
Rasanya tidak mungkin, pasti ada yang tidak beres! Lirih Kristal, ia segera mengambil jaket hitam dan memakai kacamata dan penutup topi mirip kupluk.
"Kristal, beritahu aku. Apa ada yang tidak beres? Setidaknya beri tahu aku sekarang!" sendu Elea.
"Ini diluar jalur manusia, Elea tetaplah tinggal bantu aku selama aku tak ada, sebentar lagi para petani akan menimbang timun emas hasil panennya, mereka membutuhkanmu. Aku akan segera memberitahumu, karena aku tidak berani menyimpulkan sebelum aku melihat tanda jelas di depan mata kepalaku."
Penjelasan Kristal sangat masuk diakal, Kristal segera pergi hingga jejak bahunya tak terlihat. Elea duduk dan memandangi foto Bram di meja kerjanya. Bukan tanpa alasan, Elea ingin Bram segera kembali. Jika benar, kekasihnya itu selamat dari maut jurang. Ingin sekali ia mengejar Kristal dan ikut membantu.
'Aku berharap kamu kembali, Bram. Aku sunyi dan takut jika tidak ada kamu disini! Apalah harta semua penelitian, kantor megah kamu berikan untukku. Tapi tidak ada kamu, karena kamu adalah tiang kehidupanku!' batin Elea, masih memandangi foto Bram.
Tak lama sepeda motor tiba, helmnya dilepas dan pria itu menatap Elea dengan senyum. Meski Elea datar, menghampiri.
"Kak El, aku sudah antar pesanan tuan Tay! Tapi bisakah mengecek lagi, sebab dia berikan aku pesan dengan id ku ini. Seperti tidak wajar, apalagi ia meminta esok dikirimkan lagi dengan berat 300kg." tanya Hari, yang seolah Elea langsung melihat ponsel, membuka aplikasi.
"Tunggulah! biar aku cek." lirihnya.
Sementara Hari, ia ikut mengekor tanpa berkedip memandangi wajah kak Elea saat itu.
***
ESOK HARINYA.
Dhep!
Hanya dengan satu menjentikkan jarinya, kedua pria yang berasal dari dua alam berbeda itu telah berpindah tempat, bukan lagi area sekolah, tapi kembali ke kamar yang luasnya tidak seberapa itu. Ruangan dengan corak putih mendominasi.
"Utusan langit! Hey! Apa yang kau lakukan pada saya?! Lagi-lagi Tuan menggunakan kekuatan pada waktu yang tidak tepat!" berang Bram, tak mampu menahan gejolak kemarahan dalam dirinya.
Bram yang semula tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kini telah kembali normal. Namun, dirinya sama sekali tidak mau peduli.
__ADS_1
Dirinya membanting badan ke ranjang, duduk sambil membuang pandangan ke arah kanan dengan isi kepala yang masih memikirkan kondisi remaja laki-laki itu di kamar Bram.
Kekesalan Bram tidak bisa luput dari penglihatan tajam Olive. Segala kecemasan yang mengusik pikiran Bram, dapat dibaca olehnya.
"Apa kau sedang mencemaskan anak itu?" tanya Olive membuka pembicaraan mereka.
Bram mendehem dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
Olive mengerutkan keningnya, melipat kedua tangan, sambil sedikit mengelus dagunya. "Jadi, kau teringat akan kenangan pada kehidupan pertamamu?"
Pertanyaan kali ini membuat bola mata Bram membulat sempurna, "Bagaimana bisa anda mengetahuinya?" tanyanya polos.
Namun, pada detik berikutnya Bram membuang pandangan ke sisi kanan kembali. Merasa bodoh dengan pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya.
"Mengapa dirimu murung lagi? Kutebak pasti kau sedang merasa bodoh bukan karena telah bertanya demikian?" baliknya bertanya dengan nada ejekan.
Bram pun mengangkat kepalanya, menatap manik hitam legam kepunyaan pria yang bukan hanya mulutnya saja yang besar, tapi cara pakaianya pun mencerminkan keanehannya.
"Aku mengira, seorang bos besar yang katanya sangat berkuasa dan ditakuti masyarakat tidak memiliki hati, tapi ternyata itu hanya sebatas isapan jempol belaka," balasnya sengaja, guna memanas-manasi hati Bram yang memang sudah mendidih tinggal menunggu meledaknya saja.
Bohong sekali jika Bram tidak terpancing dengan ucapan Olive yang jelas-jelas sedang mencemooh dirinya.
