
"Damar, tapi semua sistem terbaru belum kamu ubah dan perbahrui. Bagaimana bisa kamu pergi sebelum selesai?" ujar Alex.
"Paman, ayolah! istriku dalam bahaya, aku minta maaf!" ujar Damar pamit, membuat Alex menghela nafas.
Hingga beberapa saat, di beda tempat. Mikha dan temannya seolah mengejar lebih dulu kediaman Sena.
Kemana mobil itu cepat sekali menghilang, sial aku kehilangan jejak, kamu dimana Darwin, cepatlah beritahu lokasi dimana Sena tinggal, aku sudah mengunjungi dua lokasi tapi dia tidak ada, ucap seseorang.
"Cepat dikit dong Dani, kita harus tiba! kasian Siren nanti, dia sedang hamil bagaimana jika terjadi sesuatu, dia sedang hamil muda."
"Aku sudah cepat ini Mikha, diamlah jangan mengubah mood konsentrasi ku, aku sudah sebaik mungkin cepat, tapi setahuku ini adalah losment dimana Sena tinggal saat masih sma."
"Apa, Sena dan Damar pernah dekat, jadi mereka memang dulu sedekat itu ya?"
"Iya, dia dekat dengan Arini juga, hanya saja saat itu Damar menjalin dengan Arini, namun tidak tahu jika Sena menyimpan rasa, dan saat itu Damar berpindah ke malaysia, hubungan mereka pun putus, aku tidak tahu lagi, ia dekat juga dengan Siren."
***
Di Tempat Lain.
Sebuah goresan tangan dan pipi melukai Siren.
"Kenapa Siren, kamu lapar atau haus.
maaf ya aku sengaja, hahaha."
Sudah dua jam aku membuatmu seperti ini, jika kamu seperti ini rasanya itu lebih baik, lagi pula darahmu belum banyak yang keluar.
"Sena, kamu wanita jahat. Jika kamu ingin dicintai dengan tulus, ubahlah sikap dirimu jadi lebih baik."
"Hey, Siren jangan menasehatiku. Aku lebih dulu lahir sebelum kamu ada, aku ingin lihat seberapa kuat kamu bertahan, dan apa bayimu akan bertahan."
Sena menjambak rambut Siren, dan melemparkannya ke dipan kasur.
"Aw, tolong aku Sena, kasihani bayiku dia tak bersalah, lepaskan aku. Aku akan mengakhiri dan tak memperpanjang lagi kumohon!"
Sena tertawa, dan membalikkan tubuh Siren, bahkan ia memutar pisau kecil ke pipi Siren meski tak menyentuh.
"Aku lebih suka kamu terluka perlahan Siren, jika kamu bergerak, jangan salahkan pipi mu tergores, jadi diamlah. Tidak ada yang membantu menolong mu. Apa sebaiknya aku lenyap kan kamu saat ini juga. Karena kehadiran kamu aku dilupakan."
"Sena aku mohon jangan seperti ini, Aku tak akan membiarkan bayiku, Uw .. sakit Sen, sakit." rambut Siren di tarik.
"Apa ada orang dibalik pintu ini, benar Sena didalam."
__ADS_1
Darwin mendengar dari luar, ia langsung memberi pesan pada Ozi, agar cepat ke lantai sembilan, karena saat itu dengan landasan cepat Damar ditemani Ozi, dimana ia juga pernah dekat dengan Sena sejak di asuh oleh bibinya.
Tidak tanggung tanggung, Damar meluncur jet pribadi, yang membuat ia mungkin segera sampai. Dari jarak jauh, Damar dan Ozi, ia meminta Darwin ketempat mantannya itu, jika kemungkinan ia menyakiti Siren. Sehingga Darwin segera membantu.
[ Damar, tenanglah aku akan menyelamatkan Siren lebih dulu bersama Darwin, jika selesai aku akan mengabari mu secepat mungkin. ] notif pesan ke nomor Damar.
Sayang, maafkan aku bertahanlah. Meski seseorang menyelamatkanmu lebih dulu, meski aku cemburu tapi dia sudah bagian keluarga bagi kita, aku akan meredamkan rasa cemburu itu agar kamu cepat tertolong.
'Hello, iya Damar. Kami sedang menuju lostment yang kamu berikan.' ucap Dani memberi pesan suara.
"Cepatlah, bantu aku kabarkan aku dan videokan keadaan disana, aku sedang di bandara dan segera pulang?"
