
"Aku harus memanggilmu apa? Tuan, Mister, atau apa ..?" tanya Alex dengan wajah riang khas pemuda yang telah mendapatkan benda impiannya. Dia berlari kecil menghampiri Bram yang masih betah berada di balkon.
"Panggil abang, Alex," kata Bram di hadapan Hari.
"Oke. Tidak masalah, punya abang mungkin menyenangkan," celoteh Alex, kembali ke dalam penthouse untuk melihat komputer rakitannya lagi.
"Aku masih tidak percaya, kamu bisa menaklukkan salah satu Alasan.' heran Hari menatap Alex yang nampak sangat senang.
"Lalu aku akan menaklukkan keduanya," balas Bram tersenyum tipis, kala pemuda itu bekerja di dalam penthousenya.
Membiarkan Alex dan Hari ada di penthousenya untuk mengawasi pemasangan safety child. Bram memilih pulang ke rumah Heru. Sementara Hari ingin berbicara keluarga Tjandra, tentang kematian Armanto yang belum terpecahkan harus tertunda, hanya bisa mengepal jari.
Sementara di suatu tempat, Duduk diam di sofa kamar Damar, dirinya mengerjakan pekerjaan kantor sambil mengawasi putranya yang tengah tidur.
Mengawasi tiap pergerakan pasar saham, Bram tertarik dengan saham Fixel Corp. Ternyata perusahaan tersebut masih beroperasi dengan baik, nampaknya Bram harus mengucapkan terima kasih pada Keluarga Tjandra nanti. Sebab pria tua itu sudah mengelola perusahaan dengan baik. Meskipun ia membencinya, tapi satu dua pulau dua keluarga, akan Bram jebloskan secara bersamaan. Dengan begitu, keluarganya akan damai dan hanya menikmati kekayaan begitu saja tanpa musuh mengelilinginya.
Beralih pada rahasia pribadi seorang Tjandra yang berusaha dia bongkar, banyak fakta-fakta yang mencengangkan sampai membuat Bram kelu.
Berbeda Tempat.
"Tuan ...," jawab Kenan, setelah dia menerima panggilan dari Bram.
"Kembali Ken!" titahnya.
"Baik, Tuan." Meski Kenan masih mengikuti Jingga, dia segera menuruti apa perintah tuannya.
Sampai di rumah Heru, Kenan segera menemui Bram di ruang kerja pria tersebut.
Heru, benar-benar menyerahkan tampak kepemimpinan S Konstruksi ke tangan Bram, terlebih setelah dia memiliki cucu. Kata Heru dia ingin menikmati masa tua yang tenang bersama Damar cucunya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Ken dengan kaku.
"Pagi, Ken. Aku ingin kamu menjadi asistenku," ujar Bram tanpa basa-basi.
Kenan mengernyit, kenapa tuannya ingin dia menjadi asisten. Kebanyakan bukankah asisten itu perempuan?
"Tapi Tuan--"
__ADS_1
"Tidak usah banyak tapi Ken, aku butuh asisten. Sebab S Konstruksi bukan perusahaan main-main, kamu pikir aku bisa bekerja sendiri!" desis Bram.
"Apa anda tidak menginginkan laporan perihal nona Jingga, Tuan?"
Biasanya Bram menginginkan laporan rutin mengenai kegiatan Jingga, tapi setelah kesedihan hilangnya Elea, membuat Bram tak mau ingat wanita pertama sebelum ia mencintai Elea.
Bram diam mencoba menelaah apa yang ada di hatinya untuk Jingga, saat mengingat wanita tersebut. Yang ada dalam bayangan Bram hanya Elea dan juga keluarganya. Lalu apa lagi yang dia cari dari seorang Jingga. Tidak ada.
"Tidak perlu Ken, biarkan dia menjalani apa yang dia inginkan. Dirinya adalah tanggung jawabnya sendiri."
"Baik Tuan. Dengan cara apa saya harus membantu anda?" tanya Kenan.
"Kamu adalah orang yang paling sering mengamati orang-orang yang kamu mata-matai. Jadi, kurasa kamu paham setiap karakter orang. Aku ingin kamu menemaniku saat bertemu klien dan mengamati seperti apa klien yang kumiliki," kata Bram, dia menjelaskan sambil menunjukan dagunya pada kedua tangan.
"Baik Tuan."
Beginilah kenapa Bram suka Kenan, pria itu paham apa yang Bram mau tanpa banyak bertanya.
"Daddy," panggil Damar, yang baru saja bangun dan menyusul ayahnya di ruang kerja.
