Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 AKU INGIN PULANG


__ADS_3

Di dalam mobil, Damar kebingungan ketika masalah system di eropa, harus lagi lagi meninggalkan Siren dalam keadaan hamil, dimana ia takut jika orang lain, bahkan bodyguard Dady kecolongan pengawasan.


Hingga sepanjang perjalanan, membuat Siren pusing.


"Hah, hubby cukup kamu membuatku pusing."


"Maaf sayang,"


Damar pun menggendong istrinya sampai di dalam mobil, memakaikan seat belt.


"Apa masih pusing?"


Siren hanya menggeleng dan memijit keningnya, terdiam dan Damar kembali melaju mobilnya pelan.


Siren menatap suaminya, apa suamiku sedang ada masalah, cemburunya memang berlebih tapi ia berterimakasih karena ia dicintai sedalam itu, pada pria yang menjadi suaminya. Bahkan riwayat mertuanya saja, tidak menikah lagi selepas mama Elea tiada, bahkan sering mengunjungi ruangan rahasia yang di kembangkan paman Alex dan Damar, dimana hanya sekali Siren melihat ruangan itu. Ruangan dimana manusia bertemu bukan manusia karena system canggih yang dibuat oleh tangan manusia yang super genius.


"Hubby jangan bersikap seperti tadi ya, ku mohon please! percaya padaku, mana mungkin aku mengumumkan ketampanan perfect nya suamiku ini."


"Kenapa sayang, kenapa kamu bicara begitu?"


Damar membelokan setir mobilnya dengan perlahan.


"Karena .. Ka .. karena aku tidak ingin ada pe-ka-er."


"Apa itu?"


"Semacam pengganggu, jika aku terus mengangumi mu di depan banyak wanita, apa tidak mengundangnya menjadi masuk ke dalam rumah tangga kita sayang?"


Damar tersenyum, lalu menatap istrinya.


"Ya, benar juga sayang, maafkan aku ya, jelas pria perfect tampan dan ter nomor satu ini, akan selalu membuat orang iri jika aku adalah pasanganmu, suamimu yang ter-ter best."


Cieh, lagi lagi ke- sombongan mulai di tampilkan. Kesal sekali jika aku melihatmu bicara seperti ini Damar, semoga anak kita tak sesombong dirimu. Masih banyak bukan yang lebih tampan darimu.


"Kenapa diam sayang, kamu melamun apa?"


"A- Aku mencintaimu dan tidak melamun hubby, mengagumi keindahan mata indah dan hidungmu."


"Benarkah, semoga nanti anak kita akan seperfect papa nya."


"Heum, semoga hubby."


Asal tidak dengan kesomobongan mu saja ikut, entah Dady dan mama mu dahulu, ngidam apa, sampai kamu seperti itu merasa paling cool, bukan aku tidak senang, tapi tak perlu dijelaskan mengapa kamu se' pede ini hubby. Jika kamu bertemu yang lebih tampan darimu, kamu pasti akan uring - uringan. Batin Siren kala itu ngedumel.


"Hubby, buah dilema sudah kamu beli?"


"Ada di dashboard itu sayang?"


"Hah, hanya dua buah."


"Buah itu sulit sayang, tidak ada dimana mana, bahkan aku menyuruh pa Toto. Bagus saja keponakan pak Toto, mempunyai pohon dibelakang rumahnya namun hanya berbuah dua saja, itupun ajaib dan kebetulan."


"Benarkah, semoga Dady tidak kecewa."


"Tidak akan sayang, Dady pasti mengerti, sudah hampir malam aku mencarinya lelah butuh perjuangan."


Siren pun mengecup pipi suaminya, agar diam tak mengoceh berlebih.

__ADS_1


"Sayang, kita masih dalam perjalanan jangan mengacau dan membangunkan." oceh Damar, melirik istrinya, langsung bersandar menjauhi.


"Mana bisa seperti itu, ini dimobil bagaimana bisa, aku punya nafsu ditempat sempit ini."


lirih nada kecil Siren bergeming, dasar suami bersaldo unlimited itu, selalu saja bertingkah kosong abstrak.


Di Mansion.


"Dad, aku sudah pulang bawa pesanan." teriak Damar.


"Oke, pesanan buah di letakkan dimana Dady." kembali teriak.


"Hah, bagaimana, loh hanya dua buah saja, tapi ya sudahlah! baiklah terimakasih ya, Dady mengerti memang sulit dan tak musim, bagaimana bisa kamu dapatkan?" tanya Bram.


Damar, menceritakan dan mengobrol panjang, dan membuat Dady Bram tertawa lebar.


"Jadi kamu manjat, buah ini ada diujung pucuk. Wow salut sekali."


Bram meminta seseorang membersihkan buahnya, dan mengupas di tuang ke wadah piring kecil.


"Siren kemari nak!"


"Ia Dad, ada apa?"


"Ayo buka mulutmu, Aaa.. bagaimana rasanya enak tidak?"ucap Bram yang sudah mengupas dan mencucinya.


Eum lumayan manis asam Dad, kenapa Dady enggak makan?


"Memang ini Dady minta pada Damar, untuk kamu makan sayang, karena ini bagus untuk ibu hamil. Meski dalam jumlah sedikit cukup. Ini penting untuk cucu dan generasi Dady Bram Hartanto. Ayo buka mulutmu habiskan satu buah ini, dan satu buah lagi Dady akan campurkan dengan salad buah."


