Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PENANTIAN PANJANG


__ADS_3

Setelah pergi dengan Olive! Bram, masih bisa menyempatkan dirinya ke toko butik. Meski kala itu tak sempat ke barbershop. Melainkan jentik Olive yang merubah dirinya rapih dan berjas tanpa mengantri di mall. Bram sampai di depan apartementnya, saat ia buka tidak ada Elea di sana. Melainkan secarik kertas dengan tulisan indah dan mawar putih.


[ Bram, ketika kamu sampai. Aku menunggumu di rooftop! ] pesan secarik kertas.


Bram bergegas ke lantai atas, dengan membawa satu kotak perhiasan. Sehingga tepat di pintu atas.


Sudah ada meja makan, dengan 4 kursi. Di sana sudah ada kedua orangtua Elea, dan Elea sendiri sudah memakai gaun merah menghadapnya dengan senyuman.


Tampak anggun, jika saja Bram berdua. Entah apa yang akan dilakukannya saat ini di sana. Tapi Bram langsung menghampiri dan menatap calon mertuanya itu.


"El, kamu begitu cantik." puji Bram.


"Ayo! mama dan papa udah menunggu kita!"


"Pah, Mah. Maaf, aku terlambat."


Tuan Hermawan, dan nyonya Herlita sudah senyum menunggu Bram. Mereka tampak sedikit canggung, karena beberapa waktu tak merestui hubungan putrinya itu.


"Dingin, ayolah cepat kita makan Nak! Dan kapan kamu membawa ayahmu ke rumah?" tanya Hermawan.


"Minggu depan, saya berjanji akan membahagiakan putri bapak dengan bekecukupan. Jika Elea ingin melanjutkan kuliah, saya sudah menyiapkan bahkan pusat penelitian kantor di Bandung, saya sudah mendesignnya. Saya janji pada Paman, dan Tante, tidak akan membuat hidup Elea kesulitan."


Herlita dan Hermawan saling menatap, bahkan saat itu Hermawan meraih tangan Elea, dan Herlita meraih tangan putrinya untuk bersatu pada tangan Bram.


"Kami sudah cukup melihat perjuanganmu Bram! Apapun itu, jika kamu menikahi Elea. Hidup dan matinya, sudah tanggung jawabmu. Satu hal, jangan pernah buat putri kami sedih dan tersakiti!" ujar orangtua Elea.


"Pasti, saya pasti akan menempati janji." balas Bram.


Hal itu, membuat Elea dan Bram saling menatap bahagia. Mereka makan malam bersama, Bram diakhirnya juga melingkarkan kalung ke Elea, di depan calon mertuanya. Tak lupa cincin pemberian Bram seharga 1 tingkat apartment termahal di ibukota, di sematkan di jari indah Elea.


Akhirnya setelah penantian panjang, Bram di restui dengan hubungan yang akan menuju halal.


***

__ADS_1


MANSION HARTANTO.


Beberapa Hari Kemudian. Bram tinggal di rumah peninggalan orangtuanya. Sementara Hari, dan Ibu inggrid ke Jepang, guna untuk menjemput sang papa untuk kembali.


Bram tidak banyak melakukan hal-hal berbahaya seperti di Pakubuana. Dirinya sudah tidak menjadi guru lagi. Kini dia menganggur, dikarenakan sekolah lama telah dibongkar dan beberapa rumah terlibat jadi korban, mendapat perhatian pemerintah, di evakuasi ke rumah baru.


Hari-hari yang dilewatinya hanya untuk memperdalam ilmu bela diri yang selama ini telah dikuasainya. Bram tidak ingin, kalau nanti saat melawan para biang Penjahat di lautan sana harus menelan kekalahan seperti kehidupan pertamanya, apalagi Bram kemarin diberi isyarat jika biang ketuanya, masih bersembunyi. Jadi kesimpulannya yang musnah hanya komplotannya saja.


Olive sesekali saja datang untuk berkunjung ke rumah Bram, rumah yang dulunya ditempati dia dan orang tuanya.


"Apa masih tidak ada tugas untukku?" tanya Bram, sambil meneguk air mineral dari botol.


"Belum," balas singkat Olive yang kebetulan sedang berada di sana, karena Olive bisa tiba datang dan menghilang. Jadi sudah biasa bagi Bram.


Keduanya tengah duduk bersama di halaman belakang. Bram baru saja menyelesaikan latihan tembak di sana.


Sebagai penunjang untuk memperdalam bidikannya, Bram membuat arena tembak di halaman belakang. Biasanya dua hari sekali, dia akan berlatih menembak selama satu hingga dua jam.


