
Elea dan Bram menepi di dekat pohon beringin, ia mencari lokasi melalui maps! Ring Tinju, lalu dengan terkejut ia menatap sebuah mobil merah yang Bram rasa, tak asing.
Elea pun, menoleh ke arah lokasi yang Kristal infokan, karena Kristal lah ia tahu kabar Hari, berada di tempat ini. Dan Elea merasa tak yakin, dengan tempat yang ia kunjungi kali ini.
"Bram, aku tak yakin ini tempatnya?"
"Kita masuk sekarang aja ya El! Aku harus bawa Hari pulang, masalah apapun kita selesaikan di rumah."
Elea senyum mengangguk, hingga dimana ia mendapati mobil merah yang ia rasa mirip dengan seseorang. Elea ingin berkata dan benar plat nomor merah ini, milik Via. Tapi sudah lama sekali memang Elea juga tak pernah bertemu dengan Via, dan keluarga Glows itu. Jelas Elea dan Via saat itu berteman, tapi renggang saat tahu kisah asmara asmara mereka satu dengan pria yang sama, yakni bernama Bram.
Bram pun masuk, ia amat terkejut kala melihat banyak orang berkerumun. Sehingga kala itu, Elea dan Bram nampak celingak celinguk mencari keberadaan Hari, hingga Elea dan Bram yang saling bergandengan tetap mencari keberadaan Hari saat itu.
Akan Tetapi Di Ring :
Via terkejut mendengar apa yang dikatakan Hari. Dia pun langsung menarik tangan Tio, dan membisikkan sesuatu.
“Sebaiknya kamu tolak saja pertarungan itu, Hari.”
“Loh kenapa?” tanya Hari.
“Tio, sering berlatih tinju di ring ini, dan perlu kamu tahu kalau dia orang yang sangat licik. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang buruk sama kamu. Alangkah baiknya kamu pulang Hari!” Via meyakinkan Hari.
Akan tetapi, Hari menolak permintaan Via untuk mundur. Ia sudah telanjur semangat untuk bertarung dengan laki-laki sombong itu, apalagi sesuatu yang ada di dalam tubuh dan pikiran itu terus-terusan menghasutnya. Karena Hari yakin, Tio sengaja ingin mengalahkan Bram, dengan jatuhnya Hari. Maka Hari rasa, mengalahkan Bram, dengan adanya ia sekarang, dan Hari ingin menunjukan pada kakaknya, untuk memberi pelajaran pada Tio, si pria angkuh itu.
Via pun kembali ke arah Tio, lalu berbisik apakah pertarungan ini bisa dihentikan. Tapi balasan Tio adalah mengejutkan.
__ADS_1
“Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan berhati-hati dalam menghadapinya,” ujar Tio, meyakinkan Via, untuk tetap membelanya.
Via menghela napasnya kasar, lalu mengangguk pertanda kalau ia menyetujui pertarungan itu. Meskipun begitu ia tetap khawatir pada Tio, yang sudah pasti akan merencanakan hal buruk. Dan ia semakin khawatir setelah tahu kalau wasit yang akan memimpin pertandingan tinju itu adalah teman dekatnya Tio. Maka Via yakin, jika Tio akan berniat menyakiti Hari karena sesuatu.
“Baiklah!” sahut Via, lalu menghampiri Hari, apakah ia masih ingin tetap bertanding.
Sorakan pun semakin kencang ketika Hari menyetujuinya, dan suara dukungan itu masih didominasi oleh nama Tio.
Mereka pun menuju suasana tinju yang ada di hotel itu. Sepanjang mereka berjalan ke sana, tidak henti-hentinya Via mengingatkan Hari agar berhati-hati dengan Tio . Meskipun Tio terlihat tenang, tapi Via tahu kalau laki-laki itu sudah merencanakan sesuatu. Dia tahu selicik apa Tio. Hal itu juga membuat Hari bingung, Via ini ada dipihak siapa sih sebenarnya.
