
Bram, yang kala itu sudah membawa satu gerombolan. Ia segera menarik ikat pinggang, dengan satu tebasan di ulurkan ke atas, menyamping. Pistol seorang pria yang ingin menembak Bram, lepas begitu saja.
Jatuh!!
Dan, benar Bram mengambil ahli pistol itu. Akan tetapi di salah satu di belakang Bram, ingin memukul kepala Bram dari belakang. Entah kenapa ia juntai bagai terkena penyakit aneh, Bram melirik dan ketiga gerembolan menyaksikan dengan Heran.
'Woiy! Kenapa dia ...?' rekannya berbisik.
Pria itu sebelum memukul Bram, lebih dulu mati terkujur kaku tanpa gosong, mungkin karena sebuah pemukul stainless besi, sehingga aliran sengatannya masuk energi sengatan listrik ditubuh Bram. Bukan main, Bram juga nampak terkejut lalu ia kembali ke semula fokus.
"Maju kalian semuanya!" Bram, berseru sambil memberikan isyarat supaya mereka yang ada di sana langsung menyerang dirinya dalam satu waktu.
Memang terbilang gila, jika mengingat jumlah mereka lebih dari lima orang. Satu melawan lima orang, siapa yang akan keluar jadi pemenangnya? Tipis kemungkinan kalau Bram, yang memenangkan duel tak seimbang ini.
Mungkin saat jumlahnya masih lima, maka Bram bisa menghadapi mereka dengan mudah. Nyatanya yang menjadi pertanyaan sekarang, jumlah mereka semakin bertambah seiring dengan suara keributan di sana yang semakin besar.
Bram pun, mengutuk Olive yang sedang bertarung di posisi berbeda. Andai saja Dia tidak berisik seperti sekarang ini, maka anggota genk Merah tidak akan keluar dari sarang mereka.
Olive yang tengah asyik menghadapi satu persatu anggota genk Merah di sana pun tersenyum puas! karena bisa merasakan, kalau saat ini, Bram sedang mengumpat sekaligus mengutuk dirinya.
Yaaaachhh!!
Pertarungan tak dapat terelakkan lagi. Bram benar-benar dikepung oleh lima orang lain yang jika dilihat dari postur tubuhnya saja sudah kalah.
Bram melompat setinggi mungkin demi menghindari serangan senjata tajam yang diarahkan langsung kepadanya.
Dengan gerakan memutar, Bram menendang satu persatu tangan lawannya dengan tenaga dalam yang besar, sehingga senjata mereka terlepas.
Bram, kembali berpijak pada tanah. Mereka yang belum sempat menelaah situasinya, pada detik itu juga, Bram langsung langsung menjegal mereka. Dia melakukan serangan bawah dengan menyapukan kakinya, sehingga mereka yang masih berdiri itu terjungkal hanya dalam hitungan detik saja.
Mereka yang tidak terima kasih pun mengumpat kesal dan mengutuk Bram. Para pria-pria gagah, berotot besar dan lenggang kekar itu segera mengeroyok Bram, serangan datang dari segala sisi yang ada.
Tling!
__ADS_1
Sebuah sinar dengan tulisan, yang hanya bisa dilihat mata tajam Bram dengan fokus.
[ Bram, misimu kali ini mengalahkan mereka tanpa adanya kekuatan system! ] tulisan samar yang hanya bayangan, tembus pandang.
'Woah, apa ini. Kenapa mataku jadi ngaco?' batin Bram, setelah membacanya. Ia kembali melawan mereka.
Bram merunduk saat tinju-an hendak mengenai kepalanya. Dia yang berhasil menghindar pun selamat, sementara tinju yang meleset itu malah mengenai anggota genk Merah lainnya. Sungguh trik menghindar yang keren.
Bram, tak ingin berpuas diri hanya karena berhasil menghindari satu serangan. Masih ada serangan-serangan mematikan lainnya yang bisa saja mengancam nyawanya, mengingat jumlah anggota genk Merah yang semakin bertambah.
"Panggil seluruh anggota yang ada, kita kedatangan tikus kecil yang tidak tahu arah jalan pulang!" seru pria itu yang berani menjatuhkan perintah pada yang lain.
Dalam sekali lihat, Bram bisa menebak kalau pria itu adalah pemimpin dalam kelompok di sini. Dari tampang wajah memang terlihat sangar, terbukti dari banyaknya bekas jahitan ada wajahnya, yang mengartikan ia telah melewati banyak pertarungan hidup dan mati.
