
Semalam Siren memperlihatkan isi video, anehnya tidak bisa berjalan, karena aplikasinya macet. Di tambah saat ini ia akan kuliah, Damar memberi pesan jika ia tidak akan bisa menemuinya terkait sang kakek, Tuan Reksa kritis di rumah sakit belanda.
Tin! Sebuah mobil, membuat Siren syok, kala di depan rumahnya adalah Daru.
Sial kenapa Daru sudah di gerbang. Jika
seperti ini aku tak bisa berkutik dihadapan papa. Aku harus cari cara agar tak semobil dengan Daru. Ayo Siren! pikirkan ide briliantmu.
"Siren, kenapa diam?" tanya bi Yani, dan papa menghampiri dari ujung pintu. Sementara Daru hatinya berdebar, menatap Siren dengan tajam, apakah ia bicara soal dirinya di mobil bergoyang, pada keluarganya.
'Awas saja jika kamu berani bicara, aku tak akan membiarkanmu tersenyum Siren. Jika papamu terkena serangan jantung aku pastikan semua aset pada papamu aku ambil. Sehingga kamu tak ada apapun, dan tetap dalam genggamanku.' batin Daru.
"Nak Daru, kenapa kalian saling diam?" tanya papa yang merasa curiga."
"Siren tidak apa papa! Siren akan berangkat bersama, kami hanya sedang terharu memandang," alibi yang Siren ingin muntah.
"Ya benar om maaf! Daru pamit dan izin mengantar Siren. Bukankah kita akan menjadi keluarga, maaf Daru tidak bisa menjemput lagi."
"Ya! kalian pergilah, dengan hati hati."
Siren naik ke mobil dengan memutar mata halus, merasa jijik ia naik ke mobil Daru dan berlalu.
"Apa tidak terlihat aneh, Siren sepertinya tidak menyukai pria bernama Daru itu." tutur bibi yang memapah papa Siren masuk kedalam rumah.
"Tidak mungkin mereka saling suka dan pasti akan bahagia, perlahan Siren akan menyukainya." balasnya.
Bibi Yani merasa keponakannya seakan tertekan, ia berusaha agar tak mempersulit dan memperpanjang, ia akan tanyakan langsung sendiri pada Siren, terkait Damar yang kapan serius pada keponakannya itu.
"Sakit Daru, lepaskan genggaman tanganmu itu!"
Siren, di dalam mobil sangat kesakitan akan cengkraman tangannya.
"Kenapa kamu lari dari ku malam itu, wanita bodoh?" balas Daru, dengan menatap penuh murka.
"Lalu jika aku bodoh mengapa kau masih mencari ku tidak melepas begitu? Daru bisakah kamu bersikap semestinya. Aku tidak akan pernah menikah dengan pria gila sepertimu, yang bermain disembarang tempat. Turunkan aku!"
"Kamu berani memerintah ku Siren! Hah terlihat lucu, aku bermain dengan sekian wanita, itu adalah wajar kamu dan keluargamu harusnya berterimakasih. Ingat perjanjian kita Seharusnya kamu bantu aku mendapatkan ...?"
__ADS_1
"Dasar pria gila, bahkan di dekatmu aku merasa mual, berapa banyak wanita kamu bermain di dalam mobil mu ini Daru?"
Plaaagh.
Tamparan keras pada Siren, sehingga Daru pun menyesal dan meminta maaf.
"Kau berani memukul ku Daru?" Siren menatap tajam hingga bulir air mata tertahan.
"Maaf aku tidak sengaja."
"Turunkan aku disini Daru!" Siren yang emosi membuat mobil terhenti dan saling menatap tajam.
"Aku bilang buka pintunya sekarang Daru!"
nada Siren naik satu oktaf tinggi.
Sehingga Daru pun mengikutinya, ia memang pria yang bermain dengan banyak wanita, tapi menyakiti wanita dengan kekerasan tak pernah ada dalam sejarah hidupnya.
"Siren, kita bisa bicara ini pertama kalinya dan terakhir kalinya maafkan aku."
Daru yang menyesali tangannya, ia pun diam. membiarkan Siren turun dari mobil. Sampai Siren berganti dengan taksi dan berlalu. Ia merasa mendapat tamparan keras akan sikap dan perkataan Siren kala itu.
