Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENYUSUN SIASAT


__ADS_3

Di samping itu, Elea merasakan ada yang janggal pada rumah yang ia kunjungi saat ini.


"Kristal, apakah kamu punya sihir, atau jampe jampe..?"


"Eh, kenapa kamu bilang gitu. El ..?"


"Suster tadi kenapa aneh diam seperti manekin di toko baju, bahkan beberapa orang yang lewat ikut diam juga. Apa kamu punya magic, jika ia katakan padaku! Lalu kenapa kamu ga bisa lihat Bram, saat ini dimana? Ayolah bantu aku!"


'Eh, iya juga. Benar kata kata Elea memang ada benarnya. Tapi jika aku pergunakan melihatnya dengan kemampuan langit, aku bisa dihukum, di rantai di perbatasan gunung emas, tidak seperti saat ini aku bebas, bisa ke dunia manusia, dan dunia lain. Tapi, ...?' batin.


"Kristal, Heiiy!! Kamu kok diam sih, ...?" Elea melambai tangan, tepat ke wajah Kristal.


"Kita sebaiknya masuk El, aku ga punya magic. Itu ga mungkin, hanya saja tadi aku belajar tutorial pesulap hipnotis dengan nama tenarnya Aji Mumpung! Kebetulan itu, pasti kebetulan banget." meringis tawa Kristal.


Elea hanya menggeleng kepala, ia tak yakin pada sikap Kristal, yang mirip menyembunyikan sesuatu darinya.


Sampailah Di Rumah Gaya Minang, tapi atap dan tembok catnya itu sudah kusam dan mengelupas. Ada rasa ragu, kala mereka mendekati rumah yang mereka cari. Tampak seperti bangunan kosong dan tua.


Hingga beberapa saat, Elea dan Kristal mengetuk pintu rumah yang mungkin di huni oleh keluarga Arsen Khaimar. Tak lupa mereka ucapkan salam, akan tetapi sudah belasan menit tak ada jawaban. Hingga seseorang yang lewat menyadarkan, tatapan Elea, Kristal pun tampak panik ketika seorang bapak paruh baya sudah ada di belakangnya.


'Astaga! Wah, aku kaget.' syok Elea, dan mendelik.


"Mbak cari siapa, mbok Siem ya? Ga ada orangnya." ujar pria membawa cangkul, dan berkaos putih polos kusam, lengkap dengan celana pendeknya.


"Sa-saya pak. Begini pak, saya cari Arsen Khaimar. Apa benar ini rumahnya ya?" tanya Elea.


"Benar sih, tapi orangnya udah pindah mbak! Setau saya dua pria yang katanya masih saudaranya, dan yang satu mirip banget sama Arsen, anak itu keliatannya sih ketemu ama bapak kandungnya. Secara dia kan tinggal sama neneknya, mbok Siem." ujar pria itu.


"Bapak tau gak kira kira, pindahnya kemana?" sambung Kristal.


"Enggak, tapi coba cari tahu kesekolahnya aja, mbak!"


"Tunggu sebentar pak! Apa salah satunya Pria itu mirip dengan di foto?" Elea memperlihatkan, foto Bram di ponselnya.


"Eh, iya ini bener. Kayaknya dia bapaknya deh, setau saya. Arsen itu, ibu bapaknya cerai dan dari bayi kasian dia, ga pernah ketemu." jelasnya Asal, pria itu menyimpulkan.


"Haah, jangan ngada ngada pak. Masa iya, Bram bapaknya?" cetus Kristal, yang saat itu Elea tak jadi berfikir buruk.


Elea dengan kilat, ia langsung mengambil bolpen dan kertas kecil.


"Wah, alhamdulillah. Makasih ya pak! Informasinya ngebantu saya."

__ADS_1


"Sama sama mbak."


Kristal pun meminta Elea bersabar! Belum lagi, memang tidak bertemu Bram hari ini. Pasti bisa bertemu esoknya.


"El, kita pulang sekarang ya! Kita kembali lagi besok, ini udah sore. Sekolah pasti udah bubar ga bersisa satupun, gurunya juga."


Elea pun yang mendengar penjelasan Kristal, menurut.


***


Sementara Di Berbeda Tempat.


Rencana Menyelamatkan Anak-anak yang ditahan. Olive dan Bram, pun mendatangi wilayah bernama Rawa Buaya. Tempat yang lokasi pastinya masih berada di daerah Paku Buana.


Dari penuturan Khaimar sebelumnya, kalau anggota genk Merah banyak menyekap anak-anak dan remaja seusianya di wilayah itu.


Arsen tidak diikutsertakan dalam aksi kali ini karena akan sangat membahayakan nyawanya.


Sebelum mendatangi wilayah Rawa Buaya, Olive dan Bram, menyusun rencana terlebih dulu. Tujuannya agar tidak terjadi mis saat melancarkan aksi penyelamatan tersebut.


