
Meninggalkan kisah drama cinta Damar, ia sendiri begitu lucu ketika Mikha gadis yang dijodohkan Dady nya untuknya. Malah menolongnya, menikah dadakan membantunya melamar Siren, wanita pujaan hatinya.
Dan saat ini Damar sendiri berada di kantor paman Hari, mencoba mencari data perusahaan akhir bulan, untuk ia kembali cek terkait saham Damar, seutuhnya banyak di beberapa perusahaan warisan yang setiap harinya membuat Damar sibuk. Akan tetapi ketika jadwalnya padat! ia menonaktifkan ponselnya, sambil menunggu paman Hari kembali. Karena ia berpesan keluar sebentar dan segera kembali.
Apartemen Baru.
"Mas terimakasih aku harap kamu tetap selalu mengunjungi ku, bahkan aku bingung aku harus apa di Apartment ini sendirian!"
"Tak perlu kamu bersedih. Mikha aku sudah seharusnya bertanggung jawab, maaf karena masuk dalam kehidupan ku. Tapi satu hal mantan istriku kembali, kamu harus seperti ini, ada asisten yang menemanimu setiap hari tapi kita tidak tinggal di apartment bersama. Aku akan bertanggung jawab untuk anak dalam kandungan mu. Tapi jangan pernah muncul apalagi mengusik mantan istri yang datang membuatmu cemburu!" ujar Hari pada Mikha.
Mikha merangkul peluk tubuh dari belakang, ketika itu pun Hari menatap helaian lembaran foto hasil usg yang diberikan Mikha.
Hari Hartanto adik dari Bram, membalikkan tubuhnya dan menatap Mikha, ia bingung untuk meninggalkan Mikha dan memberikannya tunjangan dan kemewahan, ketika Lena datang kembali pada keluarga besar ini sejujurnya Hari juga perlu generasi, yakni seorang anak seperti sang kakak Bram, karena pernikahan yang pertama ia tidak punya satu anak hingga bercerai.
Tapi ia tidak tega karena Mikha juga wanita baik, gadis polos yang membuat keluarga nomor satu selalu ada di jajaran menonjol. Hari juga tak mempunyai siapapun, setelah lama mama Inggrid pergi selama lamanya. Sama hal seperti Mikha. Bagaimanapun Mikha adalah kesalahannya juga, yang masuk dalam hidupnya pasca bercerai. Terlebih ia sedang mengandung anak dalam rahimnya.
"Honey... kenapa diam?" tanya Mikha. Yang sedang menatap sang suami. Ia diam memandang menatap suaminya itu.
"Ada yang kamu ingin bicarakan honey?" tanya kembali Mikha.
__ADS_1
"Aku mau kamu sehat dan bayi kita sehat. Jangan berpikir aneh aneh aku akan berkunjung lagi, pastikan kamu selalu baik baik saja. Beberapa minggu ini, aku akan sibuk ke luar kota. Jangan pernah meladeni Lena, ketika ia datang berkunjung ke rumah Dady Bram. Dia datang, hanya ingin harta gono gini saja. Setelah kandungan mu membaik, aku yakin kamu boleh naik pesawat. Kita akan menetap di portugal."
"Aku bisa tinggal dan menemani mu keluar kota honey. Aku akan berhati hati menjaganya?" Mikha tersenyum getir, kala sebagai istri kedua yang masih belia, membuat ia terpesona pada tampannya pria yang tak pernah ia bayangkan, ketika keluarga menjodohkan nya dengan Damar, entah mengapa Mikha dan paman Hari berjodoh.
Meski ia yakin jika semua akan tercium, dia bukan perebut suami wanita manapun. Tapi ia juga tak ingin selamanya seperti tak mempunyai suami seutuhnya. Meski ia di nikahi nomor dua, tapi Mikha berusaha untuk merebut posisi wanita seutuhnya.
Hari pun bertekuk dan menyandarkan telinganya ke perut Mikha.
Meski ia penasaran dan bahagia ketika ada janin hidup darah dagingnya. Ia teringat bagaimana Mikha saat hamil bahkan ia tak disampingnya dan perkembangannya pun jauh. Beruntungnya Siren istri Damar selalu mengunjungi Mikha, karena rumah mereka tidak jauh hanya bersebelahan saja.
"Anakku sehat selalu dalam perut Mama ya, papa akan selalu ada untukmu." ujar Hari mengelus perut Mikha.
"Mikha aku harus kembali ke kantor nanti malam kita makan bersama. Tak perlu masak aku sudah menyiapkan nya. Jaga dirimu dan istirahat yang cukup ya!"
***
Sementara Di Tempat Lain :
"Suami mu sudah bisa dihubungi Siren?" tanya Mamanya, yang sedang menjahit sulaman.
__ADS_1
Papanya juga yang sedang menyiram bunga anggrek persis disampingnya. Siren pun menggeleng dan berkata. Jika Damar akhir ini sulit dihubungi. Selalu membuat khawatir, sehingga tatapan Siren menatap ponselnya berkali kali risau.
"Nanti Siren coba hubungi lagi Mah."
Semenjak Damar, pergi keluar kota bersama pama Hari. Siren merasa Damar sembunyikan sesuatu deh, orang yang sulit ditebak. Ketika dibutuhkan sulit tapi tiba tiba sudah ada dihadapan. Apa kehidupan sebelumnya memang Damar seperti itu, selalu membuat khawatir. Selalu saja bikin Siren curiga tiba tiba. Setelah kita resmi, Damar sering sekali sibuk membuat Siren bosan menjalani rutinitas.
"Cepat punya anak Siren!" sindir mamanya.
"Betul itu kata mama mu nak." tambah papa.
Kedua orangtua Siren menggeleng. Mereka saling menatap karena takut Damar berulah kembali, menyembunyikan kelakuan Hari yang gila, dan membuat Damar celaka dan ikut ikutan tidak baik. Sejujurnya Damar tipekal pria setia, hanya saja terbawa pria dewasa, bahkan sosok damar sendiri memang seperti Bram, yang setia pada satu wanita, tetapi tetap saja sebagai orangtua merasa ikut khawatir akan kecemasan putrinya itu.
Sementara Siren yang menatap album terdiam lama hingga tak sengaja jarinya tertusuk isi staples yang merekat pada plastik album.
"Auuw... sakit." telunjuk Siren pun berdarah dan perasaan nya sedikit sakit.
"Kenapa Siren?"
"Jari berdarah! Siren jadi ga enak sama Damar deh. Apa Siren ke kantornya aja ya?"
__ADS_1
"Ya udah! ga ada yang salah kok, papa malah suka kamu ke kantor suamimu. Ingat image seorang istri bos itu penting." membuat Siren mengangguk, entah kenapa Damar semakin hari semakin membuatnya ketakutan.
TBC.