
Beberapa Hari Kemudian.
Di pagi hari, Osin kembali tersiap untuk segera rapat pertemuan. Hingga di mana, ia mengingat pesan semalam. Jika Mikha menerima nama seleksi sementara, seorang wanita karyawan baru.
[ Osin, sorry. Tolong handle dan pantau karyawan baru. Namanya Via, dia baru magang dan masa percobaan, aku baru liat data cv nya dari seleksi Eri. Tolong bantu ya! Aku akan menyusul dengan mas Hari, dimana aku membutuhkan asisten khusus untuk menjaga keamanan system. ] pesan Mikha.
Osin saat mendengar itu, ia cukup terkejut karena suami dari sahabatnya itu telah kembali dan baik baik saja, setelah melewati banyak hal kritis.
Hingga di mana, Osin harus menahan untuk menemui Mikha, di kediamannya. Terkait masalahnya yang runyam dan tidak yakin akan karyawan baru yang akan diseleksi, sebab menurut Osin sangat mencurigakan, apalagi ia melihat data cv, pernah bekerja di perusahaan Dani, dimana Osin takut ada hal terselebung nantinya.
DI KANTOR
"Osin."
Terdengar panggilan seseorang dari arah depan. Osin berdiri. Terlihat wanita cantik itu segera menoleh ke arah depan dan melihat ke arahnya. Deki pun memberikan data berkas map hitam, memperkenalkan pada Osin.
"Bu Osin, ini karyawan magang baru." ungkap Deki sang teller.
"Pagi bu, saya Via." senyum hormat.
Dengan menatap erat, Osin terlihat risih karena ia terlihat sangat feminin. Rok nya sangat tipis dan ketat. Hingga di mana, Osin mengangguk dan meminta Deki untuk mengantar karyawan baru ke ruang satu, ia harus kembali di seleksi dengan beberapa kandidat lain.
Hingga saat itu, sebuah mobil terlihat berhenti mendadak di ruang pertama. Seorang supir membuka pintu mobil, Deki dan Osin menelan saliva ketika Eri dan Ryo datang dengan setelan jas rapih berwarna navy dan rompi yang elegan terlihat mewah.
"Eh, apa itu bos kita. Wah, ga sangka pak Eri bisa setampan pemilik perusahaan ini. Mirip komisaris atau ceo tuan Hari muda ya?" sapa Deki pada Osin. Namun Osin segera masuk dan meminta karyawan magang dengan menegur untuk sadar.
"Hei, anak magang. Ngelamun aja, liat siapa? Jaga mata, niat mau kerja kan?" cetus Osin.
"Ikh, bu Osin galak amat." lirih Deki dan mengekor, disampingnya.
Begitupun Via yang terkait tadi di marahi, ia mengekor, namun matanya masih melirik dua pria yang melewatinya saat mereka menyapa.
"Cewek kalo liat yang muda trus, ganteng pasti meleng ya. Kita lewat sana ya, siapa tahu bisa liat wajah Bos yang baru!" ketus Osin, ia sengaja karena tak ingin satu lift dengan Eri.
__ADS_1
Osin saat ini merasa pusing dan mual, jika selalu melihat Eri, bahkan jangkauan beberapa meter berdiri. Ia terasa mual luar biasa. Sebenarnya ia punya hati pada Eri, akan tetapi kesalahan satu malamnya dengan Ryo, keponakan pak Hari, membuat ia kesal bukan main.
Meski Via menurut, tetap saja ia menoleh ke arah lobi yang berarah depan pintu lift. Ia masih sangat penasaran pada sosok pemuda yang sudah dibicarakan oleh teman temannya selama beberapa hari ini. Dia sangat ingin tahu karena hari ini dia tidak mengikuti acara penyambutan secara resmi, namun ia sungguh beruntung bisa di terima meski magang kelak, masih tahap seleksi.
Terlihat ada banyak punggung yang dilihat oleh Via, dan juga beberapa wajah petinggi perusahaan yang sudah dia kenal di layar berita. Tapi entah mengapa, mata Via tertuju pada punggung dengan jas navy yang tampak sangat kokoh dan begitu menarik dibandingkan yang lain.
'Oh, jadi ini asisten tuan Hari Hartanto, apa dia bisa aku ajak bisnis untuk menggulingkan ya?' batin Via.
Sementara Osin merasa aneh, kala anak baru itu melihat tatapan dan melirik Eri. Osin pun membuang wajah, tak ingin banyak asumsi dan pikiran yang membuatnya ingin muntah.
"Punggungnya bagus amat ya. Pasti cakep juga hatinya, mirip orangnya." gumam Via pelan. Hingga Osin dan Deki mendengar menohok kaget.
"Masa punggung bisa gambarin wajah. Anak baru ini aneh banget sih. Gue rasa dia cari jodoh, bukan niat gawe." ucap Osin.