"Terserah Tuan saja ingin berkata apa. Aku tidak akan mendengarnya."
Bram tidak memiliki tenaga untuk meladeni apa lagi berdebat dengan Olive. Sekarang yang sangat mengganggu pikirannya adalah remaja laki-laki itu yang masih terbaring.
Merasa diacuhkan, Olive pun mengelus dagunya dan bola matanya berputar ke atas dan bawah. "Aku akan pergi. Jika kau merasa lapar, maka panggil saja penyedia layanan makanan online dan jangan panggil aku, sebelum makanannya sampai."
Heiks!
__ADS_1
Setelah berpesan demikian, Olive menjentikkan jarinya dan seperti biasanya, dirinya menghilang tanpa jejak seperti asap yang tertebak angin.
"Bilang saja kalau ingin menumpang makan, kau memberikan clue sebaliknya." celetuk Bram, sesaat setelah Olive benar-benar pergi dari kamarnya yang berukuran tidak besar itu. Sangat aneh, bagi Bram jika utusan langit itu bisa ikut makan layaknya manusia.
Sementara ia masih melihat anak laki laki yang sengaja, Bram bawa ke rumah petaknya itu. Karena ia belum siuman, Bram yang berniat mengantarnya malah kebingungan dan menunggu anak itu pulih dari pingsan, sehingga barulah Bram mengantarnya.
Tempat yang digunakan, untuk berlindung dari panas dan hujan saat malam itu hanya sebatas rumah kontrakan yang berada di pinggir jalan. Bram, menyewa kontrakan tersebut selama satu tahun paling lama. Entah menjadi waktu yang pas atau tidak! Dirinya terlalu kalut untuk sekarang. Ia berharap misinya cepat selesai, sehingga ia bisa kembali pada Elea dan menemui papanya yang mungkin kali ini sering bersedih menganggapnya telat mati.
Memikirkan nasib remaja laki-laki itu membuat pikirannya tidak bisa tenang. Jangankan untuk makan, menarik napas pun sangat berat rasanya. Rasanya terlalu sesak jika mengingat kembali insiden beberapa menit yang lalu di sekolah.
"Aku tidak bisa diam saja di sini." Dirinya beringsut dari ranjang, "Tapi, kemana aku harus pergi? Pastinya mereka sudah tidak di tempat itu lagi, tiga orang hangus tapi pasti akan ada banyak puluhan sepertinya."
Bram meneriaki objek yang ada di depan matanya sekeras mungkin. Lalu, mengacak-acak tatanan rambutnya dengan brutal, merasa menjadi manusia paling payah di dunia.
"Berisik!" bentak Olive yang tiba-tiba muncul kembali.
"Hey Bram! Mengapa kau berisik sekali? Aku jadi tidak bisa tidur," lanjutnya protes.
Bram mengernyitkan sebelah alisnya. Olive memandang Bram dari ujung rambut hingga kaki, "Mengapa jadi seperti ini? Lihatlah dirimu yang sangat kacau. Apa kau tidak bisa sedikit pun berpikir dengan otakmu itu," sindirnya kemudian.
"Apa maksudmu dengan aku yang tidak berpikir menggunakan otak? Setiap manusia jelas berpikir dengan otaknya dan bukan kakinya," kesal Bram membalas.
"Bodoh!" Olive, mengumpat kesal, sambil menjitak tanpa bersalah kening Bram! agar tersadar dari segala rasa sesalnya.
"Kalau kau benar-benar berpikir dengan otakmu, lalu kenapa berteriak seperti itu, sampai mengacak-acak rambut segala," tutupnya tersenyum sinis.
Bram mengakui bahwasanya dia terlalu emosional tadi, sehingga sulit untuk berpikir dengan benar. Wajar kalau Olive mencemoohnya demikian, tapi adakalanya sebagaimana manusia yang memiliki perasaan alangkah baiknya kalau bisa menjaga lisannya.
"Sudahlah, tidak perlu menunjukkan ekspresi terkejut seperti itu. Aku sudah bisa menebak isi kepalamu itu. Jadi, tidak perlu memendam kata-katamu di sana, ucapkan saja dengan bahasa yang baik dan benar," cemooh Olive tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku ingin pulang ketempat asalku, setidaknya berikan aku clue. Dimana markas antek antek yang mengancam deretan siswa sebegitu kejamnya." ujar Bram, membuat Olive senyum miring.
Tbc.