Bram tersadar dari lamunannya saat salah seorang anggota genk Merah hendak menghujaminya dengan pisau. Kalau saja dirinya tidak cepat-cepat menghindar, dalam persekian detik pisau itu bisa saja melukai perutnya.
Dengan gerakan memutar, Bram berhasil menjatuhkan serangan berupa pukulan keras pada lawan duelnya itu. Pisau yang digenggamnya itu terlepas dan jatuh tepat di bawah kaki Bram.
Tanpa menunggu lama lagi, pisau tersebut dijadikan Bram, sebagai senjatanya. Selama itu juga bogeman dan tinjuan terus mengarah pada Bram secara bersama-sama.
Anehnya disaat Bram membutuhkan kekuatan system. Tenaga sengatan listrik yang Bram miliki tiba tiba saja hilang! Bram sendiri dengan kekuatan aneh yang ia miliki dikehidupan kedua memang tidak bisa berfikir, kadang disaat terdesak tiba saja musuhnya hangus terbakar karena sengatan tangan listrik yang Bram miliki, tangannya biasa saja tidak merasakan panas.
Kini Bram, tak mau membuang waktunya yang berharga karena saat ini, ada banyak nyawa yang menunggu untuk diselamatkan.
HYAAACH ...
Bram berteriak sekeras mungkin, dirinya memutar tubuhnya searah jarum jam dengan kecepatan tinggi. Lalu, tangan yang tak memegang pisau itu dijadikan alat untuk meninju wajah-wajah yang ada di hadapannya.
Pukulan yang diberikan mengandung tenaga dalam yang tinggi, sehingga sekali terkena maka rontoklah sebagian gigi mereka.
Bram, tidak puas hanya dengan membuat mereka kehilangan gigi saja karena pertarungan belum usai.
Dirinya kembali memutar badannya, kali ini dengan satu kaki yang terangkat ke atas, sedangkan kaki satunya lagi menopang tubuhnya.
__ADS_1
Hugb ...
Hugb ...
Hugb ...
Dengan gerakan secepat kilat yang tak mampu mereka baca, Bram menyapu semua orang dengan pukulan dari kakinya.
Hanya dalam hitungan detik saja, lima orang tersungkur di tanah sambil memegangi pipi masing-masing yang terasa nyeri.
Darah segar memuncah dari mulut mereka. Bram, menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dari mulut. Setelah mengeluarkan tenaga yang cukup banyak, dirinya harus segera memulihkan tenaga lantaran musuh yang datang semakin banyak saja.
"Maju kalian! Dengan begitu aku akan leluasa mengakhiri kalian semua, hari ini juga!"
Bram, berseru lantang, dia berkata tanpa merasa takut. Sadar kalau bisa saja hari ini nyawanya ikut berakhir juga, tapi setidaknya Bram tidak menyesal, jika harus mati di tempat ini.
Sekurang-kurangnya dia telah menyelamatkan nyawa anak-anak yang masih disekap itu. Andaipun dia mati sekarang, setidaknya hutang budinya pada Oliver sudah terbayarkan, karena membantunya selamat dari kecelakaan tragedi jurang Naga Buaya.
Bram, berlari cepat untuk mendatangi anggota genk Merah yang juga berlari untuk menghalaunya.
Pertarungan tak dapat terelakkan lagi. Satu melawan puluhan orang. Namun, Bram tidak takut sama sekali. Dia tersenyum saat melawan mereka semua.
Anggota genk Merah sampai bergidik ngeri, mendapati Bram, yang tersenyum saat bertarung.
Mereka tahu, orang yang tersenyum dan tidak berkedip saat membunuh seseorang, artinya ia telah melewati banyak pertarungan hidup dan mati.
Pada kehidupan pertamanya, Bram memang tidak banyak membunuh seseorang, tetapi selama tiga tahun terakhir itu dirinya dihadapkan dengan berbagai pertarungan, yang membuat pengalamannya kian bertambah.
Lalu, pada kehidupannya kali ini, dirinya telah melatih fisiknya untuk mencapai ketahapan yang lebih jauh.
Setiap gerakan yang tercipta, diperolehnya saat melakukan pertarungan pada kehidupan pertamanya.
Bram, sekurangnya telah berhasil melumpuhkan tujuh orang lainnya. Mereka rata-rata mengalami luka lebam di wajah dan patah tulang.
__ADS_1
Sehingga Bram, meninggalkan tempat itu dan mencari keberadaan anak anak disekap, yang seumuran Arsen, siswa malang yang ia selamatkan.
Tbc.