Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
CURHAT PADA SAHABAT


__ADS_3

Berbeda dengan keberadaan Hari Hartanto di pabrik Gold Miror.


"Bos. Bos bangunlah!" teriak Eri. Dari mobil lain yang baru menepi.


Ia segera menghubungi ambulance, lalu tanpa sadar. Hari telah berada di rumah sakit terdekat. Dengan segenap imun tubuhnya yang sempurna. Ia segera bangun dan menatap samar ruangan putih.


"Di mana saya?" tanya Hari.


"Bos. Anda hampir kehilangan keseimbangan, tadi itu anda pingsan. Bagus saja tidak ada yang cidera. Tapi saya sudah merujuk yang sebentar lagi dokter Fran akan mengecek dalam tubuh anda Bos."


Hari melirik, ia mengingat jelas masih samar pandangannya teringat Mikha. Lalu ia tersenyum miring, mencopot infus dan berusaha bangun.


"Bos, anda tidak bisa bangun begitu saja. Saya mohon. Kesehatan anda belum pulih, masih ada beberapa hal yang harus di periksa!"


"Satu jam lagi kita rapat penting. Tolong ambilkan plaster untuk keningku saat ini. Saya bukan pria lemah. Eri, tolong jangan bahas apapun tentang kecelakaan ini, dan berpura puralah tak tahu atau melihat Mikha dan si brengsek itu!"


"Ta-tapi bos." gugup Eri karena takut kesehatan bosnya terganggu jika memaksa.


Fran, yang tiba saja ingin masuk, ia membawa dokumen hasil pemeriksaan. Terkejut saat Hari telah berganti pakaian rapih ala kantor yang jelas ia berjalan masih terlihat lemas. Dimana pertengkaran hebat, ia mendapati Mikha dan pria bernama Dani bertemu, membuat Hari melayangkan ingin membuka ruang pada Lena yang datang menebusnya.


Sungguh, Hari tidak peka kala menikahi gadis belia, yang sibuk menjadi modeling.


"Hari. Tolong perhatikan kesehatanmu, tadi kamu hampir saja berlawanan dengan malaikat nyawa!"


"Cieh. Malaikat nyawa sedang menunda diriku Fran. Dia tak berani mengambil nyawaku, karena diriku masih ada kegiatan yang amat penting saat ini!" senyum miring melirik dokter Fran.


Dokter Fran yang melirik Eri. Ia hanya mendengus nafas panjang, lalu menggeleng kepala akan aksi sahabat bodohnya itu.

__ADS_1


"Eri. Tolong berikan obat yang teratur. Saya takut jika luka dalam akan terjadi di beberapa waktu yang akan datang. Hari, akan menyesal jika ia menghiraukan kesehatannya saat ini!"


"Baik Fran. Terimakasih." pamit Eri.


DI BERBEDA TEMPAT CAFE STAR.


Mikha sengaja menemui Sinta, karena ia yakin temannya itu rapat dadakan dan hadir suaminya disana tanpa Mikha tahu. Karena ia pulang, tak ada tanda tanda mas Hari, pulang ke rumah dan kembali ke kantor.


"Malam begini, kok Sinta belum datang sih. Kalau bukan karena video Lena, udah pasti gue aktif lagi bekerja. Gue ga bisa diem gini aja, gue harus cari pekerjaan baru. Apalagi posisi gue sekretaris modeling tapi ga dianggap sama mas Hari, dan di libatkan pertemuan klien." gumam Mikha.


Hingga setengah jam kemudian. Sinta duduk menatap Mikha yang berkutat dengan ketikan di sebuah laptopnya. Sinta melirik dan bertanya satu hal yang serius.


"Lo lagi apa Mik?"


"Sin, gue habis ngelamar kerja. Ga bisa gue diem aja kaya gini."


"Loh, emang pak bos Hari, udah ngeluarin loh. Belum fix kan?" ungkap Sinta.


"Sin, tadi beneran hari ini Dani, hadir rapat? Dia ada di kantor G?"


"Ya. Beneran, biasa aja kaya yang udah udah. Cuma tadi sedikit aneh, gak biasanya kancing kemeja pak Dani putus. Udah gitu ada noda merah. Jangan bilang dia habis berantem sama pak Hari."


"Eum. Merah? Seriusan, apa nodanya?" tanya Mikha panik.


"Gak pasti. Gue terlalu fokus sama materi, jadi kayaknya itu perasaan gue aja."


"Dih. Kok ketawa sih emang lucu?"

__ADS_1


"Nah kan. Udah mulai nih, kayaknya elo ada perasaan deh sama pak Dani. Kenapa lo ga beri jawaban aja sih?"


Mikha terdiam, ia menepis perkataan Sinta. Ia bicara jika di hatinya masih ada Hari dan sedang berusaha melupakan, bagaimanapun dirinya masih berstatus istri Hari Hartanto.


Hingga di mana, Mikha berbicara serius akan kedatangan mas Hari, yang tiba saja menceritakan Lena ingin meminta kembali pada suaminya, tapi tak berniat menceraikan Mikha.


"Apa .. Gue gak percaya Mikha. Gue harap lo bijak, inget pengorbanan pak Dani, Inget juga klo Hari selalu buat elo sakit dan kecewa. Lo klo kembali sama Hari, keterlaluan namanya. Lo gak takut, klo Hari kelak bakal manfaatin lo lagi? dimana hidup sama pak Hari, bukanlah baik. Dia enggak setia kayak Tuan Bram atau sekelas pak Damar.


"Gue gak yakin sih Sin. Tapi mata dia kayak tulus gitu. Trus pas gue ngobrol, gue ngerasa ada piring makanan jatuh. Sekilas gue liat ada punggung pria. Apa kira kira dia ada di sana ya?"


Sinta terdiam, kala mengaduk jus lemon. Ia menatap aksi Mikha yang sedang berfikir.


"Lo liat makanan nya apa?"


"Enggak. Gue melewatinya, pas gue ke atas lagi mastiin. Makanan itu udah bersih, mungkin udah di sapu sama ob."


Sinta pun memejamkan mata, ia takut jika saat Mikha berbicara serius. Ada seseorang yang berjuang ingin memberi kejutan. Hanya saja time ga tepat, saat Mikha bersama Hari tadi ... ?


Fix! Lo bodoh, sekarang lo hubungi pak Hari suami lo. Gue yakin, ini time yang tepat buat kasih kejutan manis. Buka hati lo Mikha, ga baik menyianyiakan pria seperti pak Hari. Itu kalau lo mau nyesel nantinya!! Kecam Sinta akan kebodohan Mikha masih saja plin plan. Untuk bicara dirinya tak berniat dimadu, atau pilihannya tetap dimadu tapi bersaing pada mantan istrinya Hari, yang bernama Lena.


"Ok gue cabut dulu, gue emang mau pulang dan buat kejutan sama mas Hari, gue bakal jelasin kalau Dani hanya rekan kerja."


Sinta pun meraih tas, ia mengantar Mikha pulang sampai gerbang perumahan kompleknya.


"Gue anter, tugas gue juga jagain lo dari mantan brengsek lo yang pengen banget gue bejek bejek, tepis tamparan. Inget ya Mikha. Jangan melunak untuk kebodohan kedua kalinya." nyerocos Sinta membuat Mikha tertawa penuh.


"Siap ... Sintaku." puji Mikha, yang kali ini mendapat pencerahan dari temannya itu.

__ADS_1


'Sebaiknya aku baikan Hari, dan bertemu Lena saja. Mungkin dengan ini, aku bisa menenangkan hati Hari Hartanto.' batin Mikha.


Tbc.


__ADS_2