'Baiklah Damar, tenang bersabarlah. Aku dan Mikha sedang memutar arah balik menuju lokasi itu.'
'Thanks sob, maaf aku merepotkanmu.'
Percakapan Dani dan Damar berhenti. Bahkan ia menatap kaca spion jika Mikha sedang menatapnya.
Kembali Ke losmen Sena.
SEPERTINYA SENA DI DALAM ZIE, BISIK DARWIN.
Oke kita dobrak pintu ini!
2 ...
3 ...
Bugh ...
Sena.
Sena pun membalik dan kaget, ketika Darwin dan siapa kamu?!
"Sena, jangan seperti ini jika kamu kesal akan diriku aku minta maaf, kita bisa bicara." ucap Darwin.
Zie menatap Siren amat kasihan, lemas dan berantakan, serta goresan ditangan kanan serta dua pipi.
"Dasar wanita gila, aku akan membuat perhitungan setelah ini, meski kamu wanita simpanan Darwin yang dicintai." ucap Zie.
"Kalian jangan mendekat, lihatlah pisau ini jika kalian bergerak, pisau ini akan menggores leher Siren, atau aku tancapakan langsung di perutnya."
Siren memohon untuk tidak mendekat, ia menahan dan menutup perutnya meski sebuah pisau hanya itungan jengkal berada di tengkuk tengah lehernya.
__ADS_1
"Kalian pergi saja, jangan campuri masalah ini. Aku tidak apa apa, jika aku tersakiti!" teriak Siren.
Tak lama Dani dan Mikha datang terkejut baru sampai, Dani memvideokan sebagai bukti kejadian kala itu.
Darwin membisikan dan membuat aba- aba.
"Darwin, pergi aku tidak butuh kamu. Semua rencana gagal karena kamu, kamu hanya membuat hatiku dan hidupku hancur, ketika aku keguguran kamu tidak menikahiku dan meninggalkanku. Aku pun tidak suka melihat Siren bahagia bersama Damar."
"Sena, turunkan pisau itu kita bicara baik dan damai, aku yakin Siren tak akan mempersulit dan memperpanjang masalah ini."
"Ya benar Sena, aku minta maaf padamu." ucap Zie dan Darwin.
Sriiiit, ....,
Hah Sena pun melepas pisau itu. Karena tak sengaja melukai leher Siren. Jujur ia tak berniat melukai hanya menggertak saja.
Siren .. teriak Mikha, dan Darwin menggapai tubuh Sena, agar tidak lari. Sementara Zie memangku erat Siren, ketika hampir jatuh.
Dani menatap lemas, rasanya tak sanggup melanjutkan ketika darah itu mengucur. Damar terkejut ketika masih menunggu pesawat, bagaimana tidak istrinya menjadi korban, ia memeluk erat perutnya, dan membiarkan dirinya terluka. Sedangkan Zie langsung memeluk dan menggendong istrinya.
Sungguh aku suami macam apa, disaat seperti ini aku tak disampingnya, teriak Damar histeris menahan kesal disebuah bandara, sehingga banyak orang menatap Damar dan dihampiri petugas bandara.
"Bereskan wanita ini Darwin,"
Mikha ikut aku, kita cepat ke rumah sakit terdekat. Dani jangan diam disana bantu Darwin bawa wanita itu ke kantor polisi!! ucap Zie.
'Siren bersabarlah kamu harus bertahan, demi Damar dan anakmu, demi kita sahabat yang menyayangimu.'
Mikha memeluk Siren dan Zie menyetir dengan kecepatan tinggi, membawanya ke rumah sakit.
Zie, tak menyangka Siren menghadapi tragedi menyakitkan kembali, dia berfikir jika bersama Damar kejadian seperti ini tak akan terulang. Jika Siren tak selamat aku akan membuat perhitungan.
[ Dani, cepat sharelock dimana rumah sakit Siren berada? aku akan tiba jam enam di ibu kota. ] pesan Damar.
Bagai teriris, pria mana yang sanggup melihat kejadian ini, Siren bertahanlah aku akan tiba.
ucap Damar menatap foto istrinya.
Sementara Siren, perlahan membuka mata menatap cahaya.
'Tuhan jika aku diberi kehidupan berikanlah sedikit untuk anak ku, jangan biarkan dia menanggung semua masalah ini.'
TBC.
__ADS_1