
Seminggu Kemudian, dimana mikha bersama Suaminya, ia di ajak ke berbagai salah satu perusahaan herbal anti tua, dimana Mikha takut jika suaminya menjadi bahan percobaan, akan ada efek samping yang gila untuk hari tuanya, meski mas Hari bicara semua akan baik baik saja.
"Mas aku rasa, herbal awet muda akan tidak baik jika kamu yang mencoba, gimana nanti akhir tua nya?" tanya Mikha.
"Ehm." terdiam Hari.
Sementara Hari, ingin sekali ia bicara jika bosnya sudah amat tua, dirinya ingin kembali menjadi dua puluh tahun lebih muda karena istrinya yang masih belia, tapi Eri tak sampai hati bicara karena takut.
Setelah banyak masalah akan berita tentang kejahatan publik bernama Lena. Mikha disibukkan berbagai layangan yang di sebut kurang bukti, untuk memboikot segala hal atas nama Lena. Mikha adalah korban, sehingga seorang publik ini sering berkelit karena kekuatan netizen.
Ada hal yang Mikha tahu, yakni rumah sakit di saat Lena pernah menyuntikan cairan kelumpuhan pada mama Inggrid. Mikha harus mencari saksi suster yang bekerja sama dengan Lena saat itu, agar bukti hukuman Lena di berita dan dalam jeruji benar benar membuatnya jera dan lama di hukum.
DI RUANG KERJA MAS HARI.
Saat mas Hari dan Eri. Hampir selesai dalam pekerjaan nya. Mikha menghampiri dan bertanya pada Eri.
"Eri, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Mikha.
Dengan wajah pucat, Eri menatap pak Hari, lalu mengigit bibirnya seolah bingung harus menjawab apa.
"Maksud istri pak bos apa ya?" bisiknya pada Mikha.
"Sayang, tidak kah terang terangan. Bagaimana jika Eri tak suka Osin, kamu tak lihat Ryo rekan ku saat itu, bagaimana ia menginginkan tahu tentang Osin?" bisik.
"Ah. Ya, benar sekali mas. Aku lupa."
Mikha dan Hari sengaja bersekongkol. Ingin melihat raut wajah Eri. Dengan spontan Eri berbicara seolah gugup ia hilangkan. Hal itu agar suasana cair, untuk menutup telinga yang panas di berbagai berita. Bahkan, yang Mikha tahu kemungkinan Lena dapat hukuman wajib lapor saja, di kantor polisi.
"Pak, apa saya bisa tahu tentang Osin. Bagaimana ia bertemu dengan kekasihnya yang telah pergi itu?"
Mikha tersenyum, meletakkan buble gum yang ia buat di gelas ramping. Hingga menghela nafas dan Mikha bersandar pada bahu sang suami.
'Hadeuh, mengapa suasana manis romantis selalu saja tampil di hadapan jomblo sih?' batin Eri.
__ADS_1
Dimana Mikha di perbolehkan melihat Hari, yang saat ini bekerja dengan banyaknya komputer serta laptop dan sebuah alat system super canggih, dimana Mikha juga amat takjub saat ini.
"Sayang, ceritakan lah tentang Osin. Mungkin asistenku ingin mengejarnya. Agar hidupnya kelak berwarna!"
Mikha pun menatap senyum, lalu ia menceritakan sepenggal dirinya dengan Osin saat duduk di asrama panti dulu. Mikha menatap langit, berusaha mengenang kisahnya dengan Osin yang sulit dilupakan. Dimana saat itu, ia bertemu Osin di panti asuhan, kala kedua orangtuanya sedang berkunjung.
"Yah, begitulah awal pertemuan kami. Osin dan dia saling menatap dan jatuh hati. Di supermarket." ungkap jelas Mikha yang menceritakan masa lalu.
Mengisahkan mereka di saat bu Inggrid mengenalkan putranya. Dan Ryo itu adalah anak dari pemilik panti, yang kini jadi bos pertama kami.
"Sayang, kamu dan keluarga Dani sudah sedekat itu, menyesal aku baru tahu kamu sedekat itu pada ibu ku Juga?"
"Iya mas." senyum Mikha dengan mudah, enteng.
Membuat Eri menelan saliva, karena jelas tersirat wajah Hari sangat kesal dan cemburu. Lupa, sadar Mikha ingin menceritakan sepenggal kisahnya dengan Osin, malah berbalik ada kaitan dengan mama Inggrid.
"Eh .. kenapa kalian diam saja, mas kok diam?"
Mikha menatap dua pria kaku dengan wajah pucat dan melihat mas Hari sedikit berbeda. Apa yang ia ucap cukup membuatnya merasa bersalah.
"Hati hati sayang!" kecup Hari, yang mengantar Mikha ke dalam mobil, Hari baru tahu, jika sang ibunda yang kejam pada kakaknya Bram, ia masih menyempatkan ke panti dan bertemu Mikha kecil.
