
Tubuh kecil yang bergetar itu mencoba untuk mengambil bubuk putih tersebut dari tangan pria berjenggot yang telah gosong, memberikan pada Bram dengan raut sedih mematikan.
Bram sadar betul, dengan sengaja pria itu malah mengerjainya, mengusili si murid laki-laki tersebut.
Bram yang paling tidak menyukai ketidakadilan terjadi di depan matanya, mengepalkan dua tangannya. Ditinjunya tiang listrik tersebut dan meninggalkan bekas merah di tangannya.
Namun, dirinya tidak merasakan sakit sama sekali, malah aliran darahnya semakin mendidih.
"Ini tidak lagi bisa dibiarkan. Aku harus menghentikan ini semua sekarang juga!"
"Aku Arsen, di sekitar sekolah dan wilayah ini. Mereka kerap se-ka-li menakuti kami. Jika kami tidak memberikan uang sebesar Rp 200.000. Kami hanya anak sekolah yang uang jajan saja sepuluh ribu, ji-ka mereka tidak mendapatkan uangnya. Maka mereka meminta kami memakan serbuk bubuknya. Rasanya amat sakit." ujar Arsen, anak itu bergetar menjelaskan.
Bram tidak lagi bisa mengendalikan pikirannya. Seketika dirinya teringat kembali, bagaimana benda haram itu merenggut banyak senyuman dari orang-orang sekitarnya.
Pada kehidupan pertamanya, Bram yang memang hanya tinggal bersama adiknya dan ibu angkatnya itu, lebih senang mengurung diri daripada harus banyak bergaul. Alasan terkuatnya, karena lingkungan sekolahnya dikelilingi orang-orang jahat. Mereka yang disebut pengedar itu menjual barang-barang haram dengan harga murah pada murid-murid sekolah, di mana Bram menuntut ilmu.
Mereka yang terhasut untuk membeli barang haram tersebut, bukanlah murid pendiam seperti dirinya, malah rekan-rekannya yang sering kali bolos sekolah dan nongkrong-nongkrong tidak jelas di jalan. Tapi ada juga yang tidak ingin, tapi mereka dipaksa sehingga apa yang terjadi anak itu akan mengigil dan mencari ketiga pria berjenggot membeli dengan uang yang memaksa.
Itulah mengapa, Bram lebih baik menutup dirinya untuk tidak bergaul dengan mereka yang bebas.
Lalu, pada kehidupannya sekarang, terjadi kemarin hal yang mengiris hatinya. Bram masih sangat mengingat, bagaimana teman satu kelasnya meninggal dunia karena kecanduan barang haram. Apalagi ini terlihat gila kala anak anak seusia sekolah harus menelan barang haram.
Ia yang saat itu tidak mendapatkan pasokan barang haram akhirnya meneguk cairan pembasmi serangga, lantaran pikirannya yang sudah sangat terganggu.
Sekarang yang terjadi pada murid laki-laki di depan sana tidak jauh berbeda dengan teman satu kelasnya dulu. Wajah pucat dan tubuh yang bergetar.
Bram bisa menebak, saat ini murid laki-laki itu sudah kehilangan sebagian kesadarannya karena pengaruh obat-obatan terlarang, yang menjadikan ia seperti hewan peliharaan.
Biarpun jaraknya sedikit jauh, Bram bisa mendengar tawa ketiga secara samar-samar. Mereka tertawa sesaat anak laki-laki itu menghabis satu bubuk putih tersebut dalam sekali telan.
"Ini sangat tidak bisa didiamkan. Bagaimana perasaan orang tua murid itu saat tahu anak mereka kecanduan barang haram? Aku tidak bisa membayangkan jika nantinya anak itu meninggal dunia karena barang terkutuk itu!"
Bram, mengepalkan kedua tangannya bulat-bulat, meremasnya kecil-kecil, lalu tanpa sadar meninju tiang listrik yang tak berdosa itu.
__ADS_1
Ini kedua kalinya dia meninju benda padat tersebut dan kali ini darah segar mengalir dari sela-sela jarinya karena bagian yang ditinjunya, ada tonjolan keras sehingga membuat tangannya terluka.
Walaupun begitu Bram tidak mengindahkan luka tersebut. Baginya sekarang, yang paling sakit dan terluka adalah hatinya.
Secara tidak langsung dirinya bisa merasakan akan ada senyuman yang menghilang lagi.
"Aku harus pergi pak!" tekadnya tanpa menunda-nunda.
