Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MISI MENGUNTUNGKAN


__ADS_3

Di Bandara.


"Tuan, apakah ini tidak berlebihan. Saya takut semuanya gagal, karena saya tidak pernah berbohong menjadi kekasih Jingga." Kenan merasa gemetar dan tak enak hati.


"Jika kau ingin selamat, maka turuti saja. Anggap saja aku wakil dirimu mendampingi Tjandra. Dia pasti akan mengerti!"


Gleuuk!


Jingga mengekor dengan lemas, gagal rencananya mendapatkan hati Bram seperti dulu. Otaknya benar ajaib dan pintar, bahkan dendamnya padanya masih ada hingga kini.


"Kalian duduk bersama, aku akan duduk sendiri. Aku perlu waktu sendiri untuk menghubungi putraku Damar, yang kini bersama papa Reksa."


***


Sementara Kenan menggerutu setiap hari, kedatangan Jingga pada tuannya yang super sibuk, membuat dirinya bertambah tugas tak masuk akal.


"Heh, kau menyindirku, Ken?"


"Kenyataannya begitu!" seru Kenan sedikit sarkas.


"Kau orang yang cukup egois Jingga. Haah, semoga kau tak menyusahkanku lebih banyak ke depannya."


"Bagaimana kau menilaiku egois?"


"Hmm, kenyataannya begitu, kau mementingkan diri sendiri!" seru Kenan jujur.


"Aku cuma minta tolong ambilin tas." Jingga tak mau kalah, memerintahkan pada Kenan.


"Nah sekarang dibalik, kalau aku ke sana para wartawan itu yang akan mengejarku, andaikan mereka sudah di sana, bukankah kau menjadikan aku tumbal?”


"Setidaknya mereka tidak tahu kalau kamar yang kau tuju adalah kamarku, kan Kenan? Mereka juga paling wartawan lokal Filipina." Jingga masih bersikeras membuat Kenan menghela napas pelan, masih menatap sekeliling dimana keberadaan Bram.


'Aku sudah terlanjur menolongnya, baiklah aku tuntaskan, tak perlu berdebat lagi!' pikir di hati Kenan yang yakin, percuma dia menegur Jingga, ga akan nyambung. Apalagi perintah Bos Bram, membuat Kenan tidak berkutik.


"Ya sudahlah!" setelah berpikir sejenak, Kenan akhirnya datang menghampiri Jingga lagi, meraih kunci yang tadi dikeluarkan dari tas Jingga.


"Jangan turun sampai aku kembali, ini lantainya belum dibersihkan!” Kenan tidak mau Jingga menambah luka lagi, menambah kerepotannya lagi.


"Tenang aja, aku ga bodoh! Lagi pula aku harusnya menjadi pacar Bram, kenapa dia sekeras batu ya?"


"Karena cintanya pada Nyonya Elea, masih terjaga." sindir Kenan, membuat Jingga kesal ingin melempar bantal ke wajah Kenan.

__ADS_1


Sssst!


Klek!


'Ga bodoh, cuma ga pakai otak kalau bertindak!' bisik hati Kenan, sambil tangannya menutup pintu kamar.


'Hah … untung saja dia setuju! Legalah aku. Egois? cih! Biar kalau aku egois kenapa? Aku ya begini sih!'


Senang terasa di dalam hati Jingga, tak peduli dia sudah menyusahkan Bram dan kali ini Kenan sebagai pasangan bohongan. Saat itu juga menurutnya, Jingga antusias menelepon manajernya serta teman baiknya.


Chat Line.


Via : Ada kabar baik untukku?


Jingga : Enak saja kau ya, minta kabar baik saja! Kau tidak tahu bagaimana pengorbananku disini mencoba merayunya sih!


( Via tadi tak berbasa-basi, dia langsung pada inti pembicaraan juga. Ingin tahu yang didapatkan oleh Jingga )


Via : Hasilnya gimana?


( Via seakan tak peduli, dia strict menunggu jawaban)


Jingga : Bram udah setuju! Tidak sulit sih untuk mendapatkan persetujuannya, ya walaupun aku harus sedikit mengemis padanya. Tapi kau tahu, siapa orang yang menjadi pacar pura puraku, Kenan. Si pengawal Bram, dan Bram bilang dia akan jadi wali agar papaku setuju! Syiiet gak sih?!


Jingga : Manajer macam apa kau? Semua kau serahkan padaku begitu?!


