Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMBERI PERINTAH


__ADS_3

"Bram, kenapa kamu bisa sampai disana?"


"Papaku harus di operasi, di rumah sakit milioner. Huuft! Jika aku pindahkan ke rumah sakit biasa, sangat tidak mungkin El." jelas Bram.


"Bagus saat itu kamu menghubungiku. Jika tidak, aku pasti terlambat. Jujur penelitian itu sangat berbahaya bagi nyawa seseorang, yang aku tahu banyak orang yang tidak berkepentingan masuk, tidak jujur dan menyalahgunakan kepercayaan pemerintah. Seharusnya penelitiaan itu tidak beroperasi lagi." jelas Elea yang sedikit tahu, ia pernah magang dan untungnya tidak lama ia keluar.


Bram menceritakan tentang brosur, sehingga kala itu Elea tercengak bukan main. Atas penjelasan kekasihnya itu. Bukan lagi tentang dimana peneltiaan itu telah disalahgunakan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.


“Apa?? 100 juta perhari!!? Mustahil, aku yakin ada yang ga beres. Aku akan mencari tahu, setauku percobaan itu dari hewan yang sakit dan akan mati. Bukan dari manusia normal Bram."


Elea kamu jangan gegabah! Aku mendengar itu karena teriakan seorang pria salah satu peserta sukarelawan. Aku melihat jelas saat pertama aku bertemu dengan pria yang aku tanya.


Sebelum Bram, mengucapkan kata apapun, salah seseorang telah mewakili rasa terkejut dan tidak percayanya. Mendengar teriak itu, maka dapat dipastikan bahwa ia tak salah melihat. Di kertas itu benar-benar tertulis 100 juta perhari.


Lelaki berjas putih yang Bram lihat tadi mengawali percakapan tadi mengangkat ujung bibirnya, tersenyum puas melihat respon kumpulan orang bodoh dihadapannya.


“Iya, betul. Setelah kalian keluar dari ‘pusat penelitian’ kalian akan langsung diberikan uang 100 juta. Dan tidak hanya itu, apabila penelitian menunjukkan hasil yang memuaskan, ada bonus tersendiri.” Jelas pria itu.

__ADS_1


Mendengar kata 100 juta perhari disebutkan, tentu saja Bram, sangat senang. Dengan uang sebanyak itu dia bisa menutupi biaya berobat Ayahnya, sehingga dia tak akan dikejar-kejar rentenir apabila ia jadi meminjam pada rentenir. Memang pilihan nya untuk datang ketempat ini memang sangat lah tepat selain butuh pekerjaan sampingan dari kurir deliverynya yang sedang kosong tak ada orderan.


Setelah rasa keterkejutan para peserta sudah agak mereda. Beberapa orang berjas putih lainnya memberikan materi singkat tentang penelitian yang mereka lakukan.


Bram saat itu, sudah tak terlalu memperdulikan penjelasan-penjelasan itu. Lagipula tak ada satu pun yang ia mengerti dari setiap kalimat yang dilontarkan. Begitu banyak bahasa ilmiah dan kesehatan yang bagi orang awam sepertinya tak mengetahui setiap arti dari kalimat itu. Biarlah. Yang penting kini ia akan dapat uang 100 juta perhari. Dia tanpa pikir panjang langsung menandatangani di lembar ketiga dari file kontrak itu, tanpa membaca lebih lanjut isi kontrak itu. Tapi beruntungnya Bram, yang pernah mendampingi Elea soal kimia dan bahan medis, ia menjatuhkan bolpen dan mengulik lebih dalam apa yang terjadi di ruangan khusus.


"Beruntung kamu tidak jadi Bram." refleks Elea yang memeluk Bram begitu saja.


Bram berusaha menahan diri, dengan begitu banyak yang mereka ceritakan dengan luang yang jarang sekali mereka luangkan.


"Bram, apa rasa cintamu masih seperi dulu, dan masih serius denganku?"


"Biasanya pria sukses akan banyak wanita, apalagi .."


"Elea, meski tak sedikit tahu aku dari keluarga manapun, kamu tahu kan! Aku tidak suka menampilkan diriku lebih jauh, bahkan reuni hanya ajang pamer. Kecuali jika itu berhubungan denganmu, akan aku pertimbangkan." senyum Bram, membuat Elea yakin.


Hari itu Elea diajak ke rumah pohon, hanya Elea yang takjub akan komputer tua yang masih beroperasi. Apalagi system orderan tersambung ke ponsel pintar Bram, Elea tak menyangka kekasihnya itu membuat bisnis pertanian timun emas, apalagi harganya fantastis.

__ADS_1


"Aku salut, kenapa bisa aku punya kekasih langka sepertimu. Sukses, aku yakin kamu adalah generasi penerus seperti papamu. Papamu pasti bangga, karena anak satu satunya bisa mengikuti jejaknya." puji Elea.


Ada raut tak senang, karena Elea tidak tahu ia mempunyai adik yang tidak se ibu dengannya. Rasa kekecewaan dan sayangnya berkurang, di saat ia menemukan papanya sendirian tanpa pengawasan dan terluka.


Bram mengajak Elea menunggu di rumah sakit. Ia juga menunggu dokter tiba menjelaskannya. Tak begitu lama Bram berbicara khusus pada dokternya. Ia tidak ingin siapapun yang menjenguk papanya selain dirinya dan ... Bram sedikit bingung, bagaimana bisa ia menjaga papanya setiap detik, sementara ia harus mengurus pertanian bibit timun emas di desa sengketa yang ia beli itu.


"Bram, setelah pulang kuliah dan kerja. Aku akan membantumu menjaga menjenguk papamu. Aku tidak keberatan!" senyum Elea.


"Thanks."


Bram menandatangani syarat prosedur operasi sang papa, hanya boleh dirinya dan Elea lah yang menjenguk. Bahkan Hari, Inggrid mama sambungnya tidak di perkenankan. Apalagi para bodyguard yang biasa menjaga di rumah, tak Bram temukan saat itu.


Apalagi Elea sedikit takjub, dan khawatir menjadi kekasih pria sekeren Bram, ia takut kekasihnya itu akan berpaling darinya karena di luar sana banyak wanita lebih cantik, elegant darinya. Elea syok, saat Bram berkata dengan seseorang di ponselnya, sebelum ia menepuk bahu Bram, untuk memberikan segelas coffe.


"Kalian dipecat! Aku akan mengurus Bar yang bermasalah, lima puluh orang aku tugaskan kau dan anak buahmu, menjaga papaku serta Elea kekasihku. Selama aku tidak menjenguk, jika lecet sedikitpun! Maka nyawa kalian taruhannnya."


Gleuuk!!

__ADS_1


'Aapaa ... Ini sisi dingin, dan arogan Bram yang asli. Tidak aku sangat beruntung dicintainya, aku yakin Bram tidak seperti pria lain yang akan menyakiti hatiku. Aku percaya penuh padanya. Batin Elea, dibalik punggung Bram, masih mode memegang dua gelas coffe.


Tbc.


__ADS_2