"Dimana rumahmu Arsen, bapak antar sampai rumah." ujar Bram.
Langkahnya sudah hendak pergi dari balik tiang listrik. Namun, mendadak tubuhnya seolah sulit untuk digerakkan.
"Ada apa ini?"
Seluruh tubuhnya seakan-akan membeku, hanya bibir, telinga dan matanya yang masih berfungsi.
Segera dia membawa pandangannya mengedar ke area sekitar. Betapa terkejutnya dia saat mendapati ketiga pria dewasa lagi di depan toko kosong itu, ikut berhenti bergerak, pun dengan anak laki-laki berseragam tersebut.
Bram sulit menggerakkan tubuhnya untuk berbalik arah. Dia mencoba sekuat tenaga memerintahkan badannya untuk bergerak, tapi usahanya sia-sia.
Tindakannya malah membuat pria berjas hitam, kemeja hitam, celana hitam dan membawa payung hitam itu tertawa lantang.
"Olive si utusan langit itu kenapa tiba tiba muncul?" lirihnya.
Bram menggertakan gigihnya karena kesal. Dalam sekali dengar, dia sudah bisa mengenali pemilik suara yang tengah menertawakan dirinya di belakang.
"Olive! Apa yang kau lakukan pada tubuhnya?!
'Kembalikan semua kesemula, sekarang juga!" Bram berteriak sekencang-kencangnya.
Pria pemilik nama Olive itu menyeringai sambil melipat kedua tangannya.
"Baringkan anak itu, racun benda haram itu sudah menjalar. Anak ini dari keluaga minim, untuk membawanya berobat pun, akan sulit bagi orangtuanya mencari dana."
__ADS_1
"Haah, lakukan apa pun itu sesuka hatimu."
Bram pun membaringkan anak laki laki itu, lalu tanpa sadar anak itu terbatuk dan mengigil memejamkan mata, saat Olive dengan wajah asli bukan menyamar jadi pria berkepala plontos. Olive mengeluarkan mata merah dan cahaya yang menyerap pada anak itu dalam beberapa menit, anak itu tubuhnya terangkat dan terplanting 30 cm dari aspal.
"Astaga dia pingsan, apa yang harus kita lakukan lagi?" tanya Bram, saat Olive selesai mengeluarkan racun dalam tubuh anak itu.
"Haah! Dia sudah membaik, sekarang tugasmu antarkan kerumahnya." ujar Olive lalu hilang begitu saja, saat ia menjentikan jari.
"Hey! Utusan langit yang menyesatkan. Aku tidak tahu alamatnya, bagaimana bisa aku antar?" teriak Bram emosi.
Ingin sekali Bram saat ini pulang ke rumahnya! Dan melihat bisnisnya. Tapi masalahnya adalah dia harus menjalankan misi, di sekolah tempat ia menjadi guru sedang tidak baik baik saja. Apakah aku utusan dewa kebaikan, yang harus mencari penjahat meski di dalam lobang semut sekalipun?!
***
Desa Sengketa.
Sementara Elea dan Kristal. Ia sedang meneruskan bisnis Bram, sejak kehilangan kematian Bram. Elea dan Kristal disibukan dengan tugasnya. Termasuk Hari, ia selalu datang membantu tugas Bram dulu, mengantar paket emas melalui delivery dengan hal tak biasa. Terkadang uang tips yang diberikan pelanggan misterius itu tidak masuk akal. Membeli timun emas 10,7 kg dengan harga 15 juta. Tapi ia mendapat saldo tambahan tips sebesar 5juta sekali antar.
Dan dalam rak lemari, Elea membuka berkas panjang. Ia sambungkan ponsel lama Bram yang ada dikantor di dalam kotak kayu, setelah ia hidupkan beberapa saat.
Tliith!
"Apa ini, Kristal lihatlah! Bukankah ini tersambung pada zona lokasi keberadaan Bram?" tanya Elea, memperlihatkan benda kecil.
"Eh, apa ini. Jadi kemungkinan Bram ..?"
Kristal menatap Elea, kemungkinan apa yang mereka berdua pikirkan itu sama.
Tbc.
Mohon maaf ya All. Bram, udah kaya kok. Hanya saja, saat ini dia sedang dapat Misi menumpaskan penjahat yang meraup bisnisnya dengan enteng, mirip jatah preman mafia jahat, semua karena Bram terlalu sombong setelah misi deliverynya berhasil.
--- Happy Reading ---
__ADS_1