Siren menyusuri, rumah sakit untuk proses visum dengan taksi, ia meminta teman kampusnya absen kan dirinya. Dengan proses sedikit lama, ia pun segera, ke kampus menyelesaikan tugas penting.
Sampailah Ia sudah di kampus:
Dimana satu gedung itu ia tak melihat Damar, ah! lupa jika Damar tidak ada di ibukota.
"Siren pipi mu itu kenapa?" tanya Antie.
"Jangan bilang pria besar itu yang melakukannya ya?"
"Ya memang dia, ini ketika aku berselisih."
"Apa yang benar saja apa sudah melakukan visum kamu Siren?"
"Sudah tenang saja aku berharap dengan ini dia tidak akan menggangguku lagi."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Siren, Antie merasa khawatir sebagai teman kampus yang akrab.
Siren dan Antie berada di kampus. Ketika mereka sedang istirahat makan, beberapa mahasiswa menatap sinis dan mencemooh Siren, di mana meja mereka makan.
"Lihat saja, wanita berbaju biru itu aku dengar dia adalah perebut calon pengantin pria."
Siren yang mendengar hanya sabar, dan hanya Antie yang menenangkan, agar Siren tidak terpancing.
"Lihat saja wajahnya, mungkin dia habis di labrak."
Ia dia itu, sepertinya di arak lebih bagus, kasian dia tidak laku ya. Semua menatap Siren dan menertawakan. Ia pun pamit pergi pada Antie, Karena ia tak sanggup dan mood nya semakin tak jelas buruk.
"Siren mau kemana?"
Namun Siren tetap pergi dari ruang kantin itu. Hingga Antie mengekor mencoba memberi semangat dan sabar. Selama satu jam mereka bersama. Siren pun pamit lebih dulu pulang dengan taksi, ia tidak tahan dengan rumor yang menyakitkan tentang dirinya. Maka dengan diam menghindari orang toxic adalah cara terbaik. Menatap ponsel pun tidak satu pun Damar menghubunginya, ingin sekali hati Siren saat itu. Damar selalu ada di saat seperti ini.
'Aku harus bersabar, menunggu Damar.' sedihnya.
***
Berbeda hal dengan Damar.
Bram amat terkejut, ketika melempat foto putra satu satunya bersama cucu dari musuh beratnya. Hingga menyebabkan tuan Reksa anfal! apalagi di usia tuanya itu.
"Kek! maafkan Damar, bukankah dendam itu tidak perlu dilanjutkan. Lagi pula Siren tidak ada hubungannya dengan pemukulan Dady Bram saat itu. Maaf jika Damar terlalu kanak kanak, tapi Damar berniat serius dengan Siren. Karena dia wanita berbeda, yang bisa melihat apa yang Damar buat."
"Jangan bodoh Damar! meski kakek mati pun saat ini, kakek tidak akan merestuinya. Jika hubungan kalian di lanjut, kakek yakin tidak akan bertahan lama."
Damar menatap Bram, ia tidak percaya pada keluarganya itu yang pedendam. Bahkan dirinya kini di luar negri, akan dipindahkan kuliahnya dan segala halnya Damar harus terjun pada seluruh usaha milik keluarga Bram Hartanto, bahkan Reksa Hartanto meminta Bram, putranya agar terus mengawasi cucu semata wayangnya.
Yakni Damar, yang tidak boleh melanjutkan hubungannya dengan keluarga licik seperti Tjandra, kesimpulannya baik itu anak dan keturunannya akan jadi boomerang bagi hidup keluarga Hartanto, apalagi jika bisnis dari system diketahui mereka, merebut orang orang penting mereka dan mengacaukannya.
Damar yang sedih ia tidak berkata sepatah katapun, ia menangis dan keluar saat itu juga. Hingga paman Alex di luar pintu. Meminta Damar untuk tenang! meminta Damar untuk tidak menemui Siren adalah hal yang bagus.
"Paman kau tahu kan ..?"
"Kita bisa selesaikan misi, setelah itu paman berjanji, akan membantu kau di restui dady Bram bersama Siren."
"Realy? kau tidak bohong kan Paman Alex?"
"Untuk saat ini, biarkan keadaan membaik. Paman akan meminta orang untuk mengawasi Siren, memastikan dia baik baik saja."
__ADS_1
"Thanks Paman, kau begitu mengerti aku dari pada Dady Bram, dan Kakek." lirih Damar.
TBC.