
"Aku harus pergi, ada kerjaan penting yang harus aku lalukan sore ini juga."
"Mengantar paket lagi? Kak, ayolah bukankah kau sudah menjadi bos. Kenapa harus mengantar lagi?"
"Diamlah! Bahkan tanah desa, baru itungan jam. Mana mungkin sudah mendapat keuntungan." jelas Bram.
"Ok, good luck. Tiga jam lagi, aku bantu permintaanmu." ujar Hari, yang tidak bisa menolak permintaan Bram.
Dalam beberapa puluh menit, Bram pun sampai. Rumah pohon Qi Ruslan, ia segera mendetek ip namenya.
Tling.
[ Bram, antarkan dua orderan ke desa Arga raharja. Pt, queen antam! ]
Dengan bantuan system, Bram telah memindahkan timun emas ke dalam box, seberat 25kg.
Selama perjalanan, banyak rintangan kala setiap kendala macet, ban pecah di saat tidak tepat. Mau tidak mau, Bram menyewa otoped dan box berisi pesanan, segera ia jinjing dengan tas box selempang.
Pt Antam Arga Raharja.
"Paket, delivery sayuran box datang."
"Paket, delivery sayuran box datang."
Hingga seseorang datang, dengan wajah pucat dan datar membuat Bram hampir terpana.
"Kemarikan box nya! Pergilah setelah selesai!" ujar pria itu, sambil menunjukan bukti pembayaran, menahan Bram masuk ke dalam gerbang
__ADS_1
"Ba-baiklah. Segera tanda tangani ini pak!" Bram dengan penuh tanya.
Bram setelah mengecek, ia segera pergi. Dan benar saja, system aplikasi deliverynya membuat Bram menohok.
Tling!
[ Selamat, Bram misimu berhasil. Kamu berhak mendapatkan 100 juta rupiah, dalam dua jam bonus mu segera masuk rekening! Poin mu bertambah 200 poin. ]
Isi pesan itu membuat Bram tersenyum, sehingga ia memutar cara bagaimana ia melunasi hutang keluarga Elea dari Ryan yang durjana itu, esok malam.
Bagaimanapun, Bram tidak ingin kehilangan kekasihnya itu. Cintanya sudah amat dalam, tak rela jika Elea dinikahi Ryan yang bejad berganti pasangan di luar sana. Andai pria itu lebih baik darinya, ia akan mencoba ikhlas. Tapi bukan Ryan calon suaminya, satu satunya jalan adalah pulang ke rumah, meminta bantuan sang papa tanpa memperdulikan amarah yang lain.
***
Kediaman Hartanto.
Mobil sport milik Hari, nampak menaiki medan menanjak saat itu, di sisi kota atau pinggiran kota lokasi Hari serta Bram berada.
“Hufthh." Bram, menghela nafas panjang.
Merasa sedikit tidak tenang serta bahagia di saat yang bersamaan, karena Bram akan kembali ke tempat yang dirinya sebut rumah. Walau hanya beberapa tahun saja Bram meninggalkan rumahnya, itu terhitung amat sangat lama bagi Bram, yang semenjak kecilnya bahkan hampir tidak pernah keluar dari rumah.
Pergi untuk bersekolah atau menemui Hari, lalu kembali. Itulah yang menjadi rutinitas Bram, sebelum pergi keluar serta mencoba hidup mandiri, tanpa uang serta biaya hidup yang dahulu hampir setiap bulannya uang sejumlah besar pasti dirinya terima bahkan tanpa melakukan apapun.
“Hey, mengapa kau tampak gugup?" Hari, setelah sempat melirik Bram.
“Kenapa? Apa kau memiliki masalah akan hal itu?" Bram, menimpali tanpa menoleh sedikitpun pada Hari.
__ADS_1
Memilih memandangi sisi jalan tempat mobil Hari berlalu, merasakan perasaan familiar akan jalan menanjak serta berkelok itu.
“Oh jelas, aku memiliki masalah. Karena akulah yang seharusnya memasang ekspresi sepertimu!!!" Hari, mulai meninggikan suaranya.
Terkejut, Bram dengan segera menoleh saat itu pada Hari. Sebelum melihat bagaimana buruknya ekspresi wajah Hari.
“Hey, kau tidak apa?" Bram, merasa ada yang salah pasti pada Hari.
“Tidak aku tidak apa-apa." Hari, memaksakan tersenyum.
“Oh, baguslah." Bram, sebelum kembali memandangi sisi jalan.
“Sial, kau pasti sedang meledekku bukan?" Hari, pada Bram.
“Tidak, hanya merasa sedikit lucu saja." Bram, tersenyum geli saat itu.
Melihat bagaimana Hari, yang biasanya selalu membuat Bram, kesal hanya dengan senyumnya, kini memasang ekspresi penuh penderitaan yang bahkan dapat Bram rasakan walau hanya dengan melihatnya.
“Apakah semengerikan itu amarah dari orang tua kita?" Gumam Bram, tidak menyangka bahkan hingga Hari, bisa setakut itu.
“Amat, amat mengerikan." Hari dengan segera menimpali, ketika mendengar gumaman Bram.
Bram, mengangkat alisnya, tidak menyangka Hari, mendengar gumaman nya, “Aku tidak berbicara padamu."
"Jelas, kau berhutang budi kak! 35 Triliun itu sangat banyak, entah murka apalagi mama padaku?"
"Tugasmu, membuat mama di zona nyaman! Aku akan bernego pada papa."
__ADS_1
Tbc.
Semoga cepat lolos, Author baru cek malam, dua bab belum tampil juga. Mohon maaf reveiw tersendat padahal ga ada kata vulgar, revisi lagi hubungi qna.