Via : Hehehe … aku sudah sibuk mengurus penggiat berita yang mengejarmu! Jadi kau uruslah urusan keluargamu. Kabari aku kalau semuanya berjalan sesuai rencana, aku akan menjemputmu! Satu lagi, tidak mudah mendapatkan hati Bram kan? Hahaha. Gelak tawa Via.


klik


"Sial kau! tidak sama sekali mau membantuku. Makan gaji buta lah kau Via!"


Jingga bersungut tapi dia hanya marah sebentar saja, dan sudah kembali fokus pada pikirannya, apa saja yang harus dia katakan pada ayahnya dan bagaimana dia harus meyakinkan Tjandra yang tak akan mudah percaya, lalu kenapa Bram menolaknya dan meminta asistennya menjadi pacar pura pura nya.


'Aku harus briefing dulu sama Bram!' untuk beberapa saat Jingga, disibukan sendiri dengan pikirannya


Hingga


klek!


"Ini tas kopermu! Pakaianmu dan semua barang-barangmu sudah aku masukkan ke sini juga.” teriak Kenan.

__ADS_1


"Benarkah, wah terimakasih."


'Cih! Dasar wanita berantakan! Inilah yang aku tidak suka lagi dari hubungan dengan wanita, ribet. Bagaimana mereka bisa hidup dengan semua ketidakteraturan hidup mereka ya? Sebentar tertawa lepas, kalau sudah hepi lupa pakai otak, udah salah, ga tau juga gimana harus ngeberesin selain nyusahin orang lain! Haduuuh.' Kenan bergumam pelan macam itu, mencoba sabar akan dirinya. Pantas saja, tuannya Bram tidak mau menjadi pacarnya, benar benar berbeda dari mendiang Nyonya Elea.


"Kita berangkat sekarang, Jingga kenapa koper yang udah aku rapihin di acak-acak lagi begitu? Ingat Tuan Bram sudah menunggu."


Jingga tidak menggubris ucapan Kenan tapi fokus pada permasalahan waktu


"Oh, hehe, cari baju yang pas, deh!"


"Pake yang paling atas ajalah! Kan katanya udah ditungguin satu kali dua puluh empat jam sama ayahmu! Tuan Bram tidak punya waktu banyak." untung Kenan masih bisa sabar, tapi tetap dia agak sinis mirip Tuan Bram.


"Apa mo ketinggalan pesawat?"


"Eh, enggak, iya aku pake yang ini aja!"


Jingga juga tak tahu kenapa dia keasyikan pilih baju. Ini menyebalkan untuk para laki laki pastinya.


"Sudah, sana siap-siap, tinggalin kopernya biar aku yang rapihin nanti!"


"Nah, nanti kalau mau keluar dari kamar mandi, jangan langsung melangkah, tunggu, diam di sini!"


"Hmm!"


Itu kata-kata Kenan sebelum dia sengaja menutup pintu kamar mandi. Dan apa ada getaran yang sama untuk Kenan? biarlah Bram tak mau menjadi kekasih pura puranya, benar saja Kenan asisten Bram, sangat tampan dan entah kenapa pria itu baik, sepertinya tidak kejam seperti Bram.


'Fuuh, dah ga sempet nyapu, aku siap-siap dulu aja lah! Masih harus beresin koper itu juga!'


Kenan tidak punya rasa yang sama. Dia justru sibuk dengan urusannya sendiri dan menuju ke lemari pakaian untuk mengambil yang akan dibawanya. Jingga saat ini berada di kamar dan pria itu tadi malam tidur di sofa, karena itu, selagi Jingga di kamar mandi, Kenan pun nge-pack barangnya dan merapikan koper berantakan Jingga juga.


Klik.


Kenan mendapat telepon dari tuannya, sehingga ia meninggalkan Jingga seorang diri saat itu.


Hingga beberapa menit, Kenan bertemu Bram di berbeda kamar.


"Tuan."


"Tidak perlu membungkuk Ken, tidak perlu tidak enak. Aku menutup hati untuk wanita manapun, jika dia bahkan jodohmu aku tak apa. Pastikan kau pahami, percakapan di dalam flashdisck ini! Ingat, targetku mau membantu Jingga adalah Tjandra. Adikku sangat sedih, siapa dalang dari ayah biologisnya."


"Ba-baik Tuan." ucap Kenan, sekenanya. Padahal ia ingin sekali menolak menjadi pacar pura pura Jingga dan takut saat ini.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2