
Terlihat beberapa orang dari jendral berpangkat, menyapa Mikha dan berbasa basi akan membantu. Mikha yang terlihat sedih, penuh harap segala informasi kehilangan suaminya cepat teratasi. Hingga dimana Mikha menatap seseorang yang tinggi di keluarga suaminya itu.
"Uncle Bram," desir nadi Mikha, ikut berdiri karena tegang akan suasana yang mencekam.
Kedatangan Bram seperti murka padanya, ia melaju melangkah hingga menepi di hadapan Mikha. Bahkan Mikha memandang wajah yang sangat lemah, setelah melepas eratan pelukan tangan Osin. Ia bergeser dan berdiri memberi hormat pada uncle Bram.
"Apa yang terjadi Mikha. Kenapa harus Hari satu satunya penerus yang paman punya, dia adalah penerus paman, atau kamu sama seperti Lena, menginginkan semua ini kan?"
"Uncle, Mikha. Mikha minta maaf atas semua ini. Tapi Mikha juga terpukul dan lemah ketika tahu kecelakaan malam itu, benar benar mas Hari, Paman Bram harusnya bisa selidiki, siapa Mikha dan Lena, Mikha adalah Mikha, bukan Lena yang dituduhkan seperti paman Bram tadi. Mikha harap ini hanya mimpi saja Uncle... Ini ga benar, rapuh meski tanpa kekayaan pun, Mikha akan rapuh jika suami Mikha itu tetaplah Hari " jelasnya.
"Buka mata kamu Mikha. Lihatlah dengan jeli! Andai Hari, adik ku tidak menikahi dan mengurus masalah runyam masa lalu kamu, mungkin paman harusnya melarang Hari saat itu, menikahi bocil yang sudah pasti ingin kecelakaan seperti ini terjadi. " murka Bram, yang salah paham pada Mikha.
Hal itu membuat Mikha, terdiam pasi. Bram sendiri adalah, seorang kakak dari mendiang ibu tiri Hari yang saat itu jatuh sakit, karena tuan Hartanto menikahi Inggrid dan mempunyai anak diam diam bernama Hari Hartanto, dimana ibu nya kritis ternyata sang ayah sudah mempunyai istri baru, geram dan kesal tapi Bram tidak ingin menyalahkan adiknya Hari, yang ia juga mungkin tidak mau terlahir seperti saat itu ia benci.
"Hah, Mikha. Sejak kamu hadir dalam hidup Hari, semata wayang keluarga. Paman sudah melarang untuk Hari mempertahankan wibawanya terhadap wanita. Apalagi kamu, kamu telah merubah semuanya. Tapi kenapa harus Hari yang baik, lebih dulu di ambil." ketusnya.
Mikha terdiam, wajahnya tersirat jelas kala paman Bram benar benar menyalahkannya. Hingga ia membuka mulut tak bisa berkata kata, seandainya saja ia tidak pingsan. Mungkin ia ingin mencegahnya. Seandainya saja ia bisa mengubah waktu dan bertukar tempat. Mungkin Mikha memilih dirinya saja saat kejadian itu, bukan mas Hari.
"Kami ingat, selama proses benar kamu tidak bersalah. Paman akan maafkan, tapi jika semua karena ulah kamu dan karena alasan kamu. Paman akan membuat perhitungan padamu jika kamu terlibat Mikha!"
Kekesalannya, membuat Mikha kehilangan kepercayaan oleh Uncle Bram.
Dan Mikha tak menyangka akan bernasib tragis. Di tinggalkan suami yang membuat hidupnya merubah, bahkan dituduh perencanaan demi bisa mengambil ahli seluruh milik Hari Hartanto, dimana secara resmi pernikahan Mikha dan Hari sudah tercium publik.
__ADS_1
Namun ia harus di tinggalkan dengan banyak segala hal tuduhan. Mikha juga mengusap perutnya saat itu. Berharap kejadian saat ini datang sebuah miracle, jika Hari masih hidup dimanapun berada.
Tak begitu lama, Bram pergi meninggalkan Mikha, ia juga memerintahkan ahli forensik dan kepolisian. Jujur dan mengatasinya dengan cepat, apalagi mangkrak.
"Osin, gue penyebab kecelakaan mas Hari kan?" bisik nya.
"Mikha, enggak Mikha. Itu murni kecelakaan, jika sengaja itu bukan kesalahan lo. Kita tunggu hasil dari pemeriksaan. Lo ga boleh stres kaya gini, kasian baby di dalam sini!" pinta Osin, masih mode memeluk.
