Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
WAJAH SAINGAN


__ADS_3

"Lihatlah papa datang, itu artinya dia sayang padamu Bram! dia tidak pernah pilih kasih meski ia mempunyai istri lagi, sikap pemaaf nya seperti mu Bram. Aku beruntung mempunyai mu."


"El, terimakasih mau menunggu dan berjuang denganku! setelah ini, aku akan adil membagi rata milikku untuk Hari, agar ia teruskan perjuangan Gold Miror, agar ratusan kurir disana tidak kehilangan pekerjaannya."


"Aku akan ikut denganmu Bram, kemanapun."


Setelah di rasa, Elea dan Bram melihat Reksa Hartanto sedang wawancara, ia segera menuju mejanya. Akan tetapi Elea yang menerima telepon dari sang mama, ia menatap Bram senyum.


"Mama sudah tiba ..? temuin dulu sayang. Aku akan menunggu di meja kita." tanya titah Bram.


"Baiklah, aku pergi dulu. Aku janji hanya sebentar, menerima panggilan dan bilang aku ada disini. Aku rasa paman Abey dan kakakku ikut datang, sehingga mama meneleponku." pamit Elea, mengecup punggung tangan Bram.


Ruang VIP 2, Aula Golden Green.


Bram melanjutkan pesta miliknya bersama dengan teman-temannya, dan para wartawan yang sudah dia undang. Mereka semua sudah melupakan apa yang terjadi barusan dan menganggap itu semua seperti angin lalu yang lewat.


Melihat orang-orang itu berpesta ria membuat Bram sangat kesal.


“Mereka terlihat sangat bahagia setelah membuat istriku bersedih. Namun aku ingin lihat bagaimana reaksi mereka setelah apa yang akan terjadi nanti!”


Setelah beberapa waktu Bram menggebrak meja dan berteriak, “Pelayan, ambilkan aku billnya!”


Dengan cepat pelayan membawakan bill dari ruangan ini.


Ketika melihat bill itu Bram menggebrak meja, dan menatap pelayan itu dengan tajam seperti ingin membunuhnya.


“Apa maksudmu? Apa kamu mencoba menipuku dengan membawakan bill palsu ini padaku?”


“Maaf tuan, itu bill dari semua tagihan milik anda di ruangan ini. Totalnya 8 miliar.”


Bram beranjak dari tempat duduknya dan menarik pakaian pelayan itu dan berkata.

__ADS_1


“Panggil managermu sekarang!”


Pelayan itu melepaskan tangan Bram dan berbalik meninggalkan ruangan itu.


Selang beberapa waktu seorang wanita cantik berjalan masuk ke daam ruangan VIP 2, dia adalah Rose yang merupakan manager dari Aula golden green.


“Apa kamu tidak mau membayar tagihanmu, Pak Bram?” tanya Rose.


“Tagihanku? Mana ada tagihanku bisa semahal itu, apa kamu pikir aku bodoh? Akan aku laporkan kalau restoran ini mencoba memerasku dengan memberikan harga yang tidak masuk akal.”


“Pak Bram, tagihan anda bisa sebesar itu karena anda memesan Chateau Margaux 1787. Harga satu botolnya itu 7,8 miliar. Jika Pak Bram tidak mempercayainya maka baca lagi bill anda!”


Bram tersentak dan langsung membaca kembali bill itu dengan perlahan. Tubuhnya tiba tiba mengeja saat melihat tulisan Chateau Margau 1787 ada dalam bill itu.


“T-tunggu... aku tidak pernah memesan ini sebelumnya, bagaimana ini bisa masuk ke dalam tagihanku?” Bram, berkata dengan suara bergetar dan mata penuh kecemasan.


“Botol Chateau Margaux yang ada di meja anda sudah menjelaskan semuanya. Sekarang Pak Bram, bayar tagihan ini!”


Melihat tidak ada tanggapan dari Bram, membuat Rose memanggil para bawahannya. Pria berkulit hitam dengan bertubuh kekar dibalik jas hitam berjalan masuk membentuk barisan yang mengelilingi semua orang.


“Pak Bram, sekarang kamu bisa bayar tagihan itu sekarang?”


