Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 JANGAN SENTUH KEBAHAGIANKU


__ADS_3

Damar, tahu ada mata yang menatap serius pada istrinya itu.


"Daru, kau tak akan aku berikan kesempatan mendekati istriku."


"Aku .. Belum tentu semua pasti bertemu, karena project butik, berhubungan dengan Siren." balasnya, membuat Damar kesal, ingin meninju tapi banyak potretan ke arahnya.


"Hubby, ayo!"


Siren mengajak Damar, ke meja khusus. Dimana ia mengajak suaminya makan, yang telah di siapkan khusus. Sementara Mikha, sudah pasti dengan suaminya di meja lain.


Siren pun menyuapi steak sapi ke mulut Damar, dengan senyum tawa bahagia.


"Ayo buka mulutmu, Aak!" Siren menyuapi makanan ke mulut suaminya.


"Enak, kapan acara ini berakhir. Aku ingin kita segera pulang!"


"Hubby, hoooooek hoooeeek."


Siren memuntahkan dan mengenai kemeja jas Damar.


"Sayang .. ada apa kamu sakit, apa kamu kelelahan?"


"Hubby, maaf!"


Setelah itu pun Siren, mengelapkan tissue, Damar membawa nya ke hotel dimana Siren dan Mikha menginap, yaitu lantai berbeda gedung yang sama, Damar meminta izin pada paman Kenan, jika istrinya tak bisa sampai acara berakhir.


Daru melihat Siren, yang dengan sigap Damar menggendong istrinya didepan banyak semua tamu yang datang. Potretan demi potretan pun, tertuju pada Siren dan Damar. Membuat Daru, kehilangan momen untuk merebut hati Siren.


Satu jam berlalu di kamar hotel Siren, yang yang sudah berganti baju, begitu pun Damar yang mandi dengan handuk kebesaran hotel menghampiri istrinya, ia memberikan jahe hangat dan mengoleskan minyak angin.


"Sayang, .. apa perlu kita ke dokter sungguh wajahmu amat pucat, ?" khawatir Damar.


"Tak apa hubby, aku mungkin saja lelah


ayo pakai bajumu! aku tak ingin tiba tiba Mikha masuk dengan kamu seperti ini, sebab ini kamar kita pertama soal project."


"Baiklah diam disini makanlah sesuatu, aku akan berganti baju dan merapihkan semua nya! kita akan segera check out."


Damar merasa khawatir, ia pun memberi tahu Dady Bram, agar Siren tidak lebih lama di paris terkait bisnis butik.


"Dady Bram telepon?"

__ADS_1


"Oh segera angkatlah sayang, merindukan mu sama sepertiku jika kita selalu berjauhan, Dady pasti Khawatir." gombal Damar pada Siren, yang kumat sambil mengemas barang.


Lama Siren mengangkat telepon dan berakhir.


"Sayang, apa ada masalah, Dady tanya apa?"


"Aku, aku sedang memikirkan resepsi hubby, aku mungkin kelelahan itu saja."


Siren berusaha untuk menutupinya. Damar pun menghampiri memberikan pelukan hangat, menemani minum hangat yang ia buat untuk istrinya itu.


Sementara Di Tempat Lain.


Diperjalanan Hari mengejar istri labilnya. Siren diam bagai keong yang bersembunyi dibalik cangkang rumahnya. Sepi hening diam.


Tapi hati mereka berbicara kesal, cemburu yang menyatu sedih jadi satu. Sesekali menatap, sesekali menggelengkan kepala, menghela nafas dan Mikha pun berjalan cepat mendahului Hari, karena tak ingin ia memandang melirik - liriknya penuh tanya dan harap.


Hingga tiba dilantai kamar, Mikha segera masuk dengan id card, tapi begitu masuk ia kembali keluar menutup matanya, ia membalikkan badannya dan menabrak tak sengaja.


Tubuh pelukan Hari Hartanto yang tepat dibelakangnya, saling memeluk. Tepat Hari saat itu menyangga dengan kaget.


Auwh.


Pandangan Mikha dan Hari saling memandang.


Siren dan Damar pun terkejut dan langsung berjalan ke arah pintu. Karena mereka sedang berpeluk hangat diruang tamu, meminum jahe hangat buatan suaminya.