"Arsen, mengatakan kalau tempat ini memiliki luas seperti lapangan sepak bola dan terdapat empat rumah yang digunakan untuk menyekap anak-anak dan juga menyimpan barang-barang haram," jelas Olive? sambil menunjukkan sebuah peta yang dibuatnya untuk menggambarkan kondisi di lapangan.


Dengan menggunakan tongkat yang terbuat dari bambu, Olive menunjukkan titik-titik yang harus didatangi keduanya.


"Kenapa tidak pakai kekuatanmu saja untuk mendatangi markas mereka?" celetuk Bram, di tengah-tengah keseriusan Olive saat menjelaskan.


Pria itu menatap Bram, penuh kemarahan.


PLANG ...


Dibuangnya tongkat tersebut dan membuat peta tersebut, seketika lenyap dari pandangan.


Bram pun menyeringai, menatap penuh selidik pria di hadapannya itu.


"Aku sudah menduga kalau peta ini hanyalah ilusi. Mana mungkin Tuan membuat peta dalam kurun waktu kurang dari satu jam, sedangkan peta ini memiliki detail yang rumit. Benar bukan tebakan aku ini, Tuan Utusan Langit?"


Dia mengangkat bahunya, melipat kedua tangan, menatap lekat pria dihadapannya itu sambil menunjukkan senyuman penuh kemenangan.


"Bagus sekali. Ternyata sekarang kau sudah mulai memahami diriku. Boleh juga," balasnya memuji demikian.


"Tidak kusangka kau bisa belajar dengan cepat juga ya, tapi saat ini bukan waktunya kita berdebat, karena ada banyak nyawa yang meminta untuk diselamatkan."

__ADS_1


Bram pun melunak. Dirinya bukanlah tipikal pria sombong, orang yang keji seperti orang-orang bayangkan di luaran sana. Meskipun diakui, dirinya sangat suka kekerasan, tetapi Bram tahu betul harus menempatkan dirinya sebaik mungkin.


"Ayo, kita selamatkan anak-anak itu dan mengembalikan senyuman semua orang."


Olive mengangguk. Hal yang menjadi nilai tambah Bram, di matanya, iyalah sifatnya yang sangat perduli dan lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Olive melakukan hal yang sangat sering dirinya pergunakan.


THEK ..


Hanya dengan menjentikkan jarinya, seketika suasana tempat langsung berubah dari sebelumnya.


"Apa kau sudah siap?" tanya Olive hanya sekedar memastikan saja.


Bram pun mengangguk, dirinya sudah sangat siap secara mental dan fisik. Selama beberapa hari terakhir, dirinya melatih kembali fisiknya yang selama menjalani kehidupan kedua jarang sekali dilatih.


Bram, mengingat kembali semua jurus yang sudah dipelajarinya pada kehidupan pertamanya dan mulai mempelajarinya kembali, untuk mempertajam kemampuannya.


"Sebelum ini aku sudah memeriksa keempat rumah yang ada di depan kita sekarang. Rumah pertama, yang memiliki corak hijau telor bebek itu, ditempati sekitar sepuluh anggota genk Merah yang berada di tingkat Mafia Kelas 3," cerocos Olive menerangkan agar tidak salah kaprah nantinya.


"Lalu, rumah yang kedua. Memiliki corak merah muda keabu-abuan tua itu, di dalamnya sekitar 18 anggota anggota genk merah yang berada di tingkat Mafia kelas 2."


Bram mengangguk. Otaknya pun sedang bekerja menyerap segala informasi yang tengah Olive bagikan padanya.


"Rumah ketiga dan keempat itu, di sanalah anak-anak di sekap. Saat ini penjagaan cukup renggang karena hanya ada lima Anggota genk Merah yang berjaga. Itupun mereka berada di tingkat Mafia kelas 3. Seharusnya itu mudah untuk dirimu mengalahkan mereka bukan?"


Bram, bisa langsung menangkap ke arah mana pembicaraan Olive pada kalimat terakhirnya itu. Baginya tidak perlu menjawab apa lagi berdebat karena rencana yang telah disusun pun sangat jelas.


"Aku akan mengalihkan mereka yang menjaga di depan rumah ketiga dan keempat itu. Selebihnya, aku serahkan ke dirimu, Bram." pinta Olive.


"Baiklah, aku juga sudah tidak sabar melenyapkan mafia yang hanya membuat rusuh, dan memperkaya diri. Seorang Bram, pasti akan hilangkan orang jahat di muka bumi ini." cetusnya, membuat Olive diam.


Tlith!


Dering ponsel Bram bergetar, 'Selamat Bram! Misi segera berakhir, saldo 150 juta sudah berhasil masuk ke rekeningmu.'


"Wah, apa ini ...? Bingung Bram, menatap ponselnya, yang diberikan Olive beberapa waktu lalu.


Tbc.


Note : Makasih atas suportnya, mohon maaf jika masih banyak ada kesalahan. Bram, masih crazy Up! Hanya saja, lolos review yang lama.

__ADS_1


__ADS_2