
Bram, tak jadi menandatangani. Matanya tertuju pada satu ruangan yang petugas Apd itu pergi ke arah kerumunan yang lanjut dan pergi begitu saja. Bram masuk, perlahan ia tak sadar ada yang memperhatikan dibalik layar.
Tapi Bram cukup pintar, ia mencoba memukul seorang Apd dari belakang, dan ia menukar pakaiannya. Membawa petugas Apd itu yang pingsan ke arah rak peti beku. Peralatan ini sungguh membuat Bram aneh. Apalagi baunya menyengat mirip pengawet mayat.
Hhaaaciii...!! Menutup dengan tisue basah. Bram, alergi akan bau obat obatan yang menyengat sehingga ia membubuhkan minyak kayu putih ke dalam tisue basah. Lalu mengekor ke petugas lain yang seorang sempat Bram tanya, ia menyetujui untuk menjadi bahan uji percobaan. Bram menonaktifkan suara ponselnya dan merekam beberapa suara dibalik jas Apd.
Bram kali ini di sebuah ruangan bercat putih nampak seseorang berada diatas kursi besi, tepat di tengah-tengah ruangan. Di sampingnya, ia ditemani oleh banyak alat-alat yang menimbulkan bermacam bunyi-bunyian. Alat-alat itu dipasang kan pada tubuh hidup itu dengan ribuan kabel kecil yang menembus kulit bagian luarnya.
Aaaaarrrrggghh!!!
Orang itu mengeram kesakitan setiap kali salah satu mesin yang memiliki monitor besar yang menunjukkan kurva naik turun itu berbunyi. Kadang kala ia berteriak kencang hingga kehilangan kesadaran dan saat bangun ia akan merasakan hal yang sama terulang kembali. Beberapa kali dalam sehari dia juga akan memuntahkan darah merah hingga kehitaman akibat reaksi benda-benda yang ditempel kan di tubuhnya itu. Entah sudah berapa lama ia merasakan rasa sakit itu terus berulang. Apabila bisa, ia ingin sekali lari dari tempat ini secepatnya tapi apa daya tangan kaki hingga leher nya diikat melekat dengan kursinya.
Dihadapan orang itu sebenarnya ada orang lain yang memperhatikan gerak geriknya. Seorang lelaki berjas putih dengan beberapa catatan ditangannya. Mereka hanya dibatasi oleh kaca satu arah dimana hanya lelaki berjas putih itu lah yang bisa melihat kearahnya dan bukan sebaliknya. Orang berjas putih lainnya masuk menghampiri lelaki itu.
“Bagaimana hasilnya?” tanya lelaki itu kepada wanita yang baru saja masuk. Sementara Bram mendorong meja stainless sesuai perintah masih menyamar.
“Tidak ada perkembangan. Tanda-tanda vitalnya masih dalam keadaan normal. Tapi kemampuan otaknya makin lama makin menurun,” jelas wanita itu sambil membacakan data yang tadi telah diambilnya.
Bram memutar cara untuk tenang, sesekali kakinya lemas. Ia bersumpah akan melihat penelitian apa yang ada di lab uji kesehatan ini. Jelas ini adalah ilegal, dan jika Bram telah kaya raya ia akan menuntut keadilan.
__ADS_1
'Orang itu mati, apakah kita beri kompensasi pada keluarganya?'
'Bodoh! Untuk apa, buang saja mayatnya dan beri santunan bukan dari kesehatan seperti biasa. Orang kampung di beri lima juta sudah bahagia. Seperti biasa, mayatnya potongannya diberikan pada aligator buaya muara Angkle.'
Bram yang masih berpura pura menyusun obatan itu, mendengar dan merekamnya. Sehingga ia mencoba mencari toilet akibat petugas Apd tadi membuka peti beku. Bram berusaha tidak panik untuk keluar dari ruangan itu. Pintu bagai elastis Bram di dalam toilet berusaha menghubungi Kristal, akan tetapi tidak tersambung.
Bram lupa, jika Kristal adalah wanita jadi jadian dari sebuah system yang di kirim Qi Ruslan dari dewa seribu tahun. Ia akan tiba tiba datang menjadi manusia, atau setengah macan tutul putih yang sulit dihubungi. Dan Hari, adiknya itu jangan tanya, setelah papanya sakit, apa yang terjadi Bram sendiri sulit menghubungi, karena mereka pergi ke Belanda meninggalkan papanya seorang diri. Bahkan uang di berangkas habis tak tersisa.
Tekad Bram adalah, berusaha pergi dengan sendirinya. Membawa sang papa ke desa sengketa dan membangun pertanian bibit delivery yang ia jalankan setelah panen.
Kraaak! Pintu keluar terbuka, Bram menatap penuh siapa yang ia lihat. Apakah ia ketahuan karena dianggap penyusup.
“Ehemm… Namaku Bram, petugas baru di sini. Salam kenal.” menunduk.
“Untung saja ada yang aku kenal. Jadi bisa lega rasanya,” ungkap gadis itu dengan tersenyum manis.
Setelah menyadari bahwa orang dihadapannya ini seorang wanita, baru lah terlihat jelas fitur-fitur feminim yang dimiliki gadis bernama Elea itu. Garis wajahnya yang halus dengan kulit tak bernoda yang tampak pucat menonjolkan mata yang jernih bulat penuh dengan semangat muda. Wajahnya yang berukuran mungil semakin terlihat kecil dengan rambut yang membingkai. Tak habis pikir, bagaimana bisa ia tadi mengira bahwa gadis ini adalah anak laki-laki.
"Elea..?"
__ADS_1
"Ayo cepat kita pergi! Kau membuatku khawatir!" menarik tangan Bram.
Mereka berlari dan menuju sepeda motor dengan box berwarna silver. Elea merangkul pinggang Bram, sungguh ini adalah pemandangan yang jarang mereka lakukan karena misi mereka dalam berkarier amat panjang.
Sampai di rumah pohon! Bram menatap diam di hadapan Elea.
"Jangan lagi berbohong! Kenapa kamu sembunyikan identitasmu?"
"Maksudmu ... Apa?"
"Begini saja, aku memang sedang meneliti dengan name tag legalku dari pemerintah dan aman dari hukum! Jadi mereka melakukan itu secara ilegal, tidak akan berani. Dan jangan lagi masuk ke tempat itu. Kali ini aku maafkan, aku juga bawa check kelebihan yang kamu berikan pada Ryan." Elea memberikannya.
"Apa ini?"
"Pak Hartawan, papa dari Ryan menganggapmu itu bukan karyawannya. Jadi itu check dua puluh lima Triliun dikembalikan. Kau lupa, pak Hartawan setelah tahu kelicikan kedua putranya ia memintaku mengurus mencarimu, menjelaskan siapa kamu. Papamu adalah atasan pak Hartawan, ia orang kepercayaan seorang ayah dari pria yang aku kira kurir dan akan tetap menjadi kurir dimataku. Bukan putra dari seorang keluarga terkaya!"
Terdiam Bram, ia merasa tidak ingin dirinya dilahirkan dari orang terkaya nomor satu.
"Bram Hartanto, aku akan menunggu kamu melamarku sesuai dengan dirimu yang benar benar sukses, kalau perlu menyaingi kesuksesan papamu. Dan aku, terus meneliti di bidangku."
__ADS_1
Senyum Bram, setelah tahu. Ia lalu mengajak Elea ke rumah sakit. Sebelum mengurus tanah sengketa dan Hari, adiknya itu yang entah dimana, Bram akan memberi perhitungan jelas itu pasti.
Tbc.