"Sudah tidak ngambekkan lagi, paman?"


Tanya Damar, pada dua sejoli didepan pintu hotel itu.


"Tidak, siapa yang ngambek dengan perempuan ini, dia baru saja berkencan di depan suaminya, apa itu pantas? Hanya karena melihat seseorang digendong ala bride style di depan umum." jelas Hari, sebal ke arah Damar.


Gleuk.


Siren dan Damar ingin tertawa tapi tertahan, ada ada saja tingkah Mikha ini, tapi memang sampai kapanpun sikap paman Hari akan datar dan kolot, tidak bisa disamakan dengan pria modern.


Mikha menggerutu. Bahkan mereka saling sindir pedas, setelah melepaskan pandangan dan pegangan suami flatnya tadi.


"Hah, Siren sungguh bosan. Suamiku hanya mengambil kesempatan, tadi tuh khilaf yang tak di inginkan, karena kamu Siren sedang berpelukan, aku lupa jika ada husband jadi aku langsung masuk." ketus Mikha melirik suaminya yang berdiri di gigir pintu.


Siren pun tersenyum pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Udah jangan debat. Aku tadi mual pusing Mikha, Damar langsung gendong aku karena aku benar benar lemas, jadi setelah minum jahe hangat, hubby ku memeluk tubuhku agar hangat karena pelukannya aku tenang. Aku bahkan jadi tidak muntah. Sepertinya aku masuk angin, lagi pula aku menunggumu, aku juga sudah merapihkan barang bawaan mu yang sedikit, jadi kamu bisa check dan kita pulang ke ibukota agar tak terlambat penerbangan."


"Biar penerbangan Mikha dengan paman saja, jangan ganggu hubungan Damar!" lirih Hari, membuat Mikha kesal masing gerutu tak jelas.


Mikha memeluk Siren, karena ia selalu memperhatikannya, dan berbisik.


"Siren, apa kamu hamil?" bisik Mikha pada sahabatnya itu.


"Ssssst!" balas Siren.


"Ada apa kalian berbisik?" tanya Damar, yang kala itu melihat istrinya bisik bisik tetangga. Hahaha.


"Bukan apa apa hubby, udah ayo kita berangkat!"


Mikha berjalan lebih dulu dengan Siren, sementara para suami mengekor membawa barang barang dan koper kecil.


Hari hanya menggerutu pada Damar kala itu.


"Wanita sekarang penuh intrik dan rahasia."


"Hahaha, Paman mengapa masih naif gengsi, suka cemburu paman itu amat terlihat olehku."


Damar melihat sesuatu dibalik jas Paman Hari, sebuah kotak kecil, cepat berikan dan katakan jangan sampai menyesal, bukankah Paman ingin surprise Mikha yang berulangtahun besok pagi?!


Tapi Hari Hartanto mengelak, tak ingin surprise untuk Mikha di ketahui lebih dulu.


Satu jam berikutnya mereka sudah landing. Siren memeluk hangat Damar, karena merasa nyaman dan tak ingin mual. Bersandar saling memangku, ia rebahkan kepalanya di pundak suaminya.


"Hubby, aku mual sekali pusing badan ku lemas tapi memeluk mu seperti ini nyaman sekali."


"Sayang, apa Dady bilang ada benarnya kamu sedang .. ?"


Damar dan Siren saling memandang senyum.


"Apa kamu bahagia dan menginginkannya hubby?"


"Tentu saja sayang, kamu bertanya apa?"


"Baiklah kita akan segera ke dokter tetaplah memeluk ku, dengan begitu jika benar ada miniatur di perutmu. Dia menginginkan ayahnya selalu dekat, dengan begitu kamu akan terkunci dalam peluk kan ku." Siren tersenyum.


Sementara Mikha di kursi lain, saling diam dan bertolak ia lebih memilih mendengarkan music dan melihat we chat terakhirnya, dengan Taky dan memotret mengabadikan kebahagiannya, yang mengajak sebuah project, tanpa menoleh kesamping nya. Jika Hari Hartanto sudah memperhatikannya, menatap dalam Mikha.

__ADS_1


TBC.


Happy Reading, Jangan bosan Ikuti Ya.


__ADS_2