"Bagaimana latihanmu selama ini, apakah sudah ada perkembangannya?" tanya balik Olive membuka pembicaraan kembali.


Olive mengangguk paham, "Kalau begitu bagaimana kalau kita menguji coba kemampuanmu ini?"


"Menguji kemampuanku, dengan cara apa?" balik Bram, bertanya.


Namun, sebelum dirinya bisa menelaah situasinya, Olive sudah lebih dulu menjentikkan jarinya. Alhasil, dalam sekejap mata keduanya telah berpindah tempat.


"Di mana kita sekarang?" Bram tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. Olive terkekeh, "Kita ada di markas Kampak Merah."


"Kampak Merah? Maksudnya kita sekarang berada di Markas Kampak Merah, organisasi yang menduduki wilayah Pasar Baru di desa Karang Asam, begitukah?"


Dirinya tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Kali ini rencana apa yang Olive rancang untuknya? Berada di Markas Organisasi Kampak Merah, sama saja mencari mati. Apalagi tidak memiliki persiapan yang matang, hanya tinggal menunggu waktunya saja kalau begitu.


"Tuan gila, Ya!" umpatnya tanpa menahan lagi.

__ADS_1


"Beraninya kau menganggapku gila? Diriku tidaklah gila. Kita datang ke tempat ini karena untuk menguji sampai di mana kemampuanmu itu saja. Lagi, pula kau harus lebih banyak mengumpulkan poin kemenangan untuk bisa mencapai level berikutnya. Saat ini kau berada pada Level system tingkat ke dua. Artinya, level-mu masih sangat rendah."


Olive membeberkan bahwasanya Bram masih perlu banyak mengumpulkan Poin Kemenangan agar dia bisa mencapai Sistem Tertinggi. Itulah inti dari perkataannya.


"Ya, aku tahu itu, tapi tidak langsung di markasnya juga. Untuk menguji sampai di mana kemampuanku dalam hal bela diri, 'kan kita bisa mendatangi tempat lain, bukan di sini?" protes Bram, sekaligus membujuk Olive untuk membatalkan rencana gila ini.


"Aku rasa ini adalah tempat yang sesuai untukmu menguji nyali," balas Olive simpel.


"Coba dirimu pikirkan baik-baik. Kalau saja aku menempatkan dirimu di tempat lain, yang ada nantinya Poin Kemenangan-mu tidak bertambah. Lebih baik di sini saja, setiap kali berhasil membunuh satu orang, maka kau akan mendapatkan satu sampai tiga poin kemenangan. Benar tidak?" telisik Olive menggoda.


Bram diam. Jika dipikir-pikir kembali, yang Olive lakukan sekarang tidak sepenuhnya salah karena di sini tempat yang sesuai untuk mengumpulkan Poin Kemenangan. Akan tetapi, Bram memiliki keraguan soalnya dia tidak ada persiapan apa-apa untuk misi kali ini.


"Ini bukanlah misi," celetuk Olive yang dapat menerawang ke dalam pikiran Bram.


"Bukan misi? Jika bukan misi, lalu semua ini untuk apa?"


"Untuk melatih fisikmu agar lebih terlatih lagi. Memang kau kira dengan fisik seperti ini, Biang penjahat akan bisa kau kalahkan, tentu saja tidak!" cemoohnya sambil melipat kedua tangan. Kedua bahunya diangkat, menunjukkan sifat sombongnya pada Bram.


Pemuda yang kini usianya dua puluh lima tahun itu menghela napas panjang, "Baiklah aku pasrah dan akan mengumpulkan Poin Kemenangan sebanyak-banyaknya. Apa Kau puas?" gertaknya kesal.


Olive bergeming, ekspresinya datar-datar saja, tak ada tanggapan darinya dan membuat Bram semakin pasrah dibuatnya.


"Tapi, Tuan. Jika ini bukan misi, lalu nanti bagaimana dengan Raja Langit? Apakah ia akan marah padaku nanti?"


Hal yang paling mengusik pikirannya sekarang, tentang bagaimana tanggapan Raja Langit nanti setelah mengetahui dirinya mengumpulkan Poin Kemenangan, tanpa menyelesaikan sebuah misi.


"Kau tenang saja. Masalah Raja Langit, biarkan diriku yang mengurusnya nanti." Olive segera menjawab, sambil memakai kacamata hitam yang sedari tadi nyangkut di saku jasnya.


"Sekarang tugasmu adalah ..."


"Apa ...?"


"Mencari data penting! Penjahat kelas kakap, mereka sedang menyamar." bisik Olive, membuat Bram diam beberapa saat. Sambil, menatap gedung di depannya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2