Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENCARI DANA


__ADS_3

Bram, menghirup dinginnya udara malam dalam-dalam. Setelah mulai tenang, Bram memikirkan obrolannya dengan Kristal tadi.


Tuan Hartawan ternyata hampir dibunuh. Kecelakaan itu adalah sesuatu yang direncanakan oleh si pembunuh. Dan sampai saat ini kasus ini tidak terungkap, bahkan memang seperti sengaja di tutup-tutupi agar tidak ada yang menuntut.


Pantas, saat Bram dulu bekerja di resto sebagai pengantar makanan, beliau tidak kunjung sembuh dalam pengobatan. Kursi roda bahkan terus saja ia gunakan dengan satu suster, terlebih pertemuan kemarin di desa membuat Bram tak enak hati, meski begitu ia menghormati beliau.


Bram tak terima. Tuan Hartawan sudah sangat baik padanya. Dia bersumpah akan mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan maut itu. Dan dia akan menuntut orang itu dengan hukuman yang setimpal.


Tapi sebelum itu, Bram masih harus mencari tahu lebih dalam mengenai tujuan orang tersebut membunuh tuan Hartawan, meski ia sehat sediakala dan terlihat cacat. Bahkan kedua putranya amat bodoh, seolah diam tak mempermasalahkan tragedi maut yang menimpa ayahnya.


Karena selama Bram, mengenal dan mengikuti kemana tuan Hartawan pergi, dia tidak pernah mengetahui kalau ada orang yang bermasalah dengan pria baik hati tersebut. Selama ini semua tampak baik-baik saja. Terlebih ia selalu diperlakukan baik, diberikan pekerjaan dimasa sulitnya dulu. Membelanya, dibanding kedua putranya.


“Apakah artinya di antara orang-orang yang sok baik tersebut, ada salah satu pembunuhnya? Dan kenapa Kristal baru ungkapkan sekarang? Kenapa dia tidak membuka ini dari dulu? Apakah Kristal tidak sadar sudah membuka rahasia itu kepadaku?”


Berbagai tanya berkelebat dalam pikirannya, saking marahnya Bram, sampai mengepalkan tangannya. Bahkan pak Hartawan ia anggap seperti papanya sendiri, meski perusahaan Jaya Wiss telah diambil ahli olehnya, tetap saja ia menghormati dan senantiasa membantu beliau jika diperlukan, tidak perduli dengan sikap sombong kedua putranya yakni Tio dan Ryan.

__ADS_1


Kini Bram, sudah tiba di parkiran dan baru saja masuk ke mobil supermewahnya. Dia baru saja akan menghidupkan mesin mobil ketika ponselnya berdering. Dari nada deringnya, Bram tahu kalau itu telepon dari kekasihnya, Elea.


Bram, dengan begitu bersemangat menjawab panggilan telepon dari Elea. Wajahnya yang semula kemerahan karena menahan amarah langsung berubah sumringah saat mengetahui Elea, yang meneleponnya.


Namun, rasa senang itu berubah menjadi khawatir saat di ujung telepon terdengar isak tangis Elea.


Hiks! Hiks! Hiks!


Elea, menangis terisak-isak tanpa beribicara sepatah kata pun, membuat Bram, semakin bingung. Ada apa dengan kekasihnya itu.


Elea menjelaskan, sejak terakhir Bram mengantar makanan fresh box, ia menolak dinikahi Ryan, tapi keluarga mereka tak terima dan memaksa keluarganya mengembalikan uang yang telah dipakai oleh ayahnya, baik itu secara materi dan denda perhari.


"Elea tenanglah! Aku akan kembali, terimakasih kamu sudah menjaga hatimu dan menungguku, sekarang pulanglah aku akan datang ke rumahmu secepatnya!"


"Bram, maafkan aku. Bukan maksud hatiku, aku tidak bermaksud memintamu untuk melunasi, aku ingin kita menikah dan pergi sejauh mungkin."

__ADS_1


"Hey! Seorang pria akan meminta kekasih dari seorang ayah dengan cara gentle, baik baik. Mana mungkin Bram lakukan itu secara tidak hormat." senyum Bram, menyapu pipi Elea.


"Baiklah, aku tidak salah menunggumu. Aku akan pulang, menunggumu Bram."


Setelah Elea pulang dengan taksi online, Bram merasa terdiam pasi. Akankah ia bernego pada Ryan, jujur saja ia telah membeli perusahaan Jaya Wiss, dan perlu proses setidaknya tiga bulan, untuk ia memanen timun emas 24k. Belum lagi, ponselnya tak berdering lagi dari misi Qi Ruslan.


"Aneh, kenapa tidak ada misi lagi yang masuk dari aplikasi ini?" gerutu Bram.


Bram pun, segera pergi ke suatu tempat dimana seseorang itu ia percaya, bahkan reputasi kedudukannya ia pindahkan padanya hanya karena ia tidak ingin di atur.


Bram, berharap penuh dengan waktunya yang sempit, ia bisa menemui Elea, dan tak menggantungnya lagi didepan keluarganya.


'Aku baru saja membeli tanah sengketa, bahkan seorang pria baik terlihat dari janjinya. Aku tidak boleh tidak datang, Elea semoga kita berjodoh dan aku bisa membantumu tanpa halangan lagi. Aku berharap alam kali ini merestui kita, apapun caranya.'


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2