
Sepulang dari gedung yang tidak ada seorang pun. Bram kembali pulang, ada hal yang tak biasa kala itu Bram menatap chat Elea.
Elea mengirim foto hasil kinerjanya yang akan menjadi doktor ahli kimia dibidangnya. Bram sangat suport kemajuan karier wanita seperti Elea, bahkan membuat Elea karir cemerlang pun Bram akan suport. Hingga waktunya tiba mereka hidup bersama dengan hal yang tak lagi berjuang mati matian mencari pundi pundi uang! hingga akhir tua bersama.
Andai saja waktu bisa berputar, Bram ingin hidupnya menjadi orang biasa. Tidak menjatuhkan dirinya pada sebuah system yang membuat Bram terikat, sampai misi kehidupan keduanya ini benar benar selesai. Tapi jika di pikir pikir, Bram mengeluh saat ini tidak ada guna.
Bram berfikir keras, jika ia tidak menyetujui sebuah misi system. Maka hidupnya akan terus miskin di caci, bahkan hanya mengandalkan harta orangtua yang mungkin cepat habis, ia hanya pria pengecut. Itu jika Bram, tak punya kemampuan menjadi jutawan.
Mungkin hidup Bram nanti, akan dibiayai Elea. Apa jadinya seorang pria di nafkahi oleh istrinya, harga dirinya akan kembali di injak injak mungkin. Jadi dari pada Bram mengeluh, ia menerima takdir kala ini dengan bahagia. Berharap semua misi sampai ke akar akarnya cepat selesai. Dan pernikahan dirinya sebulan lagi dengan Elea tidak gagal.
Tak lama sebuah mobil datang! Bram yang diteras menghampiri dan itu adalah Hari.
"Kak! Aku kembali, bagaimana rencana pertemuan kakak dengan keluarga Elea?"
"Baik, tapi bagaimana dengan papa dan mama?" tanya balik Bram.
"Aku akan kembali esok ke jepang! Mama dan papa sepertinya akan rujuk. Mereka akan tiba sebentara lagi selesai urusan disana, segera tiba di ibu kota. Selamat menuju berbahagia ya kak!"
"Thanks, lalu bagaimana dengan kurir mu. Apakah di kantor ada masalah serius?"
"Kak! Rasanya direndahkan oleh kekasih adalah hal berat. Soal kantor timun emas dan petani yang menimbang tidak ada masalah, bahkan beberapa tengkulak dan preman sudah hormat ketika kakak kembali." jelas Hari.
Hingga beberapa saat kemudian, Hari dan Bram banyak berbincang. Dari bisnis dan keluarganya yang utuh bahagia. Bram menitipkan pada Hari, agar mama inggrid tidak lagi membuat ulah dan gila harta. Ia hanya ingin papa Hartanto bahagia, dan keluarga Hartanto orang terkaya nomor satu kembali harmonis.
Bram dulu pernah benci pada mama tirinya, tapi seiringnya waktu, setiap manusia akan berubah. Dan Bram, akui hal itu pada diri Hari yang bisa merubah ibunya menjadi lebih baik.
***
ESOK HARINYA.
Saat Bram bangun tidur, ia nampak syok kala Olive sudah menatapnya dengan sebuah cangkir kopi.
__ADS_1
"Cepatlah bangun! Ayo kita pergi" ujar Olive pada Bram, yang masih oleng belum sempurna ingatan dari tidurnya.
"Tuan, ingin membawa kita kemana?" tapi tak dijawab.
Hingga beberapa saat kemudian, Bram telah rapih, menyeruput kopi. Lalu mengekor Olive yang sudah masuk ke dalam mobil.
Bram sampai sawan, karena Oliver mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Kau tenang saja. Kita akan segera sampai!"
Senyuman horor itu membuat Bram bergidik ngeri. Baru kali ini dirinya melihat Olive begitu serius. Tidak terbayangkan sebelumnya kalau Olive bisa juga mengebut di jalan raya, padahal bisa saja ia menghuni kekuatannya untuk berpindah tempat. Pikir Bram sambil menahan gejolak rasa yang ada.
Waktu yang seharusnya ditempuh sepuluh menit, akhirnya dipangkas menjadi lima menit saja. Bayangkan cepatnya mobil itu dan gilanya Oliver.
"Kita sampai."
