Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMBERI BALASAN


__ADS_3

Setelah memikirkan masak-masak, apa yang akan dia sampaikan pada sang papa selama ini.


Akhirnya Bram mendapat kesempatan untuk mengatakan yang ada dalam pikirannya.


"Meski kamu belum mengatakan apa pun, tapi papa sedikit banyak. Sudah tahu apa yang ingin kamu sampaikan." Reksa, beranjak dari tempatnya duduk, menuju sebuah lemari besar yang ada di sisi ruangan. Yang dia khususkan untuk menemui klien atau rekan kerjanya di rumah.


Meletakkan beberapa map di hadapan Bram, Reksa tersenyum simpul dibuatnya.


"Seperti yang papa katakan sebelumnya, tim khusus yang papa bentuk. Sangat sigap dalam segala hal, termasuk mengawasi kamu," kekeh Reksa tanpa rasa bersalah.


Bram antara tidak suka, tapi tidak bisa berbuat banyak atas perlakuan tersebut. Sangat wajar mengingat, Reksa bukanlah orang sembarangan.


Memilih secara acak berkas yang akan dia paparkan di hadapan putra dan menantunya. Saat dia buka ternyata berisi berkas pembelian sebuah penthouse, berikut izin renovasi beserta tanda bukti pembayaran jasa renovasi tersebut.


"Perincian dan pemikiranmu bagus. Melewati kecerdasan Hari, saat memikirkan masa depan, ah, Hari juga tidak kalah cerdas sebenarnya." Meletakkan map terbuka di hadapan Bram, Reksa bersedekap menanti penjelasan dari cucu menantunya.


"Bram hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Damar, Pah."


"Bagaimana jika papa mengatakan, bahwa papa tahu segalanya, Bram," tembak Reksa yang tepat sasaran.


"Tetapi itu urusan kalian, aku yakin Elea memiliki alasan yang kuat untuk itu. Padahal papa bisa saja membalik isi dunia untuknya saat itu. Tapi, papa tidak pernah menyesal membiarkan kalian menikah," gumam Reksa tanpa beban.


Percakapan Pribadi Terhenti.


Bram membuka kembali map yang lainnya, di sana tertera kepala tulisan yang terlihat paling besar dan mencolok.


PT. HS Karya.


"Papa sempat merasa hampir tersaingi, bagaimana mungkin S Konstruksi yang telah terpecah di ambil olehmu. Raja dari semua perusahaan konstruksi hampir disaingi oleh perusahaan kecil yang bahkan baru saja diresmikan." Kening Reksa mengernyit tidak suka, kemudian senyum lebarnya terukir.


"Tapi akhirnya papa justru merasa bangga, setelah tahu siapa yang ada di balik perusahaan tersebut. Papa yakin, suatu saat perusahaan itu bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di tanah air."


Bram terenyuh, jika seluruh keluarganya ada di hadapannya saat ini. Apakah mereka juga akan merasakan hal yang sama dengan Reksa?


Bangga atas pencapaian seorang Bram yang tidak diizinkan memakai nama belakang siapa pun. Sampai dirinya juga menghukum diri sendiri, dengan tidak mengijinkan memakai nama belakang siapa pun. Bahkan jika itu S yang telah menariknya dari lumpur hisap, bernama putus asa.


Setelah memaparkan apa saja pencapaian Bram, Reksa tidak memiliki kata-kata lagi untuk memuji keuletan putranya dan menantunya yang telah tiada, bahkan penelitian milik Elea telah di sewakan sehingga keuntungan setiap bulan Bram dapatkan ratusan juta, bukankah Bram saat ini sudah cukup kaya, bahkan keliling dunia pun uangnya tak akan habis. Sayang, umur Elea menantu dari Reksa Hartanto itu hanya sekejap.