"Heuuum. Iyalah untuk cucu Dady juga, kenapa masalah? jangan bilang kamu menyesal, meski Dady katakan sejujurnya pasti kamu menyerah jika tak ada, karena Siren berhati lembut tidak bisa marah."


"Hah." hela nafas Damar.


"Saat momy Elea ingin buah ini, Dady ambil sepenuh raga. Agar kamu tampan, dan kekayaan bisa sekejap kamu raih, tanpa kemiskinan. Genius tampan yang utama untuk keturunan dady."


Uhuuk! Siren hampir terbatuk dan ia minum.


'Hah, andai Dady mengatakan sebelum aku habiskan buah ini, ternyata dulu mendiang ngidam buah ini sehingga jadilah Damar sering menyombongkan dirinya, pantas saja dia juga selalu berjuang menguntitnya jadi memang sudah hukum alam darah Dady Bram.'


Huh Siren menarik nafas mendengus kesal berharap anaknya tidak ke- pede'an 90º seperti papanya.


Siren hanya tersenyum, dan tak lama izin istirahat dikamar.


Di Kamar.


"Sayang, ayo minum supplement nya."


Damar memberikan vitamin dan air putih.


"Aku mau peluk kamu hubby, kamu masih sibuk ya?"


"Baiklah aku temani bayi manja, dan ibu manja yang selalu membuat aku rindu. Tidurlah sayang, setelah ini aku akan mengecek berkas penting hingga larut, jangan menungguku tak baik akan kesehatanmu nanti. Ibu hamil harus cukup istirahat, aku akan menemanimu hingga terlelap." oceh Damar, yang berkutat dengan masalah di eropa, bahkan hampir bangkrut jika monitor tercanggih di buat paman Alex rusak 90%, berimbas aset perusahaan lain akan menurun.


"Makasih hubby."


Esok Harinya.

__ADS_1


Sudah sepekan Damar pamit meninggalkan Siren.


Terlihat Bram, dan orangtua Siren datang menemani dan menjaga ibu hamil di mansion itu.


"Bu, sudah secepat ini ibu pamit?" ucap Siren.


"Iy, nak kasihan ayah jika ditinggal terlalu lama dan hanya dengan bibi disana, ibu hanya menemani dan menjenguk kabarmu dua hari ini. Ada Dady Bram mertuamu yang baik menemani, karena pengawal lain menjagamu ketat kan. Ibu rasa tak perlu khawatir."


jika ada apa- apa kabari ibu ya."


Dady Bram antusias, kedatangan besan adalah hal yang indah ramai, suasana rumah terisi penuh, inilah yang menginginkan Siren tak menunda miniature Damar kelak agar suasana rumah tidak sepi.


"Siren, Dady akan ke butik sebentar kamu baik- baik dirumah, jangan kemana mana, karena masih trimester kehamilan sangat muda dan rentan."


"Baik Dad, tadi ibu juga bilang seperti itu. Tapi Siren pasti akan bosan."


"Istirahatlah, jangan naik turun tangga, pakai lift!" pamit Bram, bersama beberapa pengawal.


Siren pun beranjak ke ruang piano disebelah kamarnya, ia memencet tombol nomor Damar, lalu mengirimkan video ia yang sedang memainkan piano. Bahkan ia letakkan ponselnya, hingga jari jemarinya memainkan piano dengan lembut terlihat di layar, dan menyanyi kecil. Sungguh dia amat rindu akan kehadiran suaminya kembali.


Saat jam selesai meeting bersama Ozii, dan paman Alex. Kemudian Damar melihat ponselnya.


Siren selalu memvideokan kegiatan harinya, dan kali ini ia membuat gerah akan istrinya yang membiarkan memakai baju mini dan merekamnya meski untuknya, karena waktu yang tak tepat seolah menggambarkan untuk dia cepat pulang.


"Sayang, kamu memancingku dengan menggoda memakai pakaian itu di siang hari."


Sayang, tunggulah sebentar lagi. Aku pulang dengan kejutan, Damar menatap istrinya yang sedang bermain piano dan pakaian yang menggoda di siang hari, melalui ponselnya.


"Jadi Damar tugasmu kali ini, selidiki system apa untuk memperkuat ketahanan, perusahaan eropa di pusat. Bergantung pada yang lainnya!" ujar Alex, si otak genius yang menciptakan alat alat aneh mengumpulkan pundi uang. Hingga kekayaan keluarga Hartanto bahkan masih dalam jajaran di atas.


"Segera paman!" deru batin Damar, akan lebih lama ia pulang menemui istrinya di rumah.


Tapi jika system hampir rusak dan perlahan punah, maka dady Bram pasti akan kecewa dan murka padanya, karena Damar di tuntut perfect meneruskan semua peninggalannya dan pamor nama keluarga Hartanto berada di jajaran 1 sampai 3 menurun drastis.


Loading .. pengenalan wajah Scan!


Damar Hartanto, suhu tubuh 36,74°


Scan .. pengumpulan misi di terima!


satu ..


dua ..


Tiga ..


20% ...


60 % ...


90% ...


Sukses! Tuan anda di dipersilahkan masuk ke dalam ruangan rahasia!


Damar menatap ruangan itu, membuat Alex mengangguk tanda Damar harus menyelesaikannya dengan sempurna.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2