Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
TEKANAN PRODUCTION


__ADS_3

Menyerah karena Bram tidak mau meninggalkan Damar di rumah, Reksa memilih membuat janji dengan teman-temannya untuk main catur.


"Nanti Damar akan segera pulang Kakek, jadi hati-hati di rumah. Jangan nakal kalau main sama teman-teman ya," nasihat Damar pada Reksa yang terkekeh saja, seolah pembicaraan hati hatinya pada sang cucu di copy.


"Seharusnya Kakek yang mengatakan itu padamu, Damar."


"Benarkah? kalau begitu terbalik ya."


Tingkah lucu Damar memang selalu menghibur untuk Bram dan Reksa, bahkan seluruh penghuni rumah kala itu. Mereka seolah mendapat pengganti Elea, yang dulunya sangat periang dan meramaikan suasana rumah besar tersebut.


Hal itu, membuat Bram semakin sulit untuk membawa Damar tinggal hanya bersamanya.


Mau tidak mau dia harus membiarkan putranya tinggal bersama kakek. Nanti, setelah penthouse-nya siap. Dia akan membicarakan hal itu pelan-pelan dengan Reksa.


"Bye Kakek, nanti kalau mau nitip sesuatu. Bilang saja Daddy, kalau Daddy lupa. Biar Damar yang ingatkan." celoteh lucu menggemaskan.


Dengan gemas Bram menggendong putranya untuk dia peluk dan gelitik. Sampai bocah itu terkikik sepanjang jalan menuju halaman tempat mobilnya terparkir.


"Daddy stop, geli," berontak Damar sambil tertawa.


"Damar sayang Daddy?" tanya Bram. Dia selalu merasa was-was, takut jika besar nanti Damar memilih untuk bersama orang lain ketimbang dirinya.


"Sayang."

__ADS_1


"Sungguh?" tanyanya lagi, masih belum percaya.


"Sungguh."


"Besar?" Sampai masuk ke dalam mobil, Bram, tetap saja Damar berceloteh menanyakan ini dan itu amat gemas bukan.


"Besaaarrrr!" seru Damar membuat lingkaran di depannya menggunakan dua tangan mungilnya.


Untuk saat ini, Bram merasa lega ketika dia tahu Damar menyayanginya.


Urusan dengan musuhnya bisa dipikirkan lagi belakangan. Bram hanya berharap, semoga saja Tjandra tidak ada yang menyadari jika Bram, memiliki anak setelah ia menggulingkan perusahaannya dendam, tak menyakiti keluarganya kelak. Jujur hanya Damar sebagai pelipur lara, kesepiannya setelah ditinggal Elea sang istri tercinta.


"Ada laporan dari kantor, Tuan," celetuk Kenan mengemudikan mobil keluar dari halaman S house dengan perlahan.


"Perasaanku mengatakan, kalau apa yang ingin kamu laporkan adalah sesuatu yang tidak aku sukai Ken." Bram menjawab sambil membantu Damar bermain, memindahkan ikan dari satu keranjang ke keranjang lainnya.


Selanjutnya, perjalanan berlangsung tenang sebab Damar tertidur dalam pelukan Bram, setelah bermain berjam jam.


Jadi, Bram dan Kenan bisa mendiskusikan beberapa kendala yang terjadi di lapangan perihal para pekerja.


Berhenti tepat di depan gedung BI Production, dengan warna monokrom yang mendominasi gedung tersebut. Bram sangat menyukai desain dari gedung itu.


Melihat sekitar suasana kantor yang cukup ramai, dia rasa tengah ada audisi atau semacamnya.

__ADS_1


"Selamat sore, Tuan ... Bram benar?" sapa seorang pria dengan pakaian khas berlabel BI.


Bram mengangguk dengan senyum tipis.


"Syukurlah, kami sudah menunggu kedatangan anda cukup lama. Almarhum bu Dayana, hanya berpesan pada kami agar mengelola BI Production sampai putranya datang ke mari."


"Ah iya maaf. Perkenalkan nama saya Randu, saya pengelola BI, Mari masuk, maaf karena kedatangan anda yang cukup mendadak. Kami tidak sempat menyiapkan acara sambutan untuk anda," kata pria tadi dengan sungkan.


Bram mengangguk paham, dia tidak terlalu fokus dengan celotehan Randu, Sebab Damar mulai terbangun.


Namun, dia berjalan mengikuti langkah Randu yang menjelaskan bagian-bagian dari kantor BI Production.


"Keadaan kantor cukup ramai, karena kami sedang melakukan audisi untuk talent-talent baru yang masih fresh."


Kantor BI Production, memang terlihat kecil dari luar. Tetapi, isi di dalamnya sangat luas. Ditambah interior ruangannya yang sangat menyegarkan dan meneduhkan.


Bram tidak menyangka jika ibunya sempat menyiapkan hal seperti ini, bahkan meski rumah produksi ini kesukaan ibunya. Desainnya benar-benar sangat sesuai selera Bram.


Dan saat mereka mengocek, menjelaskan beberapa hal. Bram melihat notif, kala itu menyebutkan jika Nona Jingga ingin bertemu Bram. Dan masih menunggu di kantor sudah dari 7 jam, ia menunggu di ruangan kerjanya.


"Kenan, tolong pergi ke kantor, setelah antar saya pulang bersama Damar, tolong handle. Dan bilang pada Jingga, jika saya tidak ingin bertemu ataupun melihat mukanya dekat, berbicara sepatah katapun!" lirihnya, membuat Kenan terdiam pasi mengangguk Ya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2