Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KEHILANGAN KEMBALI


__ADS_3

Meninggalkan kisah Hari, yang kala itu dibereskan oleh keluarganya. Fokus Bram adalah Elea sang istri yang tengah mengandung.


"Kita bawa jenazah Elea pulang, Bram," putus Heru yang ingin memakamkan jenazah putrinya di tanah kelahirannya.


"Iya pah. Tapi setelahnya, aku akan tinggal di sini bersama Damar sampai dia besar," jawab Bram memeluk bayi merah yang tidur dengan tenang.


Damar Bramantyo lahir dengan selamat dan sehat. Tanpa merasakan dekapan hangat dari ibunya, maka Bram akan merawat bayi itu sepenuh hati. Tidak akan dia biarkan siapa pun merebut Damar, dari pelukannya. Hanya itu satu-satunya hal yang disisakan oleh untuknya.


Seolah bayi itu tahu jika pusat dunianya tengah kembali dipeluk, oleh dunia yang melahirkannya.


Menimang-nimang putranya, Bram bertahan sedikit lebih lama menatap pusara sang istri.


Pak Heru dan Reksa menatap iba pada Bram, rasanya takdir seperti tidak adil pada pria tersebut. Berkali-kali diguncang dengan intensitas tinggi, masih saja takdir menggulungnya dengan gelombang tsunami yang dahsyat. Haruskan ia rela, kala Elea pergi untuk selamanya.


Menepuk pundak Bram, baik pak Heru maupun Reksa, memeluk pria itu sesaat.


"Segeralah pulang, kasihan anakmu sudah merasa tidak nyaman," suruh Reksa pada Bram yang masih betah berdiri seolah dirinya sudah berubah menjadi patung.


Menatap Reksa dan ayahnya, Bram melangkah tanpa pamit pada keduanya. Heru sudah menanti di mobil yang akan membawa mereka pulang.


Heru dan pak Reksa mengekor di belakang.


Setelah sampai di rumah Heru, Bram meletakkan putranya yang sudah tertidur setelah diberi susu formula. Menatap bayi mungil tersebut, Bram seperti melihat dirinya yang dulu. Apakah dia seperti Damar saat kecil, setidaknya ada ibu mertuanya yang merawatnya dengan baik. Karena bayi tidak layak menanggung karma yang dibuat oleh orang tuanya.


Berderap perlahan, Bram meninggalkan Damar setelah memastikan bayi itu aman.


Dia bergabung dengan Heru, Reksa dan pak Tjandra di ruang tengah. Pak Tjandra sendiri ia akan melaksanakan selamatan pernikahan Hari, yang sembunyi sembunyi dari media. Karena duka Bram, keluarga Reksa yang putranya satu menikah, dan satu lagi kehilangan istrinya.


"Jadi Bram, apa yang kamu lakukan setelah ini? Berhubung kamu sudah berada di Indonesia?" tanya Heru mencoba memancing Bram untuk menetap di Indonesia.


"Tidak sekarang, Pah. Tidak sekarang," gumamnya seperti robot.


Hingga acara duka berlangsung, sampai 40 hari. Hari, juga telah menikah dengan Lena. Kala itu hanya Bram, yang tampak murung kehilangan Elea yang ia cintai.

__ADS_1


***


Satu tahun kemudian, Damar Bramantyo sudah merangkak. Bayi kecil itu merangkak ke mana saja mencari Bram, yang tengah menyiapkan makan siang untuk bayi gembul tersebut.


"Loh, kamu mencari Daddy sayang?" celoteh Bram saat bayi gembul itu memeluk kakinya.


Berbeda dengan bayi-bayi lain yang cepat berceloteh, Damar justru lebih cepat bergerak.


Mengangkat bayi kecil itu sama gendongannya, Bram bersenandung kecil untuk menghibur Damar.


Damar kecil tertawa mendengar senandung ayahnya, bahkan bayi kecil itu bertepuk tangan beberapa kali.


Bram merawat Damar seorang diri, dia tidak segan membawa putranya meeting atau menemui klien. Bahkan menuju petani timun emas, disana ada Kristal dan Oliver yang kadang sesekali berkunjung. Kali ini, kedatangan dua utusan langit itu, entah soal apa. Yang jelas, Mereka hanya butuh pada Hari dengan semua misinya. Misi sukses Bram kali ini adalah, hidup bersama Damar putra kesayangan buah cintanya dengan Elea. Lagi pula, Hari telah kembali ke rumah dan Bram, meminta Hari mengurus lahan pertanian timun emasnya.