Melihat tatapan dingin dari Rose membuat Bram, dan semua orang di dalam ruangan itu berkeringat dingin, ditambah suasana yang mencengkam karena adanya para bawahan berkulit hitam itu.


Bram secara tidak sengaja melihat Ryan di sudut ruangan yang tersenyum ke arahnya.


“D-dia! Dialah yang memesan Chateau Margaux itu! Bukan aku! Jadi tagih saja itu padanya!” teriak Bram, sambil menunjuk ke arah Rose.


Sontak Rose berbalik melihat ke arah yang ditunjuk oleh Bram, dan dia melihat Ryan yang duduk di sudut ruangan dengan senyuman tipis di wajahnya.


Ketika melihat Ryan, wajah Rose terlihat terkejut dan menundukkan kepalanya penuh ketakutan. Karena di sampingnya terlihat Tuan Reksa Hartanto turun dari wawancara, menuju arahnya.

__ADS_1


“Pak Reksa Hartanto, maafkan aku karena tidak mengetahui anda ada disini.”


Bram pun berdiri, lalu Reksa Hartanto mendekat ke samping Bram dengan suara yang keras, terpasang mic di jasnya. Meski usianya tua, tapi jalannya masih terlihat gagah.


"Ada apa ini ...?" Bram terdiam, ketika sang ayah mendekat.


"Maaf pak! Tapi tuan ini telah memesan minuman seharga 7,8 miliar. Tidak ingin bayar, dia sudah mengganggu acara Tuan. Jadi maafkan saya!"


"Kau tidak tahu siapa pemuda ini..?"


"Dia .."


"Dengar kalian semua, akan aku umumkan siapa pemuda ini. Dia adalah Bram Hartanto, bisnisnya sudah menyaingi reksa Hartanto. Hanya saja dia tidak pernah ingin di kenal banyak orang. Apalagi klien saingan bisnis papanya, dia selalu mendorong orang yang ia sayangi menjadi bosnya. Padahal dibalik layar dialah bos sebenarnya! Jadi tidak mungkin putra saya tidak bisa membayarnya!" teriak Reksa Hartanto.


"Pu-putra anda ..?" gugup Rose.


Beberapa orang berdiri, sorot kamera mulai mengingat pria yang diberitakan di ibukota adalah pahlawan yang menuntas para kejahatan. Wajah Ryan, yang dari arah meja lain seolah malu dan tak punya muka. Ia kecewa karena Elea bisa dinikahi Bram, seolah olah ingin membuat Bram malu di depan banyak orang. Tak di sangka si tua itu datang dari jepang, menghadiri acara pesta perusahaan tersebut.


"Maafkan kelancangan kami Tuan! Bill nya saya akan kroscek lagi."


"Cctv! biar orang ku yang ikut membantu dan menarik siapa yang telah mencoba mempermalukan putra kesayanganku! dia adalah putra yang hilang belasan tahun lalu, jadi kalian ingat untuk tidak menyentuhnya!"


Para pelayan bergegas, Bram mencoba menenangkan agar papanya tak perlu seperti ini mengungkap identitasnya. Tapi Reksa Hartanto, sudah tak sabar lagi ketika putranya yang cerdas dan pemaaf, selalu saja direndahkan.


"Sekalipun keluarga! Jadilah Putraku yang disegani!" menepuk pipi Bram.


Kali ini Bram sedikit tersanjung, ketika papanya mengungkap kebenaran siapa mereka. Jujur Bram tak ingin sang papa berbicara seperti tadi di depan banyak orang, bahkan siaran tv mungkin akan memberitakan setiap hari. Bram tak ingin mengakibatkan Hari, sang adik merasa sakit hati. Bagaimanapun Hari adiknya juga, tapi setelah melihat ini Bram yakin, hatinya terluka.


Ryan dari jauh, bergegas merapihkan jasnya untuk bangkit. Akan tetapi senyuman miring Bram melihat Ryan, ia sudah tahu jika Ryan saat ini ketakutan.


"Bram, ada apa ini ..?" tanya Elea, yang kala itu baru saja tiba, dibelakang papa mertua.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2