***
Beberapa Jam Kemudian.
Tling! Nada Pesan.
Hari yang telah rapih. Ia membuyarkan aksi dirinya yang menatap sahabat sialannya itu. Entah dari kapan, istrinya bisa sedekat itu tanpa ia tahu.
"Mikha. Setelah urusan mas di kantor selesai, mas akan temui kamu. Apa mau kamu, hingga bisa bisanya tersenyum genit. Dari kapan kamu dekat dengannya, apa bukan Dani saja mantanmu, tapi si Ryo itu juga." benak Hari, menatap cermin panjang.
Kala ia meregangkan dasi, lalu Eri memintanya telah bersiap dan selesai. Eri pun mengekor kala sang bos menyibak jas rompi dengan gentle. Ia keluar dengan gaya yang luar biasa.
__ADS_1
Eri meski asisten setia dari keluarga Tuan Hartanto. Ia cukup speechless kala sang bos menampilkan wajah tampan dan gagahnya seperti saat ini.
[ Mas, aku keluar dulu ya. Good Luck sayang ] pesan Mikha.
[ Ya! Tunggu mas nanti di rumah ya! ] membalas pesan Mikha.
Rasanya Hari, tak sabar, ingin menghukum dan menanyakan langsung pada Mikha, kenapa ia tidak langsung pulang setelah belanja bulanan. Melainkan pergi ke rumah sakit menemui ibunya dan ada dokter ibunda yang amat tampan juga membuatnya sedikit kesal, karena berani pergi tanpanya.
Dan saat meeting kembali, dalam beberapa jam waktu ia bekerja, hingga sorenya, Hari yang berencana pulang. Sebuah ponselnya bergetar begitu saja.
Tling! Foto Mikha kembali, dengan dokter Rain.
[ Kenapa istriku dengan dokter bejad ini, kenapa dia tidak bicara ingin ke dokter? ] batin Hari, menatap pesan itu lagi. Entah siapa pesan tanpa nama itu mengirimkan gambar yang membuat Hari, gemetar panas.
Saat dalam perjalanan, Hari masih memikirkan sebuah beberapa foto dari seseorang misterius. Ia tak habis pikir, jika seseorang mengintai istrinya, dan lebih gila lagi mengirimkannya padanya.
"Eri bagaimana nanti rapat penting kita?"
"Sangat aman Bos. Saya juga telah mempersiapkannya dari kemarin sore dan telah selesai!"
"Eri, bagaimana menurutmu. Foto itu, apa kau yakin jika Rain mempunyai hubungan dengan Istriku. Menurut mu apa pendapatmu?"
Eri terdiam, ia sungguh berat untuk mengatakan kesimpulan yang ia cerna.
Mengingat permasalah bosnya, ia sangat tahu. Mengingat banyak kemungkinan masalah dan musuh ingin menjatuhkan nama Hari agar terguling. Eri berusaha keras, semampunya karena kesetiaan dan tak ingin banyak karyawan akan kehilangan pekerjaan secara masal. Termasuk dirinya yang takut itu terjadi.
"Eri. Kau bisu aku bicara padamu. Katakan jangan sungkan!"
"Ma-maaf bos. Menurut pendapat saya, Rain mendekati Nyonya Mikha hanya sebatas keluarga pasien tidak lebih. Meskipun mungkin nyonya Mikha itu tidak bermaksud, saya rasa tidak perlu risau jika si dokter, atau pemilik panti akan menyukai nyonya Mikha, bagaimanapun anda lebih perfect dari mereka dan punya segalanya. Terlebih saya khawatir dia seorang play girl. Atau bisa saja, nona Mikha mencari bukti lebih soal kasusnya dengan Lena, tanpa merepotkan anda." jelas Eri, karena media sosial saat ini penuh pro dan kontra saling beropini.
"Cih. Dokter cabul itu, memang harus ku peringatkan! Agar dia memproses kasus istriku dengan Lena, tanpa mendekati lebih dalam. Harusnya Rain, bicara padaku langsung tinggal kasih bukti pada Hari Hartanto, tidak perlu lewat istriku!" geram Hari.
Hingga di mana, ia telah sampai di depan kantor pertemuan. Ia berusaha menyingkirkan emosi yang menggebu gebu pada Mikha.
__ADS_1
Saat ini, Eri sudah memberikan beberapa lembar berkas, meeting akan di mulai dengan beberapa staff. Tapi pikirannya merasa kesal saat Mikha dengan pria lain di rumah sakit. Entah kenapa Eri, merasa gila pada bosnya, jelas jelas dia lebih tampan dan kaya, kenapa takut di tinggalkan. Atau jangan jangan trauma pernah punya istri bernama Lena, membuat bosnya ketakutan tragedi terulang. Deru batin Eri, yang mengekor langkah Hari sang bos.
Tbc.