"Ya kan siapa tahu Osin, punggung itu beda banget ama yang lain. Keliatan gagah dan sangat berwibawa. Gue yakin, dia kecantol antara pak Eri atau pak Ryo." bisik Deki ke telinga Osin.
"Ya karena itu Bos barunya. Ntar juga lama lama tau wajah Bos baru. Tapi denger denger Bos baru kita tuh galak orangnya. Lebih cerewet dari bos kita dulu."
"Masa?" ledek Deki.
Namun cekatan, Eri tiba saja datang dan menghadang untuk menahan Osin. Eri sungguh menyukai sikap Osin yang selalu menghindar dan terlihat tak seperti dulu.
"Osin, kemarilah!" Eri segera duduk, dan melihat aksi sikap Osin. Osin pun segera membalikan badan.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Siapa dia?" menatap arah belakang Osin.
"Dia, wanita pak." cetusnya, membuat Eri menaikan satu alis.
Eheeuuum!! Deheuman Ryo membuat Osin kembali lurus setelah menjawab dengan tidak fokus.
"Dia memang wanita, mungkin maksud pak Eri. Dia siapa, di sini apa baru?" Ryo meluruskan membuat Osin terdiam, sementara Deki dan Via menahan tawa.
__ADS_1
"Eeheeumph, maksud saya dia karyawan rekrutan baru. Katanya akan di seleksi di ruang sebelah, untuk menyeleksi. Bu Mikha sudah tahu dan kabar ini dari bapak kan?" ungkap Osin membuat Eri, menatap Ryo saling penuh tanya. Eri pun mengeles, dengan gaya cool layaknya sang bos.
"Owh .. baru denger saya. Semoga ga nyusahin pegawai lain ya!"
Osin merasa sebal, kala Eri penuh intrik. Hingga di mana semua selesai, Osin pamit dan kembali mengajak karyawan baru ke ruang semestinya.
"Via, kamu ikut Deki untuk isi form ya! Deki bantu ya!" pinta Osin, Deki pun mengacungkan jempol dan mereka pamit.
Langkah Via kini berbalik arah, dia mengikuti langkah pak Deki. Ia juga tahu, beberapa perusahaan Sun System sangatlah besar, terlebih ia penasaran dengan pemilik perusahaan terkaya anak tunggal. Tapi entah mengapa Via tertarik dengan pria yang mungkin namanya yang ia ingat sekilas adalah pak Eri, dimana tujuannya adalah membuat hancur keluarga Hari Hartanto, tapi ia terpesona akan asistennya.
BERBEDA HAL DENGAN PERBINCANGAN DUA PRIA.
"Eri, gue udah mendengar tentang kinerja lo belakangan ini yang meroket tajam. Itu luar biasa." ucap Ryo dengan senyum bangga.
"Makasih, Ryo. Tapi mungkin ini cuma keberuntungan aja."
"Ga ada yang kaya gitu, Er. Keberuntungan itu hanya ada empat puluh persen, sisanya adalah kerja keras. Bahkan bukan hanya satu orang yang bilang lo luar biasa, bahkan Bu Mikha yang terkenal sangat ketat saja sampai memuji loh, dia bangga saat Hari ga ada, lo bisa handle semuanya dengan baik. Gue yakin, posisi direktur lo yang pantas."
"Gue ga berani menyimpulkan, gimana kalau Tuan Bram tetap memilih lo? Secara lo anak angkatnya, gue cuma asisten setia pak Hari."
Ryo terdiam, ia tertawa seolah puas tak tahu dan tak mendengar. "Ga mungkin lah, gue udah diskusi sama Mikha. Gue ga sanggup buat memimpin perusahaan, lo yang pantas. Gue cuma bisa bantu hal kecil aja. Suer deh, gue ga mau posisi itu."
"Karena lo, mau jadi supir Mikha aja?" ungkap Eri, seolah sedang memancing sikap Ryo.
"Hahaha. Ngaur loh. Kita berdua udah kaya keluarga dan anak bagi tuan Bram. Mana mungkin kita mencintai keluarga?"
"Tapi lo suka Mikha dari sebelum dia nikah sama adik perusahaan ini kan. Ayolah Ryo, lo dan tatapan lo ga bisa bohong? Sejak Mikha nikah sama Hari, dan kenyataan dia dinikahi pak Hari kan?"
"Masalahnya ..." terdiam Ryo tak melanjutkan.
Hingga di mana, tatapan mereka terdiam dan tak jadi bercerita. Karena seseorang datang dengan mendorong kursi roda.
Tatapan Eri dan Ryo kembali berdiri dan hormat. Melupakan suasana akrab saat pria itu sedang ghibah berdua.
__ADS_1
Tbc.