
"Lho ada Arini, dan Karin disini, Ada apa ini?" ujar Damar tiba datang.
"Hanya sedikit salah paham, apa kamu lelah hubby, sebentar lagi kita akan pulang. Dan ini hanya sedang berdiskusi soal pemesanan! dokter Arini ingin memesan rancangan di butik Dady, untuk pesta pernikahan adiknya Karin benarkan?"
Siren menatap wajah Arini dengan senyum.
Arini melotot dan malu, Karyawan lain tersenyum, dan detik itu pun mereka langsung pergi.
"Siren, aku pulang dulu ya nanti kita sambung lagi bertemu. Ada yang masih harus aku lakukan tugasku masih banyak." ucap Mikha, karena sudah pasti suaminya Hari, juga sudah pulang.
"Baiklah Mikha, sayang." Siren melambai.
Damar pun turut memberi perintah, terutama Bella agar menutup butik dengan aman.
"Sayang. Mari kita pulang!"
Damar menggenggam tangan istrinya, Siren tersenyum manis. Meski hatinya merasa takut. Entah ada berapa mantan suaminya yang terobsesi. Sebab sebelum dengannya, Dady Bram menjodohkan banyak gadis, membuat Siren kepusingan jika ingat soal itu.
"Sayang... ada apa?"
"Tak apa, hubby aku hanya, ingin coklat tiba saja."
"Damar pun, langsung bergegas mencari ke supermarket. Sebab paham jika istrinya sedang memikirkan sesuatu."
Setelah ia dapat, Siren mengunyahnya dan menyuapi suaminya kala itu, namun raut wajah nya terlihat tak begitu baik.
"Sayang, ada yang kamu sembunyikan atau pikirkan katakanlah, agar hatimu tenang!"
Siren, menatap suaminya. Memeluk erat suaminya. Bahkan menatap suaminya. Memeluk erat suaminya dengan manja.
"Aku amat mencintaimu tapi, badai masa lalu mu sepertinya tak tenang, bisakah kamu berjanji satu hal hubby?"
__ADS_1
"Sayang aku paham kamu memikirkan Arini, coba jelaskan padaku mengapa ia membuatmu gelisah? bukankah soal ini pernah kita bahas, mereka adalah pilihan Dady! bahkan aku tidak akrab sayang."
"Iya juga sih. Tapi apa kamu tidak sedikitpun punya rasa?"
"Dia akan tetap menjadi masa laluku yang berjuang mendapatkan mu, kamu tak perlu khawatir percayalah!" bisik Damar, membuat Siren mengangguk.
Sebenarnya Siren ingin memperlihatkan sebuah video di butik, perkataan Arini, namun ia urungkan tak ingin berdebat yang menjadi beban nantinya. Apalagi butik ini dipercayakan oleh papa mertuanya Bram, terkait peninggalan mama Elea, ibu mertuanya sebagai kado restu.
Satu jam berlalu, Siren mengajaknya makan malam di restoran.
Kali ini resto yang amat berbeda, ia duduk di atas kolam dengan sebuah benda yang tak akan terjatuh, terdapat menu makanan yang disukai, terdapat bunga dan lilin kecil di sekeliling kolam.
"Hubby. Kamu sudah menyiapkannya?"
"Sayang .. bagaimana tadi di butik apa ada masalah atau keliru, maafkan Dady ya! sudah membuatmu lelah hari ini!" Damar mengusap pipi istrinya kala itu.
"Hari ini berjalan dengan lancar dan ramai. Soal meeting mu bagaimana hubby?"
"Meeting berjalan lancar namun lusa aku harus ke eropa, Aku ingin pastikan kamu ikut ya!"
"Akan aku pikirkan sayang, semoga Dady mengerti. Sekarang kita makan dulu! kasian hidangan ini di diamkan."
Siren tersenyum, ia makan sambil memercik bermain air sedikit di tangan kirinya, bunga mawar merah yang bertebaran membuat hatinya bahagia, ia tak perlu khawatir dengan perlakuan manis suaminya. Hatinya sudah dipungkiri tidak akan tergoda dengan masa lalu atau wanita lain, mengingat ia sudah menjadi bos muda membuatnya sangat cemburu ketakutan, entah mengapa setelah menjadi istri Damar. Kini ia lebih was was dengan hati suaminya itu.
Masa lalu Damar, yang sering berdatangan membuatnya geram dan menyimpannya sendiri. Terkadang Dady Bram, sering sekali memperlihatkan klien, dan anak anak dari mereka yang di seriuskan untuk di jodohkan, tapi Damar selalu saja menolak dari pertemuan penting.
'Benar benar papa mertua, yang membuat Siren selalu cemburu.' batin Siren gerutu.
Saat ini, Siren merasa terdiam pasi. Damar yang saat ini sudah membuka kancing kemeja, ingin bersiap mandi, membuat Siren mengambil handuk, di sebuah mansion.
"Mau mandi bersama?" lirik Damar.
__ADS_1
"Hubby! ayolah, sudah waktunya kamu harus bersiap." malu Siren.
"Oh! baiklah. Pastikan kamu menyusul ya sayang!"
Siren tertawa, ia jadi ingat kala pertemuan dirinya dan Damar pada Dady Bram, yang saat itu Siren mengumpat di balik lemari, mendengarkan perdebatan hubungan mereka yang tak direstui.
'Coba jelaskan! apa tidak ada teman wanita lain selain dia, Damar?' tegas Bram, duduk menatap tajam pada putranya.
Damar pun melihatnya, lalu kembali menatap di foto dirinya dan Siren. 'Dady, dia baik. Sejak kecil aku sudah berteman dengannya?'
'Tapi history keluarganya! Dady tidak ingin kamu terus bersamanya, apalagi berteman. Dady tidak akan merestuinya, ingat kata kata Dady Damar!' teriak Bram, melempar sebuah foto di meja kerja Damar.
Damar pun terdiam! bagaimana pun ia tidak ingin durhaka pada Dady Bram, tapi ia juga tidak ingin tinggalkan Siren, di saat masalah itu adalah kakek Siren dan Dady nya.
Damar hari itu meminta penyusup, kala Daru akan membawa keluarganya ke rumah Siren. Hal itu agar Damar bisa, menggagalkan rencana pertunangan Siren. Maka ia melihat sebuah alat pendengar, dan meminta Siren menaruh kamera tersembunyi di acara itu.
Masih dalam perdebatan, Damar dan Bram. Paman Alex meminta Siren keluar dan berusaha, mengantar Siren pulang, terkait perintah Damar. Untuk bertemu Dady Bram, bukanlah yang tepat saat ini.
"Sayang, ayo!" kembali Damar membuka pintu kamar mandi, membuat lamunan Siren sadar.
"Iya. Aku sebentar lagi menyusul."
Siren pun mengambil handuk, namun langkah Damar sudah menarik erat tubuhnya. Membawanya ke dalam bath up.
"Maaf, aku tidak sabaran sayang." senyum malu mereka, suara mereka berdengung kala itu.
Lagi pula, mansion besar kedap suara. Hanya mereka berdualah yang tahu.
TBC.
Terimakasih atas dukungan Pengantar Box Jutawan.
__ADS_1
Author masih banyak belajar membuat cerita, mohon maaf jika banyak salah.
Di tunggu Bab lanjutannya ya!