Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
NEGO ALOT


__ADS_3

Menatap gedung hitam yang menjulang, Bar dimana keberadaan Mr. T, yang amat sulit dicari, belum lagi apa yang selama ini Bram cari selangkah lagi.


Tidak logis, bagi Bram selangkah lagi ia menjadi pria jutawan tanpa batas, dan menikmati hidupnya dengan senang sia sia begitu saja. Bukankah ke suksesan perlu proses, dan dari semua misi yang Bram dapati, inilah misi tersulit.


Tling! Nada Pesan.


[ Pastikan kamu masuk Bram! jika sampai tidak bertemu hari ini, bisa dipastikan semuanya akan mangkrak dan bernasib sia sia. ] pesan aplikasi system memberi tahu.


Bram, setelah melihat pesan ia berjalan, namun dihentikan beberapa orang penjaga saat ia ingin masuk. Bram, pikir ini sama seperti usaha Bar, keluarga Bram, yang mudah di kunjungi berbagai kalangan.


"Maaf, tidak berkepentingan di larang masuk! Tunjukan id Bar, premium khusus yang anda punya. Agar bisa masuk!" ujar dua pria berbadan tinggi dan besar menghadang Bram saat ingin masuk.


"Aku bukan tamu vvip atau premium! tapi teman baik Saga! Katakan pada Mr. Taylor, aku ingin menemuinya. Jika tidak, keberuntungan tidak akan datang dua kali." ujar Bram, yang saat itu ia juga berdebar akan ditolak mentah mentah.


Dua bodyguard itu tak percaya, ia meyakini ada hubungannya dengan klien yang mengaku ngaku. Tapi melihat flashdisk dan tanda milik di tangan Pria itu sedikit meyakinkan.


Bram, sendiri memegang pemberian Saga, sewaktu ia turun dari mobil tadi. Sehingga ia berfikir keras soal isi yang ada di flashdisk yang baru ia pelajari beberapa puluh menit lalu.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


"Bram Hartanto."


Tidak menunggu lama, salah seorang bodyguard memanggil dengan alat pencet di telinganya, selang sepuluh menit seorang bodyguard dari dalam memverifikasi Bram dengan aplikasi ponsel, lalu kembali masuk.


Bram yang terlihat kesal, ia segera menepuk bahu bodyguard yang masih tak membiarkannya masuk juga.


"Kau, tidak tahu siapa aku. Jika aku bisa membeli Bar ini, kalian bukan lagi pekerja disini bukan?" bisik Bram dengan damage menyeringai.


Bodyguard itu mempersilahkan Bram masuk, saat rasanya Bram tidak sabar, dan aba aba perintah dari dalam, telah mempersilahkannya juga.


Bram duduk, ia terpesona ketika di persilahkan menunggu. Mr, Taylor pun hadir dengan kacamata dan sinar yang setengah gemerlap. Suara sarkas yang amat tinggi itu, membuat Bram menelan saliva karena posturnya mirip Hulk berbadan besar menyusut ke bawah, duduk saling berhadapan dibatasi meja bundar.


Lima pelayan tanpa busana sehelai pun, membuat Bram bergidik ngeri. Ia menuangkan minuman sambil menggoda dan menjulurkan mata dan lidah yang amat centil.


"Haaah! Anda salah, jika saya datang meminta anda menjualnya padaku. Lagi pula tanah sengketa itu tidak subur, bukankah selama ini ditanamkan sesuatu yang menguntungkan tidak berhasil, jika bukan Hama, mati karena kekeringan daerah tersebut. Bukankah uang mati sia sia." jelas Bram, dengan percaya diri.


"Lalu untuk apa kau datang kemari?"


"Bertukar informasi, aku ingin memakai tanah tidak subur itu tanpa banyak yang datang sekedar korupsi di saat pengusaha mulai merintis, lagi pula aku butuh tanah kering itu selama tiga bulan. Jika aku tak bisa membuat tanah itu subur, aku siap di usir tak lagi ikut campur, atas tanah kepemilikan anda dengan kakak anda. Aku rela rugi tak kembali atas tanah yang aku tutup di saat petani demo."

__ADS_1


Mr. Taylor tertawa, baru kali ini ada seorang pria yang berani rugi, bukankah tanah itu tetap tidak subur, dan ia masih memiliki keuntungan lain.


"Baik! 3T ( tiga triliun ) untuk sewa enam bulan kedepan, aku berikan kebaikan untukmu! tawa Taylor.


"Ok! Aku bubuhi tanda tangani ini, tapi sebelum masa tiba, kau dan orangmu tidak berhak ikut campur. Jika tidak, penelitian manusia ilegal yang harusnya mati, akan terbongkar. Bukankah semua usahamu akan merugi, jika sampai terbongkar?" seringai Bram.


Taylor terlanjut membubuhi tanda tangan, ia pun segera menyetujuinya di atas materai.


"Sepakat."


Tiga jam perdebatan, bukan lagi hal mudah bagi Bram di dalam sana. Godaan hasrat, pikiran yang fokus pada Mr Taylor yang terbilang alot saat bernego membuat Bram, keluar harus mencari kamar mandi setelah sampai rumah.


"Ssiiiet!" kesalnya, setelah menghentikan mobil taksi.


'Selamat, bukankah bukan Bram, jika tidak berhasil.' batinnya.


Tlith!


[ Selamat Bram, misi bernego tanah sengketa berhasil. Kami telah mengirim saldo sebesar 350 Triliun, harap cek secara berkala. Selamat Bram Hartanto, kamu sukses dalam misi delivery yang diberikan secara bertahap! Selangkah lagi menjadi juragan timun emas dengan nilai emas tak terbatas. ]

__ADS_1


Bagai durian runtuh, tentu saja Bram segera pulang dengan hati bahagia. Tanpa memperhatikan dua mobil hitam, yang mengikutinya dari belakang.


Tbc.


__ADS_2