
Beberapa bulan kemudian, Damar terlihat sibuk untuk berbisinis menggantikan Bram, sambil kuliahnya ia selalu fokus pada bidang usaha yang telah dituruni.
Damar terlihat sibuk, setelah ia bertemu paman Hari, soal bisnis timun emas, di kelola beberapa karyawan yang sedikit menggelapkan beberapa emas, terdetek karena nomor sistem kepemilikan hak paten, yang kosong di gudangnya.
"Semua sudah clear pak! beberapa karyawan sudah ada di ruangan, sedang di sidang dan menunggu bapak!"
"Jika karyawan bisa mencuri, apakah dia kekurangan bayaran. Tolong kroscek, apakah gaji mereka benar di bayarkan. Panggil Pak Rusa yang mengelola gaji mereka, pada saya."
Deg. Alex pun segera mencari tahu, akar dimana beberapa karyawan pabrik timun emas ini sering kecolongan, karena semenjak Dady Bram mengelolanya, yang bermasalah adalah bagian dalam yang menahan hak petani dan buruh keras di lapang. Selebihnya, ia Damar ingin melihat beberapa karyawan yang sudah ratusan itu, apakah ia benar benar mencuri karena terpaksa atau karena sudah tabiat, Damar juga meminta Alex untuk membawa mereka ke ranah hukum jika satu kali peringatan ia maafkan tidak membuatnya jera.
"Dengan cara apa pak Damar membuat mereka pelajaran, agar jera?" tanya Alex.
"Perjanjian, memasang wajah mereka di semua stasiun tv. Agar tidak ada yang mau mempekerjakannya, atau dengan satu satunya cara! mereka mengembalikan semua aset yang sudah diambil, upahnya di potong 50% jika ia mau bekerja dengan satu kesempatan lagi."
Alex tertegun, apakah tidak keterlaluan. Akan tetapi maling tetap saja harus di adili, agar mereka yang sudah bekerja dengan baik tidak menjadi parasit pada yang lainnya.
Beberapa jam ke depan, Damar terlihat menatap foto wanita bernama Siren. Beberapa minggu ia menyelidiki siapa wanita tomboy, berambut palsu yang membuatnya tersenyum. Bukankah pria juga bisa jatuh cinta, kala itu adalah hal konyol pertemuan pertama. Tapi kali ini Damar terkejut, jika dia adalah teman masa kecilnya, hanya saja Damar memang belum ada waktu untuk mencari tahu Siren.
"Sudah pukul 12.00 siang, waktunya makan siang dan bersiap ke kampus." ujar Alex, yang rutin mendampingi Damar.
"Baik! Ayolah, setelah di kampus tinggalkan aku motor besar dan kuncinya, aku ingin pulang sendiri." ujar Damar memerintah sopan.
"Baik, tapi jangan suruh saya menjaga anda dari jarak jauh, karena ini perintah pak Bram." balas Alex.
***
Di Tempat Lain.
Daru, kamu ga bisa seperti ini hubungan kita, sudah lama berakhir. Bukankah kamu juga memutuskan jika aku wanita tak berperasaan.
__ADS_1
Siren wanita aneh, Siren wanita buruk yang kamu kenal. Tolong jauhi aku, jangan pernah muncul di hadapanku!"
"Siren .. please maafkan aku. Ok baiklah aku akan mengirim lokasi nanti malam!"
Semua mata memandang, dan Siren segera mengambil buku dan bergegas dari ruangan perpus.
"Eh! bisa bisanya dia datang lagi. Daru kamu jangan mempersulit hatiku, hidupku sudah sulit tak tentu. Kenapa bisa aku dijodohkan oleh pria sepertimu sih."
Ah.. air mata apa ini kenapa jatuh, Siren pun mengusapnya, entah kenapa perasaan ini sikap ini. Harusnya aku gak pernah bertemu pria yang mengatakan jika aku adalah wanita buruk, tapi kenapa dia datang lagi dan melamar di depan orangtuaku. Dan kenapa juga pria yang aku harapkan, tidak berusaha mencariku bahkan mengenaliku.
Sebal!! Sebal!! Gemuruh Siren. Ia terdiam dengan mengepal membulat kertas tak tau arah. Tapi ia terkejut ketika seseorang duduk dan senyum pada Siren.
"Kau lihat ini, foto kita saat berjanji membuat sebuah system, tanpa arus listrik."