"Aku harus bagaimana El, kini sudah setahun. Aku tak sanggup.." ujar Bram.


Dia tidak perduli apakah klien atau rekan kerjanya nyaman atau risih saat dia membawa Damar. Yang pasti Bram enggan melewatkan tumbuh kembang bayi tersebut.


Bertahun-tahun kemudian, Damar sudah berusia lima tahun. Balita itu benar-benar definisi dari Bram dan Elea, sikapnya yang gemar sekali mencari perhatian dari daddy-nya. Membuat Bram geleng-geleng kepala.


"Nothing Daddy, Damar just want it," bisiknya tidak berani menatap wajah sang ayah.


"Mainan kamu sudah banyak loh di rumah," tutur Bram lembut.


"Tapi Damar tidak punya mommy, teman Damar punya mommy. Jadi aku tidak butuh mainan itu," gumam Damar semakin lirih.


"Damar punya mommy kok, siapa bilang Bram tidak punya mommy. Bram mau temui mommy?" tanya Bram pada sang putra.


Damar mengangguk antusias, proses perpindahan Bram juga sudah beres. Dia memindahkan semua kontrol dari seluruh perusahaan kembali ke Indonesia. Dia juga rindu pada Elea, sudah bertahun-tahun sejak dia menguburkan jasad istrinya di indonesia.


Perjalanan dari Belanda menuju Indonesia cukup melelahkan untuk Damar, maupun Bram. Bram bersama balita serta barang yang begitu banyak, itu saja sebagian sudah dia kirim melalui paket ekspres lebih dulu.


"Daddy capek, Boy. Apa kamu tidak capek?" keluh Bram, mendapati Damar masih bisa berlarian ke sana ke mari tanpa kenal lelah, di lounge bandara ketika mereka transit.

__ADS_1


"No, Bram belum capek," ujar balita tersebut. Berjalan ngesot menyapu lantai ruang tunggu bandara.


Rasa lelah Bram sedikit berkurang melihat tingkah konyol Damar yang sangat menghibur dirinya. Benar sekali untuk rupa fisik, balita itu perpaduan sempurna dari Bram dan Elea.


Tetapi untuk sifat dan perilaku, dia benar-benar copypaste dari dirinya.


Kekonyolan Damar benar-benar sangat Bram sekali.


"Semoga saja Daddy sudah benar dalam mendidikmu Boy," bisik Bram pada Damar yang tertidur dalam pelukannya.


Sesampainya di bandara soekarno hatta, Damar nampak linglung menatap lingkungan sekitar.


"Di sini panas, Daddy," keluhnya. Dia lupa jika masih mengenakan jaket tebal dan kupluk yang hampir menenggelamkan sebagian wajahnya.


"Wait, Boy. Kakek buyut sudah menyiapkan jemputan untuk kita," hibur Bram sambil melepas jaket yang dikenakan putranya dengan telaten.


"How?" tanyanya usai melepas jaket Damar.


"Better," jawaban Damar benar-benar sangat tengil.


"Astaga, mungkin dulu aku semenyebalkan ini," kekeh Bram menahan tawa.


"C'mon, itu uncle Hari sudah sampai," seru Bram, menunjuk pada sebuah mobil mewah yang sangat garang.


"Wow, that's so big Daddy," pekik Damar berlari riang menghampiri mobil Hari, yang belum benar-benar berhenti.


Bram meneriakkan nama Damar dengan kencang, Hari mengerem sampai ban mobilnya berdecit. Sedangkan Damar terkejut sampai menubruk seorang wanita hingga dia terjatuh kemudian menangis.


"Kamu kenapa Dek?" tanya wanita tersebut. Membeku setelah melihat wajah bocah lelaki kecil yang menuntunnya. Wajahnya sangat familiar, garis wajahnya khas dan dia kenali. Tetapi mana mungkin hal yang seperti itu terjadi di dunia ini.


Bram tak yakin, kenapa bisa ada wanita mirip seperti mendiang istrinya.


TBC.

__ADS_1


Sambil Tunggu Up! Yuks Mampir Ke Judul Temen Litersi Author.



__ADS_2