Duduk di lantai kamarnya yang dingin, Bram membiarkan gelap yang pekat menelan dirinya. Bahkan hidup tanpa Elea, dirinya merasa putus asa karena kebahagiaannya dengan Elea sekejap, yang dipikirkan Bram adalah seluruh perusahaan dipegang dengan orang yang jujur, dan Bram hanya menjadi bos besar, menyicipi keuntungan dan menerima laporan saja, hidup bersama Damar adalah pelipur lara dari ditinggalkan Elea yang begitu sebentar hidup bersamanya.


Menyandarkan diri pada ranjang, kilas balik masa lalu menenggelamkan dirinya ke dalam jurang pasrah.


Menatap foto yang selama ini menjadi kekuatannya, Bram hanya mampu mendesah lelah.


Mungkin sebagian beban yang ada di pundaknya telah menguap, tapi itu dibarengi dengan beban lain yang ditumpukan pada pundaknya kembali.

__ADS_1


Nyatanya, jalan mana pun yang dia pilih. Tetap saja membawanya pada salah satu neraka yang paling dia benci. Yaitu kepercayaan, dia paling benci mempercayai seseorang. Tetapi dia harus, sebab sepanjang hidupnya tidak hanya mengenai dirinya sendiri.


Membuka laptop yang berisi kenangannya bersama Elea, tanpa sengaja Bram membuka file berisi kenangannya bersama Jingga, sebelum menikahi Elea, Jingga adalah orang pertama yang meminta Bram memutusinya dan meninggalkan dirinya bersama Elea, yang saat itu di anggap rekan kerjanya, akan tetapi mengenal Elea jauh lebih baik dan tulus dari Jingga yang mementingkan karier dan pergi begitu saja.


Bohong jika dia sudah tidak memiliki perasaan pada wanita itu, masih perasaan itu masih ada. Hanya saja, tertutupi orang rasa sayang baru yang dia rasakan pada Elea dan juga Damar buah hatinya.


Hidupnya terlalu penuh oleh keduanya sehingga tidak bisa memikirkan hal lain lagi.


Beralih pada laman sebuah aplikasi video, tepat saat itu ada sebuah live streaming dari BI yang menayangkan audisi perdananya.


Memperhatikan semua peserta dengan talenta yang luar biasa. Atensi Bram teralihkan saat ponselnya berdering di tengah malam.


Meninggalkan laptopnya yang masih menyala menayangkan, Jingga dan kelebihannya.


Bram menerima telefon dari Prio.


"Halo. Bagaimana, Pak Prio?"


"Kami sudah menghancurkan kerangka bangunan yang lama, Pak. Semua sudah rata dengan tanah, kami harus mulai membangun dari mana?"


"Sesuaikan dengan gambar yang kami berikan, Pak."


"Gambar yang diberikan dari pihak kantor sama dengan bangunan yang sudah kami hancurkan, Pak," lapor Prio dengan mengernyit. Kalau sama, untuk apa bangunan yang lama dihancurkan.


"Benarkah? Wait, Pak Prio tunggu. Jangan lakukan apa pun dulu, biar saya acak-acak kantor," pinta Bram. Sekarang dia tahu ada di mana akar masalah dari lokasi proyek.


Mengendarai mobil sendiri, dia juga menghubungi Kenan yang entah mengapa sangat sulit untuk ditelfon.


"Sial! Di mana kamu Ken?" Bram melempar ponselnya pada jok penumpang di sampingnya.


Malam yang lenggang, memudahkan Bram mengemudi mobil dengan sedikit lebih cepat.


Di tengah perjalanan, dia melihat mobil Kenan yang terparkir di pinggir jalan.


Merasa ada yang aneh, dia ikut menepi tepat di belakang mobil tersebut.


Turun dari mobil, dia hampir saja terkena pukulan benda tumpul jika tidak segera menghindar. Spion mobilnya yang menjadi korban, membalik badan. Bram berhadapan dengan satu orang bertopeng, yang begitu bernafsu memukuli dirinya.


Sekian lama tidak bertarung, seluruh persendian Bram terasa kaku. Berkali-kali dia harus menangkis pukulan benda tajam menggunakan lengannya.