Hmmm. Siren senyum, kenapa baru sekarang dia cari aku?!
"Aku ga tahu masalahmu seperti apa, aku lewat dan terlihat sekali kamu sedih. Mau ikut denganku? balapan pake motor murah." ujar Damar.
"Kamu lihat apa Siren? aku buat kamu kaget ya?"
Wajar karena menurut Siren, Damar tiba saja datang sudah duduk disampingnya. Siren memutar mata jika yang ia lihat hanya salah, tapi memang jelas di sampingnya adalah Damar.
"Damar please! kamu jangan disini! Aku gak mau kamu dekat sama aku! aku ini wanita genit, yang banyak intrik. Aku tahu siapa kamu, banner kamu terpampang di banyak iklan. Aku tidak tertarik berkawan dengan pria sepertimu."
"Kalau gitu, Hai. Kenalkan aku Damar! tapi kali ini aku yang mau berkawan dengan kamu, seperti lima belas tahun silam. Mau ikut denganku?" mengulur tangan sedikit senyum.
Damar tetap pada pendiriannya. Ia memakaikan jaket hitam pada Siren, topi hitam dan kacamata, menggulung rambutnya masuk kedalam topi. Sehingga wanita dihadapannya terkejut dan tersenyum.
"Aku ga mimpi kan, kamu Damar Bramantyo. Padahal saat itu, aku syok kalau wajah dan kamu itu seorang..."
__ADS_1
"Cukup! yang kaya terkenal itu dady ku, dan kakekku. Aku sama saja, tidak punya apa apa. Hanya karyawannya." lirih Damar, membuat Siren tertawa.
"Oke! kalau begini kamu aman. Sekarang kamu mau ikut aku sebentar atau duduk seperti ini?" tanya lagi Damar, Siren pun luluh.
"Baiklah, aku akan ikut padamu."
Damar pun tanpa aba- aba langsung menarik tangan Siren. Ia berjalan cepat masuk kedalam mobilnya.
Dua puluh menit berlalu saling hening diam didalam mobil. "Siren tatap mata aku, sekarang please!"
"Damar, kalau ada yang motret gimana, aku canggung sekali denganmu. Kita tak boleh seperti ini. Kamu sudah .... ?"
Namun jari telunjuk Damar mendarat sempurna ke bibirnya, agar Siren diam tak banyak bicara.
"Aku tau dan aku tidak akan berhenti untuk mengikuti kamu, karena sudah lama aku juga mencari identitas kamu Siren. Hanya saja banyak yang aku urus, sehingga baru bisa menemui kamu. Meski harus sembunyi sembunyi dan kamu menyamar. Jika di dekatku dengan penyamaran seperti ini. Bicara sama aku, apa yang kamu takuti?"
Cinta memang membuat mata tertutup, tapi dengan kekuatan cinta, semua masalah pasti tak mungkin jika tak ada jalan keluarnya. Siren menatap Damar yang memandangnya teduh, tapi setelah Siren tahu dia adalah keluarga Bramantyo, apakah ia mau memaafkan. Karena pada dasarnya, ia adalah cucu dari Tjandra yang pernah membuat kerusakan bisnis keluarga Damar.
"Kenapa diam?"
"Aku tidak tahu, jika kamu benar benar selidiki identitasku. Harusnya kamu menjauhiku Damar. Apalagi aku cuma ingin kamu tahu dari awal. Aku adalah cucu ke lima, keluarga Tjandra, keluarga musuh S kontruksi, pernah kah kamu dengar berita Kakekku menyuruh orang untuk membunuh Dady mu?"
Deg.
Damar terdiam, tidak sesuai harapan. Kenapa ia pernah dekat dan mereka pernah bermain bersama, di pertemukan dengan musuh keluarganya yang hingga kini tidak akan pernah damai. Dan kenapa Damar harus tahu, membuat dirinya kecewa, baru saja ia ingin mempunyai teman agar dirinya tidak hidup monoton.
"Kenapa diam? apa kamu percaya padaku, apa kamu tidak tahu soal ini sama sekali. Atau kamu cari identitasku, dari orang bawahanmu?" ujar Siren yang berdiri, membuat Damar masih terpaku diam seribu basa.
"Tidak mungkin, kamu pasti bercanda kan, Siren?"
__ADS_1
TBC