Sesampainya di sana, Hari dan Tio langsung memasuki ring tinju. Sementara yang lainnya mengambil posisi masing-masing, mereka mengelilingi ring sambil meneriakkan nama jagoan mereka.
“Tio!”
“Tio!” teriakan para pendukung Tio, terdengar sangat jelas dan bersemangat.
Tio yang memang sudah sering ke tempat itu terlihat sangat menguasai arena, sedangkan Hari terlihat kebingungan. Seperti baru pertama.
Stop!!
Suara sebelum Tio dan Hari akan meninju, Bram berada ditengahnya. Meminta Hari turun dari Ring, bukan tanpa alasan Bram menatap tajam pada Tio, yang saat itu senyum menyeringai.
"Kenapa kau melihatku, Adikmu ini yang bodoh! Dia yang meminta kita bertarung?"
Hari yang terlihat merah dibibir, mendapat sorakan kala Elea memberikan handuk basah untuk menutupi luka merahnya.
__ADS_1
"Hari, kakakmu tidak akan marah! Kita bisa selesaikan semuanya dengan kepala dingin, bukan dengan berkelahi. Kamu percayakan pada kakakmu Bram?" ujar Elea, membuat Hari mengangguk.
"Maaf Kak! Aku berusaha mencari Ryan, tapi pria disana memintaku datang kemari, dan bertarung padanya. Imbalannya jika menang, ia akan memberitahu keberadaan Ryan." jelas Hari.
"Lalu, setelah kamu tahu Ryan berada. Apa kamu akan berkelahi juga..?"
Bodoh!!
Kenapa ia baru berfikir juga, kala ini. Hari juga tak sempat berfikir, hingga kali ini ia menatap Bram, lalu menunduk kala Bram menatap Hari tajam, dengan menggeleng kepala.
"Kita selesaikan dirumah, dan kau Tio. Seperti inikah kamu masuk, apa ini bagian rencana mu ..?" ujar Bram, yang kala itu saling menatap tajam.
"Itu kau yang berbicara, tapi jika Ya! Kau mau lakukan apa ... Hahaha ?" tawa Tio, amat senang mengolok olok Bram.
Sementara Via, dibalik punggung Elea. Keluarga glows itu amat mengharapkan Bram kembali, keluarga itu berharap Bram meminangnya. Andai saja Via dulu, tidak menyakiti hati Bram. Mungkin bukan Elea yang saat ini menjadi istri Bram.
Bukan tanpa alasan, Via menghapus linangan air mata yang membendung, mengingat kala ia ingin mengejar Bram, hingga kini sudah menjadi polwan. Akan tetapi jodoh Bram, tak berpihak dengannya.
"Bram, apa kabar? Aku rasa, masalah ini biar aku tangani. Aku akan peringatkan Tio, agar lebih baik lagi, aku juga amat terkejut. Sebab .." terpotong Via, bicara kala itu.
"Sebab, ini bagian rencananya bertemu denganmu Bram. Ayolah, dari pada buang buang waktu. Lebih baik kita pulang, ajak Hari dan istrimu pulang!" cetus Kristal, menyambar. Membuat Via kesal.
Sehingga Bram pun hanya kilas menatap Via, yang kini berseragam polisi itu. Tapi ia tak banyak berasumsi lagi. Mereka meninggalkan Ring Tinju, dan membawa Hari pulang tanpa sepatah katapun pamit pada Via.
Sementara Elea, ia yakin jika Via menyukai suaminya. Bukan tanpa alasan Elea sebenarnya sakit, tapi ia jelas tahu bagaimana Via dulu pernah meminta Elea meninggalkan Bram, karena ia di ingatkan pernah dijodohkan dalam keluarga Glows dan Hartanto dari mendiang kakeknya.
__ADS_1
Sehingga tanpa alasan, Bram melihat wajah Elea mendung, ia memegang erat tangan istrinya. Membuat Elea senyum menatap suaminya itu.
TBC.