Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
TERPAKSA KEJAM


__ADS_3

"Tuan muda, tuan besar masih dalam perjalanan."


"Baiklah bi, saya akan segera menunggu di kamar." ujar Bram, lalu Hari, mengekor.


Beberapa saat, Bram baru keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya yang berada di lantai dua, ketika melihat Hari, tengah asik saat itu di depan TV besar yang ada di kamarnya memainkan sebuah game menggunakan konsol permainan milik Bram.


“Hey, kau telah selesai?" Hari, menyadari kehadiran Bram.


“Berbalik, aku ingin mengganti pakaian." Bram, yang memang baru saja membersihkan dirinya.


“Untuk apa? Bukankah kita sering mandi bersama dulu?" Hari, dengan senyum meledeknya yang saat itu kembali muncul.


“Itu dulu, sial." Bram, entah mengapa kembali merasa kesal melihat Hari, yang telah mendapatkan kembali senyum menyebalkannya.


“Baik, lagi pula siapa yang mau melihatmu tanpa pakaian? Aku normal." Hari, memilih kembali fokus pada game yang sedang di mainkannya.


“Oh, kalau begitu aku bisa tenang." Bram, dengan segera mengganti pakaiannya saat itu juga menggunakan pakaian yang dianggapnya lebih nyaman.


“Hey, kemari. Kita bermain bersama." Hari, setelah Bram, selesai.


“Tidak, aku tidak tertarik." Bram, memilih berbaring saat itu di kasurnya. Pikirannya kembali bingung akan hutang keluarga Elea.


Begitu empuk, itulah yang Bram rasa. Setelah beberapa bulan harus beristirahat di kasur keras yang sama sekali tidak nyaman, tetapi tidak bisa banyak mengeluh Bram, sadar itu semua mulai saat ini akan usai.


“Hey, mengapa kau tidak memberitahuku bila kau ternyata memiliki konsol keluaran terbaru ini?" Hari, karena memang tidak biasanya Bram, begitu pelit hingga tidak membiarkannya datang untuk ikut memainkan konsol permainan tersebut.


“Memangnya kenapa? Toh kau bisa membelinya sendiri." Bram, menimpali ucapan Hari, sembari matanya mulai terpejam.

__ADS_1


“Aku bisa, tetapi aku tidak punya waktu." Hari, menjawab sekenanya.


“Waktu? Bukankah waktumu selama ini hanya kau habiskan untuk berpesta?" Bram, bahkan menebak bila sebelum datang menemuinya. Hari, pastilah tengah asik berpesta dengan teman-temannya.


Memang berbeda dengan Bram, yang begitu tertutup, sehingga sulit untuk mendapatkan teman. Di tambah bagaimana lingkungan pertemanan di sekitarnya, Bram anggap tidak terlalu cocok bagi dirinya, sehingga hanya Bram banyak habiskan waktunya di rumah, sementara untuk teman sendiri hanya Hari lah satu-satunya, adiknya meski ia berbeda ibu. Hal inilah membuat Bram, tak ingin Hari tahu jika selama ini ibu mereka tidaklah sama.


Berbanding terbalik, Hari cukup mudah bergaul di tambah bagaimana tingginya posisi keluarganya di kota tersebut. Tentu teman datang dengan sendirinya pada Hari, membuat pastilah orang-orang yang Hari anggap teman telah begitu banyak bertumpuk.


Di mana Bram ketahui, bila lingkungan pertemanan Hari. Tidak indahnya serupa dengan bagaimana generasi kedua keluarga kaya pada umumnya bergaul, serta menghabiskan waktu. Sehingga tentu saja, Hari akan mulai terbawa arus menjadi serupa dengan mereka.


Bram tidak menyukai menghamburkan uang, apalagi kepada teman teman Hari, yang memanfaatkan.


“Pesta? Kau tau darimana?" Hari saat itu, ingin menyanggah. Tetapi tidak bisa.


“Tau darimana? Dari mama yang sering menghubungiku tentunya." Bram, saat itu sebelum bangkit, menatap Hari, kesal.


“Eh? Bagaimana bila kita lupakan semua itu. Jadi? Apa rencanamu mulai sekarang?" Hari, mengalihkan pembicaraan ketika melihat Bram sedang benar-benar kesal.


“Apa? Tentu saja membalas mereka yang merendahkanku." Bram, tidak mengerti mengapa Hari, menanyakan itu. Padahal telah jelas dirinya, telah jelaskan serta ceritakan secara lengkap semua itu.


“Bukan, bukan itu semua. Tetapi sesuatu yang labih panjang, seperti apakah kau akan kembali diam saja di rumah persis ketika kau belum pergi beberapa bulan lalu atau apa?"


Tak menanggapi pertanyaan Hari. Bram begitu jarang keluar dari rumah, setelah tahu ibunya pergi untuk selamanya, tak berselang lama sang papa menikah dengan sekertarisnya yakni ibu sambungnya saat ini, Bram tak bisa seceria dulu dan menjadi tertutup ketika pesan terakhir sang mama.


Bahkan setiap berada di rumah besar ini, ia selalu teringat mendiang dan mengalah untuk adiknya itu yakni, Hari Hartanto. Usia mereka terbilang terpaut lima tahun, tapi ingatannya masih jelas.


Tok! Tok!

__ADS_1


"Tuan muda, Tuan besar telah menunggu di ruang biasa!"


"Baik, terimakasih. Bi."


Bram meninggalkan ruangan kamarnya, masih ada Hari yang segera turun, agar sang mama tidak ke ruang kerja sang papa. Jika mama tahu, Bram meminta bantuan senilai 35T. Maka jelas, petaka menanti di keluarganya saat ini juga.


***


“Apa tidak ingin kau mengurus salah satu usaha keluargamu? Seperti apa yang telah adikmu lakukan?" Hartanto, memberi saran.


“Tidak, belum tepatnya. Pah, kedatanganku jelas aku keluar bisa kau lihat sendiri. Tapi masalahnya dalam waktu besok malam. Jika saja tiga bulan, mungkin keuntungan mencapai, aku tidak perlu datang menemuimu." jelas Bram.


“Bagaimana untuk waktu dekat?" Hartanto, menanyakan hal tersebut setelah teringat akan sesuatu.


"Aku tidak siap, mengelola Bar dan usaha penthouse mu pah."


"Kau kemari hanya untuk memintaku merestui dan melunasi hutang teman wanita, yang jelas orangtuanya bersalah. Haah?"


"Pah! Dia lebih baik, Bram yakin di banding pilihan istri muda papa, keluarga glows yang matre itu. Jika papa tidak memberikannya untukku. Aku akan pergi! Lagi pula, hanya mama yang mengertiku di alam sana." cetus Bram beranjak pergi.


"Anak bodoh! Ku beri waktu satu bulan, kau harus bisa kembalikan uang 35T yang mana usahamu itu, yang kau bilang akan berkembang. Jika tidak, papa telah menyiapkan satu keluarga yang setara!" ujar Hartanto, yang merasa kesal terhadap putranya itu yang tak mau, mengurus usaha keluarga.


Tling!


[ Bram, misimu kali ini adalah, membuat papamu bangga! Yakin kamu akan berhasil. ] pesan aplikasi dengan nama Qi Ruslan, membuat hati Bram tidak sepi dan kembali senyum.


Bram yakin, tanah sengketa yang ditanam bibit timun emas, akan lancar dan cepat untuk ia besarkan delivery box selanjutnya ke berbagai negara. Sehingga ia dapat membungkam, ibu tirinya itu tidak berbicara dirinya adalah anak penanggung beban yang maunya enak enak saja.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2