Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 BANTUAN BURUK


__ADS_3

SHOW SHOOTING


"Sayang sekali, aku menyukainya tapi aku tak menyukai modelnya." ucap Mikha, di toko berlian bersama Ihsan.


"Ya sudah, cepat sedikit Mik, sebentar lagi break kita berakhir, belum lagi kita harus mengambil adegan asmara." balasnya.


Ihsan dan Mikha sama - sama teman kecil, sepupunya dengan cita cita dan obsesi model di dunia keartisannya terwujud. Sehingga tak sedikit project mereka bermain dan berpasangan bersama.


"Sabar, Ihsan cuma adegan gitu aja dipusingin. Sebentar lagi aku selesai."


Mikha pun menoleh, dan terkejut melihat seseorang sedang berada di toko berlian tersebut. Mikha menatap dengan terkejut.


"Lihat apa, Mikha?" tanya Ihsan.


"Sena dan siapa laki laki itu ya?"


Mikha menunjuk dan berbalik menutup setengah badannya, dengan badan Ihsan dari belakang.


"Diam, jangan banyak bicara Ihsan, nanti aku jelaskan. Sekarang maju lah ke arah sana!"


"Apa - apaan sih, mulai aneh kamu Mik," Ihsan yang malas berdebat, mengiyakan jika Mikha menempel dibalik belakang punggungnya dan bersandar.


Jepreeet... jepreeeet.


Sebuah cahaya kamera mengabadikan posisi Mikha dan Ihsan.


"Ah, Mikha ayolah kita sudah lama disini, kita harus segera kembali. Makan siang di mobil gantinya, kamu suap in aku juga."


Mikha yang menohok, jika bukan menyelidiki soal Sena, dan skandal iparnya itu. Mikha mana mungkin sudi menyuapi Ihsan laki laki pecicilan itu.


Ketika landas mobil, dengan kecepatan sedang. Mikha yang makan burger ditangan kiri, dan kanan menyodorkan burger milik Ihsan di tangan kanannya. Mereka sambil menyetir, Ihsan disuapi oleh Mikha.


"Mikha, kamu ga keberatan dari tadi banyak jepretan dan berita kebohongan soal hubungan kita." ucap Ihsan.


"Humph, aku bisa apa Ihsan. Sudah ga aneh kan kita dibuntuti, difoto diam diam. Lagi pula bagus dong, jadi kita selalu dipasangkan bersama dan gak canggung tiap dapat project. Mereka nitizen ga pernah tahu, kita itu sepupu an."


"Iya sih, kamu kan gak bisa lepas dari kegantengan perfect seorang Ihsan dan Mikha yang always bersama."


Dengan pede menaikan kerah kemeja, Ihsan membusungkan jalannya.

__ADS_1


Uhuuk ..uhuuk.


Mikha tersedak dan mengambil sebotol air mineral, akan sikap Ihsan sepupu anehnya itu.


"Tapi aku jujur Mikha, bagus kita belum punya pasangan, entah apa yang terjadi mungkin gak kuat kalau kita sudah punya pasangan, karena lovers penggemar kita nanti kecewa ciwi, terbata bata melihat seromantis pasangan palsu ini."


"Kau lupa Ihsan, aku udah bersuami. Sayangnya! Kau tahu, suamiku berumur dan tidak cemburuan, bahkan aku istrinya saja tidak terlihat bukan." jelas Mikha.


"Ah iya, aku lupa. Kamu ini istri yang ga di anggap ya. Hahaha."


Kamu ini pria tapi gemoy lemes kaya cewe. Mana aku naksir sama kamu. Kamu cool kalau depan layar kaca. Di belakang layar kamu kaya perempuan. Lihat tas kamu penuh sunblock dan serum. Dasar pria jadi jadian, gerutu Mikha kala itu.


"Hahaha ... suer deh aku bawa itu cadangan, kalau kamu ga bawa Mikha." ucap Ihsan mengeles.


Mikha hanya tertawa, jika bukan teman seorang Mikha yang mengejeknya, sudah ia pukul. Ihsan pun tersenyum sambil menyetir,


karena baginya bersama Mikha, sudah teman dari kecil masih satu saudara seibu.


