Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SULIT DIMENGERTI BRAM


__ADS_3

"Sosok asliku? Apa maksudnya? Bicaralah yang benar." Bram, mengerutkan keningnya.


"Ya, sosok aslimu, itu saja tidak paham," kilah Oliver datar, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Sesaat kakek tua itu pergi, Bram kedua kalinya setelah sekian lama kakek Ramlan berkumis putih tak menampaki pada Bram, tak lama Olive datang secara mengejutkan.


Mengetahui jawabannya tidak ditanggapi serius oleh Olive dan terdengar seperti candaan, Bram pun menyelengos, memilih untuk tidak menanggapi lebih jauh pembicaraan yang tak akan pernah ada ujungnya tersebut.


"Terserah Tuan saja ingin bicara apa. Aku sudah lelah dan bukan saatnya untuk berdebat juga."


Dirinya memilih untuk mengacuhkan segala hal yang berkaitan dengan Olive dan takdir-takdirnya itu.


Pemuda pemilik nama lengkap Bram Hartanto itu, membawa langkah gagahnya menuju remaja laki-laki yang tidak sadarkan diri di sana. Dengan tangan yang masih berlumuran darah, dirinya menggendong murid laki-laki itu ala bridal style.


"Dari pada aku berdebat dengan Tuan, lebih baik aku membawa anak ini ke rumah sakit," cerocos Bram tampak bersusah payah untuk bisa mengimbangi tubuhnya dengan berat badan remaja belia tersebut.


Olive mengerutkan keningnya, "Rumah sakit?"


Bram, mengangguk sambil bergumam, lalu melenggang perlahan-lahan melewati Olive, tanpa sedikitpun menoleh pada Utusan Langit itu.


Olive berbalik badan, arah pandangannya mengikuti langkah Bram yang tergopoh-gopoh.


"Ya, benar juga. Dari pada kau berdebat denganku dan menanyakan kakek tua, sebaiknya memang membawa anak itu ke rumah sakit. Keputusan yang sangat mulia. Pantas saja kalau Raja Langit, membiarkanmu kesempatan untuk memiliki Takdir Langit. Jadi inilah alasannya. Sekarang diriku baru memahaminya."


Setelah mendengar berkata demikian, Bram pun berbalik badan sambil menggendong remaja berseragam putih biru itu. Ada sebuah kalimat yang hendak dirinya keluarkan, tapi entah mengapa tersangkut di ujung tenggorokan.

__ADS_1


"Kau boleh membawa anak itu ke rumah sakit karena inilah tugasmu, tapi dengarkan kata-kata dariku ini. Pergi ke rumah sakit, lalu siapa yang akan membiayainya?" timpal Olive datar tanpa ekspresi.


Beberapa detik menelaah, Bram akhirnya terkekeh dan cengengesan menunjukkan deretan giginya yang putih, "Hehehe ... Tentu Tuan yang akan membayar seluruh biayanya. Aku mana ada uang untuk sekarang karena 'kan diriku belum mendapat gaji dari Tuan dari tugas sebagai Guru. Tuan adalah kepala sekolahnya."


Bram memasang wajah memelas, dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara itu, Olive menghela napas berat, memalingkan sejenak pandangannya ke sisi kanan, sebelum akhirnya menjentikkan jarinya tanpa berkata-kata.


THEK ..


Seperti biasa, dalam sekejap mata keduanya telah berpindah tempat, ke lokasi yang diinginkan sebelumnya.


"Kita sudah berada di rumah sakit," ucap Olive sambil menyelengos, memandang sekitarnya yang dikelilingi gedung-gedung tinggi. Pun dengan Bram yang merasa asing sekarang.


"Rumah sakit?" Dia mengulang kalimat terkahir Olive.


Bibir Bram bergetar, alisnya naik turun seperti ombak di lautan, "Apa Tuan tidak salah, menempatkan kita di rooftop? Anak ini perlu perawatan, Tuan tahu, apa itu perawatan?"


Olive memandang beberapa detik manik hazel Bram, sebelum kembali melihat hamparan gedung-gedung pencakar langit yang mengedar di sekelilingnya.


"Sebaiknya kau pikirkan ini baik-baik. Diriku tidak bisa menunjukkan kemampuanku di depan banyak orang, secara rumah sakit tempat berkumpulnya orang. Apa kau ingin orang-orang menganggap kita sebagai hantu karena datang secara tiba-tiba? Salahkah aku sekarang?"


Jika dipikir-pikir kembali, ucapan Olive ada benarnya juga. Kehadiran mereka di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang ada di rumah sakit, pastinya akan memancing perhatian. Maka hasilnya akan sangat tidak bagus.


"Baiklah, maafkan diriku karena telah salah menilai dirimu, Tuan." Bram, pun mengakui kesalahannya karena telah salah paham pada Olive. "Tapi, Tuan jangan senang dulu, ada hal yang ingin kutanyakan pada Tuan. Tidak sekarang, nanti setelah anak ini mendapatkan perawatan."

__ADS_1


Bram tak banyak basa basi, diakhirnya perbincangan yang jika saja dilanjut maka tidak akan selesai dalam satu hari. Maka dari itu, demi menghentikan perdebatan, dirinya pun segera melenggang pergi dari hadapan Olive.


Beberapa detik berselang, Olive pun menghilang dari sana, lenyap bagaikan asap yang tersapu oleh angin.


Bram yang memang belum jauh melangkah itu, berbalik badan dan mendapati Olive sudah tidak ada di sana.


Dirinya sebagai manusia biasa, hanya bisa menghela napas panjang, sambil geleng-geleng kepala. Entah harus bagaimana dirinya menanggapi ini semua?


Kehadiran Olive yang seperti mimpi itu, menyadarkan dirinya akan suatu hal. Bahwasanya, dia memang bukanlah siapa-siapa di dunia ini, hanya segelintir manusia lemah yang tak memiliki apa-apa. Masih ada dunia yang lebih luas di luaran sana, yang tidak pernah diketahuinya dan mungkin masih ada Olive Olive lainnya di belahan dunia ini, yang kehebatannya di atas Oliver Kristalion.


Bram segera mencari pintu masuk menuju ruangan rumah sakit. Sebelum itu dirinya harus menuruni anak-anak tangan yang entah berapa jumlahnya.


Dipandangnya terus menerus wajah remaja laki-laki yang berada dalam gendongannya. Jika diperhatikan seksama, ada kemiripan antara dirinya dengan remaja belia tersebut.


Memandangnya mengingatkan Bram, akan masa-masa kecilnya semasa sekolah dulu. Meski sudah samar-samar, tetapi Bram masih ingat betul bagaimana dirinya saat masih duduk di bangku sekolah?


THEK ..


"Ini debet black mu, ingat pergunakan dengan sebaik mungkin." ujar Olive saat Bram, memanggil suster.


Bram pun menerima kartu Black unlimited miliknya sendiri, jelas nama itu adalah Bram Hartanto. Pikiran Bram bingung, jika ia tak boleh bertemu keluarganya kenapa ia harus gunakan kartu miliknya untuk menolong orang lemah?!


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2