Kemudi itu akhirnya dilepas juga oleh Oliver. Bram merasa ingin memuntahkan isi perutnya. Dia pun buru-buru keluar mobil dan benar saja, muntah-muntah.
Oliver menyeringai, "Dasar lemah."
"Tuan ini gila, ya?! Aku baru keluar rumah sakit, tapi Anda sudah membuat saya hampir kehilangan nyawa lagi! Bahkan kau tidak memberikan aku kesempatan untuk damai dengan keluargaku! Kau selalu datang tiba tiba memintaku menjalankan misi lagi.' cacinya sambil berteriak-teriak.
Olive diam, "Tandanya mentalmu belum cukup kuat. Berkendara dengan kecepatan kecil saja sudah muntah-muntah. Apa lagi nanti jika harus berhadapan dengan Bos Mafia Paling kejam, mungkin pingsan," balasnya mencemooh sekaligus mencibir Bram.
"Sudah. Tidak usah manja seperti itu. Sekarang kita sudah ada di markas besar kapak Merah. Disinilah tempat Ketua mereka berada."
Kalau saja Oliver tidak bicara, mungkin Bram, tidak akan menyadari tempat dirinya berdiri sekarang.
Sepasang bola mata itu mengedar, menelaah lokasi sekitar yang tampak begitu asing sejauh mata memandang.
"Kita sekarang di mana?" tanya Bram, spontan. Olive pun menepuk keningnya,
__ADS_1
"Bukankah sudah aku katakan tadi, kalau kita berada di Markas Besar Kapak Merah! Disinilah tempat Ketua Merah berada! Kemarin saat aku tinggal kau seorang diri, dia sudah pergi."
THUKH ...
THUKH ...
Selepas Olive berkata demikian, suara riuh langkah kaki terdengar, semakin lama malah semakin jelas.
Kedua pria beda usia itu didatangi puluhan orang bertubuh gagah, baju compang-camping dan banyak bekas jahitan di wajah dan tangan mereka
Bram, langsung berada dalam posisi siap. Pun dengan Olive, tetapi dirinya lebih terlihat seperti orang yang malas, dibandingkan pasang badan.
"Wah! Wah! Wah! Ternyata Genk Kampak Merah kedatangan tamu spesial. Rupanya nyali kalian besar juga. Apakah kalian sudah bosan hidup, sampai ingin menyerahkan nyawa kalian pada Kampak Merah!" cemooh Briyan Briana sambil bertepuk tangan.
Bram pun tertawa geli mendengar perkataan tersebut, "Hem ... Jadi, inikah ketua Kampak Merah yang sangat ditakuti itu? Ternyata tidak terlalu hebat. Aku lihat, kau hanya seseorang yang mengandalkan kekuasaan saja, dibandingkan kekuatan? Tapi aku seperti melihat anda, tapi entahlah aku lupa."
Kedua pria berbeda usia itu saling beradu argumen, sementara Olive berdiri di samping pintu mobilnya sambil menonton perdebatan antara Bram dan Ketua Genk Kapak Merah itu.
"Hei, kalian berdua, apa sudah selesai?! Sampai kapan kalian berhenti asyik sendiri, tidaklah kalian lihat wajah-wajah yang sudah kepanasan ini?"
Berkat Olive, perdebatan yang tak tahu di mana ujungnya itu pun berakhir juga.
Bram menyeringai. Pun dengan Briyan Briana, menatap tajam ke arah Bram. Karena di rasa, ia juga tidak asing melihat Bram dimana.
Olive menyadarkan Bram!
"Ingat! Dia punya kelemahan di bawah ketek kiri. Jika kau ingin melawan kalahkannya dengan cepat!" bisik Olive yang kala itu melihat Bram tajam pada anggota genk Kapak Merah.
'Jika aku mati lagi, kau harus tanggung jawab pada Elea. Ingat hey utusan langit! Sebentar lagi aku akan menikah, kau bahkan tidak membuatku tenang saat ini!' tuju Bram, yang saat itu Olive menertawai Bram.
Hahahaha ...
__ADS_1
"Hey kalian, sudahi obrolan kalian, datang kemari untuk berduel denganku atau bergosip?" teriak Briyan Briana sang ketua merah, yang di dagunganya ada jelas nampak jahitan bekas sayatan.
Tbc.