
Berbeda tempat, Mikha yang merasa sedih di tinggal Siren, kini kisah asmaranya lah yang terasa menyakitkan. Dimana saat ini, bayangan Hari Hartanto, pria berumur digadang gadang akan kembali dengan istri pertamanya.
'Ah, rasanya terasa gila. Dimana mencintai pria bersaldo unlimited, banyak sekali godaan Dan terang terangan yang harus ia lewati.'
Bayangan Hari yang memeluk Mikha terlintas dalam pikirannya. Ia adalah orang terdekat sang papa dulu, dikenalkan, dia yang selalu menemaninya sekedar membaca buku. Belum lagi layangan perkataan kasar yang menggema untuk Mikha ketika ia berbuat salah. Tapi Mikha selalu tersenyum tak pernah marah ketika dirinya marah.
Berbeda dengan Mikha kali ini. Ia menampung banyak beban, dan segala air mata yang tertahan, bayangan pria yang ia cintai. Kini menatapnya seperti dulu saat pertama kali bertemu. Hal yang Mikha inginkan adalah merasa sekali saja di cintai oleh pria yang ia cintai. Selama ini saat bersama, dia adalah pusat satu satunya pria yang ia dambakan. Tapi kini dihadapannya itu berbeda, kesal berkecamuk kebenciaan.
Air mata semakin deras, jatuh tak tertahan. Air mata itu begitu mengalir saja. Hingga perkataan jatuh untuk menalaknya. Mikha tak sanggup kala Mas Hari memilih wanita lain. Ia sadar jika perasaan Hari saat itu, hanya sebuah alasan untuk kembalinya sebuah warisan dan dirinya tak bisa memiliki keturunan.
"Mas, apa yang ingin kamu katakan padaku. Semendadak seperti ini?" tanya Mikha.
"Aku ingin kamu bicara lebih dulu Mikha, semua karena kita tak sejalan, kamu hanya ingin dunia modeling kamu terus berjalan kan, tapi aku hanya ingin keturunan di usiaku yang tak muda!"
"Aaakh. Rasanya terlihat aneh, kenapa mas... Kenapa mas Hari datang. Apa Lena tahu, jika mas Hari menemuiku?"
"Aku bersembunyi dari Lena. Jika aku bicara aku salah menikah lagi. Apa kamu mau kembali padaku. Aku tahu, kamu pasti belum bisa melupakan aku. Bisa kita kembali atau tidak sama saja bukan?"
Mikha merasa tersambar petir, kala tangannya di genggam. Mikha tak bisa berkata apapun. Hal dalam benaknya adalah. Jika Hari, kembali berpura pura. Akan tetapi Mikha melihat tatapan tulus dari sinar mata bulatnya.
__ADS_1
"Apa Mas. Apa aku tidak salah dengar?" tatap Mikha dengan mata yang berbinar - binar.
"Kamu ga salah dengar Mikha, aku memang masih mencintaimu, tapi Lena datang ingin menebus dan memulainya. Tapi kepopuleran kamu di dunia modeling membuat aku mendekatinya dan bersama lagi, terlebih kesalahan. Aku punya Damian, tapi setengah cintaku masih mengukir nama kamu Mikha. Jujur apa hubungan mu saat ini dengan Dani?"
"Mas Hari, Damian anak ku juga, bukankah anak itu tetap anak angkat, jika kamu ingin aku hamil semua butuh proses, tidak secepat kamu bicara akan kembali pada istri pertamamu mas Hari, aku dan Dani hanya rekan kerja saja."
"Lantas ada apa dengan foto ini?"
"Itu bukan urusan mas lagi, aku ingin berdamai hanya karena kebaikan mas. Bukan untuk mencampakan dan kembali lagi. Kamu lupa sebuah kertas robek tidak dapat menyatu sempurna?"
"Tapi kita bisa Mikha. Dia tidak baik untukmu. Percayalah sama aku Mikha, kamu dan Lena akan sama aku perlakukan dengan adil!"
"Tapi kamu juga banyak berbohong, apa kamu tahu asal usulnya dia denganku? Itulah salah satu alasanku datang menemuimu kamu mengatakan semuanya tentang Lena" terdiam Mikha kebingungan.
Praaang!!
Suara piring pecah.
Lena cukup di kagetkan, kala menoleh seperti sekelebat jas hitam menghilang. Piring pecah membuat Mikha pergi dari sana.
__ADS_1
"Mikha jawablah!"
"Kita hanya kenangan usang, saat ini hatiku sudah membuang kisah kita. Sedih itu pasti, tapi aku hanya ingin bilang. Ibuku sedang terbaring karena masalah kita mas Hari, maka jenguk lah! Bahagia dengan istri tua dan terkenal boleh kamu tanamkan, bukan berarti melupakan seorang ibuku. Maaf berdamai untuk kembali rasanya tidak mungkin." pergi Mikha yang kecewa kala suaminya Hari Hartanto mengatakan akan kembali menikahi Lena sang istri pertama yang dulu gila harta.
Dan saat Mikha kembali mendekat ke arah Hari yang keras kepala, ia menghindar.
"Mas kamu mau kemana, kita belum selesai bicara. Kenapa kamu pergi?"
Mikha tak percaya, dan ia kembali berlarian ke atas ruangan kerja, tak sedikit ia menemui barang suaminya. Bahkan menanyakan pada office tidak tahu, anehnya Zei juga tak ada disana, dimana ia selalu bersama Hari hartanto.
"Mas kamu kemana, apakah itu kamu. Maafkan aku, aku bukan diam diam bertemu dengan pria itu." ujar Mikha yang memencet nomor, tapi tak tersambung juga.
Mikha segera mengambil tas, berusaha mencari keberadaan mas Hari di rumah. Sampai dirumah, Mikha penat. Tapi hasilnya nihil, Mikha pun mencoba menghubungi seseorang, karena kebingungan akan mas Hari yang tidak biasanya menonaktifkan telepon.
"Mas, ayolah aktifkan ponselmu. Jawab telepon aku." panik Mikha yang pergi dengan sebuah mobil amat cepat meninggalkannya.
Dimana Hari Hartanto berusia 46 tahun itu, pergi begitu saja meninggalkan Mikha tanpa melihat perasaannya yang rapuh. Di kala suaminya harus kembali dengan mantan istrinya.
Tbc.
__ADS_1