
Sudah tak bisa dipungkiri, Siren tetap memakai gaun bridesmaid couple dengan sahabatnya. Namun Siren tetap berbeda gaunnya lebih feminim dan seksi, sehingga membuat Damar gerah, ingin sekali menarik dan merusaknya.
Apalagi tampilan istrinya itu, karena terlihat perfect dan mengundang mata pria lain akan menatap tak berkedip pada istrinya.
Namun Damar mengalah, karena kondisi Siren yang hamil, dan tak ingin istrinya merajuk ataupun menangis. Bahkan dengan berat hati ia mengizinkan.
"Sayang, ayo lah satu jam lagi matahari akan terbenam!"
"Baik, hubby aku sedang menata cake ini di dalam paper bag cantik. Aku akan memastikan paman kita memakannya di malam pengantin nanti, ini hadiah kecil ku untuk mereka. Tante Nara kakak temanku yang agresif mampu meluluhkan paman Kenan, tak ku sangka bukan?"
Eum.. Siren tersenyum mengingat masa masa sekolah kala itu. Apalagi rasanya sudah lama tapi seperti baru kemarin.
Ia pun menatap Damar suaminya, entah mengapa aku juga tak pernah berfikir sudah memiliki suami tampan ini.
"Sudahlah sayang, biar ku bawa cake ini."
Bram pun tak ketinggalan ikut bersama, dengan pengawal dan supir kala itu. Siren duduk di samping papa mertuanya ."
"Feminim sekali kamu Siren?" ucap Dady Bram dan lalu menatap Damar.
__ADS_1
"Siren merasa biasa saja Dad, tapi di depan tuan tampan sepertinya tak senang Siren memakai kostum bridesmaid ini. Dia selalu ingin istrinya tampil biasa alakadar berdaster."
"Bagaimana, aku tak senang sayang? baju itu seperti baju tidur setelah kamu rombak, area lengan. Belum lagi menjadi pendek di bagian bawah, terlihat padat lagi."
Damar sebal melihat gaun feminim ke arah istrinya, sehingga Bram meminta bertukar tempat, ia di samping supir. Karena ingin putranya itu menyelesaikan perdebatannya.
Damar, memang seperti ini modelnya, lagi pula, hanya dua jam Siren memakai kostum ini. Setelah itu akan diganti dengan gaun pesta senada dengan jas mu sayang.
"Kau ada ada saja, kostum saja dipermasalahkan, tidak tahu ini namanya trend fashion?" Bram melerai.
Siren, merasa tersenyum menang. Bahkan senang dan tak lama ponsel Siren berdering notif pesan.
"Aaakh, hubby kamu tahu. Mikha dan Kara merombak gaun nya sama seperti ku feminim bagian bawahnya, jadi aku tak sendiri berbeda. Bagaimana apa tuan tampan membaik dan tak merajuk."
"Ya..., sayang untuk malam ini. Demi ibu hamil aku menyetujuinya. Dua jam ingat langsung ganti!" ucap Damar sinis,
Sementara Siren menatap papa mertua dan tersenyum geleng kepala. Bahkan Damar bercerita, jika di butik karyawan magang membuat ulah, yang menyebabkan Siren merombak semua gaunnya jadi pendek dan terlihat membentuk body.
"Sayang, jangan lagi adukan sama Dady. Dia itu tidak sengaja."
__ADS_1
"Ah, bagaimana bisa tidak sengaja. Orang dia sengaja membuat semuanya kacau."
"Dia kacau karena memikirkan kamu Hubby, dia merasa emosional dan berandai andai. Karena kamu tidak mengenalinya, atau kamu pura pura tidak mengenali mungkin?" enteng Siren, membuat tatapan Damar beradu begitu saja.
"Aku pura pura.. Sayang asal .."
Ssssst.
Bram meminta putra dan menantunya keluar dari dalam mobil, jika sepanjang jalan saja mereka masih bertengkar hanya karena gaun.
"Lebih baik kau pikirkan, komputer paman Heru terlihat sering di retas. System lemah, bagaimana bisa perusahaan kita ada di nomor satu dalam jajaran rendah nomor 2, jika kau memikirkan cinta dan cemburumu terus Damar. Ingat, Siren sudah utuh milikmu!"
"Maaf Dad." meringis Damar, melirik istrinya yang tersenyum menatap jendela diam diam.
"Lihat, kau setelah ini ke ruangan Dady. Ada sesuatu system yang ingin Dady tunjukan, ingat Damar. Pesaing kita semakin keras ingin mengalahkan bisnis keluarga kita."
Damar terdiam, seketika melihat tablet yang di berikan Dady Bram.
"Apa ..?"
__ADS_1
TBC.