"Kamu sudah bangun sayang, sini sama Daddy." Bram membuka kedua tangannya, Kenan yang melihat perubahan ekspresi secara drastis sempat terkejut. Terlebih fakta bahwa Damar putra kandung pria itu. Hanya saja, secara hukum Damar adalah putranya. Hidup orang kaya begitu rumit, dulu Kenan bermimpi jadi orang kaya. Setelah tahu kerumitan yang dialami para orang kaya, dia mengurungkan niatnya menjadi kaya raya.
Tak lama, seorang bocah menggapai tangan Bram.
"Damar mau ketemu mommy, Daddy bilang kita ke sini mau ketemu mommy. Tapi Daddy sibuk terus," rengek Damar, menyembunyikan wajahnya di Bram.
"Oke-oke kita ketemu mommy sekarang," ajak Bram pada Damar yang langsung ceria. Hal itu membuat Bram, merasa bersalah, terlebih yang akan mereka temui bukanlah sosok Elea melainkan pusara istrinya.
"Nanti kalau sudah sampai, Damar nggak boleh marah ya. Kasihan mommy, sudah rindu Damar. Tapi Damar malah marah-marah."
"Ok dady." senyum bocah itu.
Dalam perjalanan menuju makam, Bram mencoba memberi pengertian pada putranya. Dia berharap supaya Damar, tidak marah atau menangis saat melihat pusara sang ibu.
"Apa Tuan pernah menunjukkan pusara nyonya pada tuan muda?" tanya Kenan yang menjadi driver Bram.
"Tidak Ken, aku merasa belum siap," jawab Bram kelu.
__ADS_1
"Bagaimana jika nanti tuan muda menangis tidak terima?"
"Itu resiko yang harus saya tanggung Ken."
Bram menerawang, sejak saat dia menerima kepergiaan Elea. Dia sudah berjalan di atas titian yang rapuh, penerimaannya pada Elea bukan karena dia adalah pria yang mudah mencari wanita ketika ditinggalkan, perjuangan hidup bersama dengan kekasihnya itu tidaklah mudah. Dan saat menjadi kaya raya, kenapa wanita yang ia cintai meninggalkannya selamanya, hanya karena melahirkan dan Elea menyembunyikan sakit darinya.
"Ini tempat apa, Daddy?" Damar kecil yang tidak pernah mengunjungi pemakaman, tentu saja bertanya-tanya.
"Ini pemakaman, Boy," jawab Bram menggenggam erat jemari kecil Damar. Setiap langkahnya menuju pusara Elea semakin berat, ada ribuan rasa rindu dan keluh kesah yang ingin dia tumpahkan pada istrinya itu.
"Pemakaman itu apa, Daddy?"
"Pemakaman itu tempat orang yang sudah meninggal, sayang."
Keduanya semakin dekat dengan pusara bertuliskan Elea Handaru binti Reksutomo. Pusara itu bersih dari semua rumput liar dan daun-daun yang berguguran.
Dia yakin, papa mertuanya yang membayar orang untuk merawat makam Elea.
"Meninggal seperti teman dady di Belanda?"
Damar, bukanlah bocah yang benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia bisa mengerti situasi dan kondisi suatu tempat dengan sangat cepat, juga bisa menyesuaikan diri dengan tepat.
Bram mengangguk sambil mengelus puncak kepala putranya.
"Di sinilah mommy, Boy." Bram menatap sendu nisan istrinya, kemudian dia meletakkan buket bunga mawar putih kesukaan sang istri.
"Sekarang aku di sini sayang, mengunjungimu. Maaf, setelah sekian lama aku baru berani berada di tempat ini. Benar yang kamu katakan, aku harus berani menghadapi masalahku. Tapi aku sekarang ketakutan, aku takut jika suatu saat mereka sadar dan merebut Damar dariku," keluh Bram pada nisan istrinya dalam batin.
"Mommy, Damar tidak pernah bertemu dengan Mommy. Daddy cuma memberitahu seperti apa Mommy lewat foto. Mommy tahu, Damar rindu Mommy. Damar pengen peluk Mommy, tapi tidak bisa. Mommy bobok yang tenang ya di sana, Damar janji akan jadi anak yang baik dan tidak rewel," celotehan Damar, membuat Bram tidak bisa membendung air matanya.
Kenan, tentu saja hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi, dunianya terlalu sederhana untuk dunia tuannya yang begitu rumit.
Di sisi lain, dua wanita nampak berjalan dengan tenang. Seolah sudah hafal dengan arah yang ingin dia tuju. Dan itu adalah Jingga, dan satu lagi adalah Via, yakni kembaran Elea yang sedikit tidak identik, hanya dari samping lah mereka sangat mirip. Anehnya ia datang bersama wanita bernama Via, yang tuannya benci hingga kini.
TBC
Sambil Tunggu Up! Yuks mampir teman litersi author.
__ADS_1