"Mikha, tadi siapa yang kamu lihat?"


"Gini ya Ihsan, kamu kan paham semenjak Siren menikah, Kara sibuk jadi dokter. Cuma kamu nih gantinya, sahabat yang selalu ada di setiap kita satu job. Cewe tadi, seperti skandal suaminya. Damar Hartanto."


Mikha, memutar mata dengan menghabiskan burger terakhir dengan satu suapan. Lalu menjilat jari jari lentiknya, dan membasuh dengan tisue basahnya. Lalu ia minum dan menghela nafas. Hanya Ihsan, yang bersabar menghadapi tingkah Mikha.


"Udah selesai." ucap Ihsan.


"Oh, aku kenyang alhamdulillah. Soal itu anggap aja aku jadi detektif Ihsan, aku ga bisa jawab sekarang yang jelas ini ada kaitannya dengan sahabat kita Siren. Menyangkut kekayaan tujuh turunan yang tidak akan habis pokoknya mah."


Tak lama, Ihsan mendadak mengerem karena satu mobil menyelip dengan kecepatan tinggi.


"Ah gila ya, masih ada aja orang yang balapan mobil di jalan ramai meski jalan tol sedikit sepi, tapi membahayakan."


"Hoh. Jika seperti ini mati mendadak aku akan bergentayangan, karena tidak rela belum menikah masih muda sudah mati mengenaskan." tambah lagi Ihsan.


"Alamak, Ihsan lebay banget sih. Dasar raja drama, tapi apa aku salah liat ya, mobil tadi seperti mobil Damar, dan yang kedua mirip Daru."


"Apa?"


"Serius Damar, suami Siren. Ok aku akan cepat, ke lokasi syuting. Waktu kita ga banyak Mik. Ga akan bisa mengejar mereka dan jangan campuri dan jadi masalah baru."

__ADS_1


Ihsan melaju cepat mobilnya, ke lokasi syuting, sebelum Mikha meminta hal aneh dan lebih.


Mikha, kesal andai jadwal masih longgar kegiatan selesai, ingin sekali meminta Ihsan, mengejar mobil Damar dan Tuan Daru, karena Mikha kenali dari nomor plat dan mobil sportnya mereka itu.


Mikha lemas, "Maaf ya, Siren aku gagal mengikuti mereka." lirihnya.


***


Di satu ruangan tinggi. Tepat di lantai paling atas, Damar dan Daru saling menatap.


Damar, menjelaskan akan kesalahpahaman tentang Sena, dimana Damar tahu jika Sena adalah sepupunya. Jika bukan karena istrinya, Damar tidak mungkin menemui Daru, saingan yang dimana dia adalah pria yang tergila gila dengan Siren.


Daru mendekat dengan kancing lengan dibuka, dan sedikit ditarik ke atas. Perlahan menghampiri Damar, seolah tak memberi ampun. Bahkan Daru menarik kerah Damar dan memukulnya berkali - kali hingga terjatuh.


Bug ... pukulan kembali. Namun Damar, menahan dan tetap menjelaskan.


"Jika aku tidak bersalah, aku tuntut kau yang memukulku!"


"Kalau begitu, tinggalkan Siren. Jika kau menikahi Sena, aku pastikan aku yang akan merebut membahagiakannya."


"Sial. Pertemuan ini, kau lebih tahu soal Sena bukan?" teriak Damar.


Dan dijatuhkan lah tubuh Damar, hingga lemas penuh darah. Daru meninggalkan Damar yang lemas.


Tak lama, seseorang dari belakang memulai menghampiri tubuh Damar yang lemas. Bahkan menjulurkan sebuah pisau yang tajam.


Jleb.


Sebuah tusukan mengenai tepat di jantung, seolah mata Damar terbuka diam.


"Tidak .. hubby."


Teriak Siren membuka mata, di dalam rumah sakit. Seluruh bodyguard dan asisten menghampiri keberadaan Siren, yang tiba saja berteriak histeris.


"Ada apa non Siren?" tanya sang bibi, dengan menyodorkan satu gelas air putih.


Siren pun menatap dan menangis tersedu sedu memeluk asisten nya, menanyakan keberadaan Damar.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2