Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENGAJAK DEAL


__ADS_3

Tlith!


[ Bram, ajaklah satu desa makan mewah. Beri doorprize hadiah, sebagai bentuk siapa dirimu yang sekarang ini! Membuktikan, system yang kamu milki benar benar membantu yang tertindas. ] pesan System.


Bram, segera melaju pada beberapa warga. Mengajak mereka makan bersama, dan saling bertukar cerita dan keinginan warga akan dirinya sekarang.


Beberapa Jam Kemudian.


Bram juga sempat membantu, dan memberikan doorprize pada beberapa warga, yang saat itu ikut berteduh.


Tlith!


[ Selamat Tuan Bram, saldo anda berhasil sukses ditarik. Berikan seluruh dana pribadi untuk membantu mereka, dan mempekerjakan mereka di saat warga dari mereka yang jujur dan amanah, mengikuti jejakmu sebagai kurir delivery. ]


Tak begitu lama seteleh selesai makan, Bram menghampiri warga yang paling besar suaranya protes, anehnya saat itu Tio ada disana membuat Bram, tak percaya begitu saja.


"Lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya mengembalikan uang 400 juta padaku, kamu tidak perlu khawatir dengan hal lain!" sahut Endi pelan, seseorang warga yang Bram kenali asal usulnya dulu.


Mungkin karena Bram, telah mengundang semua orang makan di hotel mewah dan membuat Tio malu, sehari sebelumnya, jadi para tamu dan reunian juga mengubah pandangan mereka tentang Bram. Bahkan ada beberapa mereka yang berinisiatif menyapa Bram, terlebih dahulu.

__ADS_1


Harus diketahui, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kecuali Jehan, Endi, dan Iryanti, mahasiswa alumni lain memandang Bram, seperti sebuah lelucon mirip seperti Tio. Mereka juga beranggapan bahwa berbicara banyak dengan Bram, adalah hal yang sangat memalukan. Mungkin tiga orang itu sudah dihasut Tio.


Bram, duduk dikursinya sendiri, dia menemukan Jehan, dan lainnya sedang ngobrol dengan yang lain, bergabung dengan penduduk yang demo akan berita viral Bram.


"Hei, apakah kalian semua melihatnya kemarin? Aplikasi TikTok Streaming sepertinya kedatangan konglomerat baru. . ." seru seorang pria berkacamata dengan penuh semangat.


"Aku tidak meihat siaran langsung kemarin. Tapi sepertinya aku melihat di berita, katanya ada konglomerat dengan akun bernama Bram Hartanto yang langsung menghadiahkan uang dua miliar kepada pembawa acara wanita, benar-benar kaya. . ." balas Endi sambil terkekeh.


"Aku dengar sepertinya konglomerat itu bertentangan dengan Mr. Taylor dia langsung menghadiahkan uang dua miliar!" ujar Endi.


"Hehe, Mr Taylor menghadiahkan uang ratusan juta pada pembawa acara wanita, kemudian dirinya sendiri yang menantang orang lain, tapi dia tidak disangka orang itu akan langsung mengeluarkan uang dua miliar, membuat Mr Taylor dalam sekejap tidak berani bicara apa pun!"


Seorang gadis yang parasnya lumayan dengan sosok yang luar biasa sepertinya juga bisa melakukan siaran langsung, tapi apa boleh buat, dia tidak begitu di sambut, apalagi akan di beri hadiah oleh konglomerat. Karena Kristal menolak permintaan Mr Taylor, demi tak ingin membocorkan rahasia tanaman bibit yang akan panen, milik Bram.


"Aku rasa jika kamu tidak memakai pakaian dalam ketika siaran langsung, mungkin akan lebih banyak penonton. . ." ujar Endi sambil terkekeh, dengan tawa di kerubunan warga yang berdemo itu pada Bram, melirik ke arah Kristal.


"Pergi dari sini, jika kalian menolak percaya!" umpat Kristal dengan marah, menunjuk warga.


Setelah mendengar pembicaraan mereka, Bram baru menyadari ternyata mereka mengobrol masalah dirinya yang menghadiahi uang pada di acara siaran langsungnya, dan Kristal menolak pemberian mr Taylor, karena tak ingin tanahnya menjadi kacau.

__ADS_1


Orang-orang ini tidak tahu, bahwa konglomerat bernama, Bram yang dibicarakan mereka sebenarnya duduk di samping mereka.


"Tunggu ada kesempatan, aku yang akan mengundangmu makan!" Bram, menepuk ringan pundak Endi, lalu membalikan badan dan keluar dari kelas.


Endi dan Jehan melihat punggung Bram, ekspresi bingung memenuhi wajah mereka.


"Jehan, apakah kamu merasa Bram, yang sekarang berbeda dengan Bram yang dulu?" bisik Endi.


"Iya. . ." Jehan mengangguk pelan.


"Secara logika, dia hanya menang sebanyak 200 juta. Setelah dia mentraktir kita makan, seharusnya uangnya sudah habis, bukan?" kata Endi dengan alis berkerut.


"Benar, entah apa yang terjadi dengan Bram." ujar Jehan dengan tidak mengerti.


"Sudahlah, kita berdua juga tidak jelas dengan masalah Bram. Mungkin karena di sakiti oleh keluarganya. Dia pasti akan membaik seiring waktu, ayo kita pergi makan," balas Endi ringan.


Akan tetapi Bram lalu berbalik dan berjalan keluar, melupakan bisikan dua pria yang berbisik tentangnya. Bram menuju ruangan dimana Hari dan ibu angkatnya berada, tentunya akan sikap mereka selama ini kemana meninggalkan sang papa seorang diri.


Kreek! Membuka pintu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2