karena kondisinya sedang hamil. Mikha yakin ilusi itu akibat ia berhenti dari obat penenang berwarna biru muda yang ia biasa minum.
Sesampai di kantor cafe, seluruh karyawan yang mengetahui menyapa Mikha. Tak lama menunggu di koridor bawah mengingat rencana Ryo, sebelum mereka pergi, masih dalam meeting ia harus fokus ketika bertemu klien bernama Surot. Tak lama suara pria menyambutnya.
"Mikha, udah lama?"
"Hei, Ryo. Udah datang aja, enggak juga kok, kurang lebih lima belas menit. Gue kira gue bakal meeting sendirian." gumamnya.
"Enggaklah. Gue kan izin nemuin Eri, masa ia gue biarin lo hadapin kerjaan di sini sendirian. Kasian gue sama wanita bunting." lirihnya.
"Sialan, mulut ember kaya lo. Pantes aja ga ada cewe yang naksir." desis Mikha yang sebal.
Hingga Ryo menahan sakit dan menggigit bibirnya. Karena kakinya di injak oleh sepatu heels Mikha di bawah meja.
Mikha pun tak lama menyapa Klien. Lalu menanyakan segala hal kabar omset. Dan mereka pun lunch bersama dengan santai. Mereka saling bicara satu sama lain akan bisnis yang saat ini harusnya di pimpin oleh mas Hari.
__ADS_1
Mikha juga antusias senang karena Ryo mau membantunya, apa saja tugas mas Hari selama di kantor benar benar sibuk, bagaimanapun yang Mikha kerjakan, hanya 30% ia datang, apalagi mas Hari. Pantas saja waktunya terus bekerja dan bekerja.
Tbc.