Mencari titik buta dari lawannya, dia segera meninju perut kemudian mengincar perut lawannya menggunakan lutut. Tepat ketika lawannya membungkuk setelah mendapat tinjuan darinya.


Tetap menyerang, sang lawan berusaha mengunci pergerakan Bram dengan merangkul perut hendak membanting tubuh Bram.


Merenggangkan kedua kakinya, Bram menahan serangan dari lawan dengan menghantam tulang punggung sang lawan menggunakan siku.

__ADS_1


Lalu, dia pukul dagu lawan dengan sekeras mungkin sampai orang tersebut tidak bergerak lagi.


Merasakan seluruh tubuhnya yang sakit, Bram berjalan dengan tertatih mencari Kenan.


"Ken, Kenan. Kenan--"


Menyeret langkahnya lebih cepat, Bram segera menikung orang yang hampir menusuk perut Kenan menggunakan belati.


Kenan yang sudah babak belur setelah melumpuhkan beberapa orang, akhirnya memiliki kekuatan untuk bangkit demi membantu atasannya. Sebelum nyawa atasannya yang menjadi korban.


Dengan kekuatan yang tersisa, Kenan meninju perut dan dagu orang tersebut sekuat tenaga. Lalu, ambruk bersamaan dengan Bram dan orang yang hampir membunuhnya.


"Ada apa ini?" tanya Bram di tengah nafasnya yang tersisa satu-satu.


"Saya tidak tahu, Tuan. Tiba-tiba mereka menyerang saya," gerutu Kenan tanpa kesan seolah hanya bermain petak umpet, bukannya menyabung nyawa.


"Pantas saja kamu tidak mengangkat telfonku," lirih Bram bersandar pada badan mobil Kenan.


"Siapa mereka?"


"Mungkin saja hadiah dari salah satu dewan direksi, yang berkomplot dengan mandor tadi sore."


"Ah. Kamu benar juga, Ken. Sebenarnya aku ingin mengajakmu mengacak-acak kantor, aku ingin mencari cetak biru dari proyek tadi sore. Kata pak Prio, desain yang dikirim sama dengan kerangka yang sudah dihancurkan."


"Ayo, Tuan. Sebelum mereka kembali bangun."


Kenan mengajak Bram segera pergi dari tempat kejadian, sebab ada satu orang penyerang yang mulai bergerak dan mengerang pelan.


Tling!


Kekuatan Bram, seolah misi system dahulu kembali muncul. Dengan begitu juga, Bram seolah tersengat mempunyai tenaga baru. Entah Bram bingung, bukankah kekuatan system yang ia punya telah hilang setelah Oliver si utusan langit itu dan Kristal kembali ke asalnya.


Prang!!


Seseorang pria bertopeng, memukul Bram namun jatuh tersungkur lebih dulu seolah tersengat aliran listrik. Beberapa orang lagi juga ikut menyerang, namun Bram berhasil kalahkan, sehingga kala itu terlihat amat jelas, jika mereka dari enam orang berjatuhan. Hal itu juga membuat Kenan syok, melihat atasannya seolah mempunyai kekuatan super.


"Kenan, ayo lihat cctv. Aku akan segera menghubungi polisi, dengan bukti cctv mereka dan semua dalangnya berhasil kita sergap!"


"Baik Tuan." ujar Kenan, yang kembali semangat, seolah dewa penolong dan keberuntungan datang.


Buggh!


Bram memukul pria itu, dan membuka topeng itu setelah mengikat dari enam orang menyerang mereka.


"Kau cari mati, kau lupa. Aku adalah Bram Hartanto, kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun menyolek diriku, keluarga dan usahaku!" bisik Bram, kala mandor itu terkulah lemas, menutup mulut seolah meminta maaf.

__ADS_1


Tak begitu lama, mobil police pun hadir. Mereka semua di borgol, dan Bram serta Kenan saling menatap untuk membereskan semuanya sampai ke akar akarnya.


TBC.


__ADS_2