Mikha begitu pilu, ia masih mengingat banyak hal perkataan mas Hari, yang membuat impiannya terwujud. Hingga di mana ia berusaha untuk tegar, tapi tetap saja kesedihan dan segala hal masih banyak yang harus membuat air matanya semakin terkuras mengalir begitu saja.
Mikha kini menjadi semakin lemah, ia sulit untuk mengatur nafas berbagai banyak derita yang ia lihat dan problem bertubi tubi tanpa selesai.
"Permisi bu Mikha. Saya izin, ini ada satu kotak kepemilikan barang di dalam mobil. Tolong cek, apakah benar ini milik suami ibu?!" ucap kepolisian.
Mikha sedikit bergetar, ia bingung menatap satu kotak berwarna hitam keabuan. Hingga ia mencoba menatap sekeliling yang terdiri dari Ryo dan Eri yang ikut mendampingi. Osin mengangguk untuk menyabarkan jika Mikha pasti kuat jika membuka kotaknya.
"Buka saja bu. Periksalah!"
Mikha membuka dengan bergetar, ia teriak dan terkejut lemas. Kala sebuah tangan dan cincin serta jam rolex milik Hari, di sematkan di salah satu jari benar adanya.
"Ah. Tidak, itu pasti bukan tangan mas Theo. Itu bukan mas Hari. Huhuuu." tangis Mikha kembali pecah.
Osin ikut kembali menangis, ia juga merasakan di tinggal kekasih. Tapi kondisi Mikha sangat histeris, kala ia adalah seorang istri dan sedang hamil anak dari mantan bos nya itu.
__ADS_1
"Mikha, lo yang tenang ya. Gue yakin lo bisa dan kuat buat hadepin semuanya. Kita sama sama berjuang ya, ada gue yang selalu ada buat lo dan bayi lo. Gue akan jadi tante terhebat dan orangtua terhebat bagi anak lo kelak!"
"Huhu, gue yakin itu bukan potongan tangan mas Hari." masih mode menangis histeris Mikha saat itu.
"Mikha. Gue paham apa yang lo rasain, tapi kita ikutin prosedur pihak yang berwajib ya. Ahli forensik bakal tes dna jika itu benar bukan tangan pak Hari!"
Mikha meredam, ia mencoba menghela nafas. Hingga di mana ia mencoba berdiri untuk tetap kuat, kembali berdiri dengan penutup masker. Karena sebuah tangan gosong itu, terdapat sebuah cincin putih dan jam yang tak ikut meleleh. Hanya sebuah goresan hitam seperti embun yang mudah di hapus bersihkan.
"Mas, jika itu kamu. Apa mungkin lima puluh persen kamu tetap masih di sini. Tidak meninggalkan aku selamanya. Aku mohon mas, apapun keadaanmu. Aku akan ikhlas dan akan menerimamu. Aku ga sanggup kehilanganmu mas." batin Mikha yang mencintai suaminya itu.
Mikha segera melihat cincin, dengan sapu tangan tanpa jijik. Ia mengambil cincin itu hingga membulat ia melihat bulatan sebuah goresan cincin terdapat ukiran namanya dan Hari.
Huhuhu ... "Ini ga benar, ini benar cincin pernikahan kami. Tapi aku ga membenarkan itu tanganmu. Maksudku aku tidak akan membenarkan jika itu kamu benar telah tiada mas." teriak Mikha masih menangis.
Mikha pun jatuh tersungkur duduk, hingga di mana Osin menolongnya dan membuat Mikha duduk dengan tenang.
Namun salah satunya, Eri kembali keluar menemui Tuan Bram, Sementara Ryo menunduk menangis tak menyangka jika sahabatnya benar benar pergi.
Ryo terkejut kala di sampingnya ada dokter ikut datang.
"Frank, lo datang juga?" lirih dengan terbata bata kesedihan.
"Saya akan bantu proses tes dna. Gue harap itu bukan tangan Hari. Teman kita yang best, meski dia paling jahat dan keras terhadap kita. Tapi dia berarti bagi kita, dia orang baik. Kenapa bisa takdirnya harus seperti itu." ungkap sang dokter, yang ikut turun tangan mencari bukti kehilangan Hari Hartanto.
__ADS_1
"Hari itu pria sukses, generasi Hartanto. Sudah pasti banyak yang ingin di posisinya bro, terlebih keluarga Hartanto hanya punya anak satu saja, di mana kekayaan melimpah tapi penerusnya sulit." bisik Ryo, membuat Frank menelisik.
Tbc.