Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MELAKUKAN SIASAT


__ADS_3

Padahal kenyataannya, tim cyber dari perusahaan tersebut jungkir balik mengamankan sistem data yang bocor tanpa mampu ditanggulangi.


Duaar.


Bahkan satu komputer yang belum sempat dikompresi, meledak karena mengalami malware sistem ditambah hardware-nya yang sudah panas karena dipaksa untuk menyerang hacker yang menyusup, dan mengacak-acak sistem keamanan perusahaan tersebut.


Lucunya, setelah tim cyber pontang-panting memeras tenaga dan keringat. Data-data yang telah hilang, kembali dengan sendirinya seperti semula, seolah tidak pernah ada seseorang yang berusaha menerobos sistem keamanan dan mengacak-acak data rahasia perusahaan.


Jika saja tidak ada komputer yang meledak dan masih mengepulkan asap meski sudah disemprot dengan alat pemadam kebakaran.


Sebagian tim cyber perusahaan tersebut nyaris mengalami gagal jantung, sebagian lagi merosot dengan lemas ke lantai setelah mendapat sport jantung dari hacker dengan id Worstfan.


Mendesah malas, pemuda tadi menyandarkan tubuhnya pada kursi dengan sembarang. Tangannya dibiarkan terkulai di sisi kursi dengan satu kaki yang diselonjorkan di bawah meja. Mendongak menghadap langit-langit dia menggerak-gerakkan kursi ke kiri dan ke kanan dengan malas. Sesekali dia akan memutar kursi 360 derajat.


"Alex" panggil Hari untuk mendapat atensi dari pemuda bernama Alex tersebut.


Memutar kursinya 180 derajat, Alex menatap penasaran pada pria yang berdiri di sebelah Hari.


Tatapan mata pria itu teduh dengan wajah tenang, tapi penuh kemisteriusan. Ada satu orang dengan tatapan mirip pria itu, rasanya Alex ingin tertawa saat menyadari jika orang itu adalah dirinya.


"Hm."


Alex menjawab dengan malas. Bukan keinginannya tentu saja, sudah pembawaannya demikian. Sulit untuk dirubah ketika dia tidak menemukan pemicu yang tepat.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Hari basa-basi, Bram sendiri memilih diam dan meneliti pemuda jangkung yang berada di hadapannya. Sangat dia sekali sewaktu seumuran dengannya, hanya dalam versi lebih layak disebut mayat hidup.


"Tidak ada." Memang benar, Alex tidak sedang melakukan apa pun saat ini. Jika saja Hari bertanya seperti itu saat dia tengah baku hantam lewat arena software tadi. Tentu Alex akan menjawab dengan lancar perihal apa yang tengah dia lakukan.


"Menyerang Galaxy Corp dengan ilegal, dapat membuatmu masuk penjara secara instan," celetuk Bram tanpa kesan.


Alex hampir saja jatuh dari kursinya saat mendengar celetukan dari pria di samping Hari.


"Aku tidak melakukan apa pun," sangkal Alex, mencoba tetap tenang di tengah kilat matanya yang mulai merasa terusik.


Selama ini tidak ada yang tahu mengenai apa yang dia lakukan, bahkan Hari yang notabane dia jadikan tempat melakukan hal terlarang tersebut.

__ADS_1


"Benarkah? Sepertinya kamu melupakan sesuatu," gumam Bram mendekati Alex, lalu jarinya menari di atas keyboard komputer dan menghilangkan jejak yang tidak disadari oleh Alex.


"WorstFan, id yang kamu tinggalkan. Akan memudahkan orang yang memiliki kemampuan sepertimu melacak keberadaanmu. Ingat, bukan hanya kamu yang cerdas di dunia ini." Perkataan pria di sampingnya menampar telak Alex yang sudah merasa hebat, karena mampu bermain-main dengan sistem keamanan sekelas perusahaan besar.


Merasa egonya tersentil, Alex memasang wajah garang. "Apa urusanmu?!"


"Tutup mulutmu bocah!" Hari memperingati lancangnya Alex yang seolah menantang Bram.


Bram justru berdecak dan menatap Alex dengan teliti.


"Aku ingin mengajakmu bergabung denganku," tawar Bram tanpa sungkan.


"Apa yang bisa kamu berikan padaku?" tanya Alex dengan senyum miring. Uang, untuk apa? Alex tidak butuh uang.


"Uang?" Bram menggunakan alasan klise yang sangat mainstream.


"Asal kamu tahu Bram, Alex terlahir dengan sendok dan cawan emas di tangannya," gumam Hari menatap miris Bram.


"Oke. Tidak masalah, apa yang kamu inginkan?" tanyanya lagi tidak patah semangat. Namun, Bram menyembunyikan raut tertariknya pada Alex. Bocah itu terlalu sombong jika sangat dibutuhkan.


Lagipula, menyediakan set komputer canggih bukan masalah untuknya. S Konstruksi terlalu besar untuk dia kontrol sendirian, Bram butuh orang-orangnya sendiri


"Tentu. Kamu akan dapat itu semua, asalkan kamu mau menurut apa perintahku." titah Bram.


Hari menyembunyikan decak kagumnya pada kepintaran Bram memelintir kata-kata. Bukan tanpa alasan, saat misi dari Kristal ia mendapati sosok Alex yang bisa meretas berbagai system. Sehingga Kristal bisa kembali pulang ke gunung emas, dan kembali menjadi manusia dibumi dalam itungan 40% tidak bisa selamanya tinggal. Jujur saja, membutuhkan banyak Es balok dimana Kristal berada, ketika ia di bumi.


"Oke, aku akan menurutimu. Tapi beri semua keinginanku di muka."


Hari, menganga melihat Alex yang sangat mudah menurut pada seorang Bram Hartanto, apa pria itu memiliki ilmu pelet pengasih.


Bram tidak keberatan dan Alex merasa senang, mereka sepakat. Bahkan meski Alex akan menjadi pesuruh Bram, menjadi asisten. Alex akan terima dengan senang hati, terlebih tak berselang lama setelah dia menanda tangani surat perjanjian.


Alex diperlihatkan benda canggih persis yang dia inginkan, sedang dalam proses pengiriman.


Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu supaya bisa memeluk benda itu.

__ADS_1


***


Esok Harinya.


Di dalam gedung apartemen mewah di pusat kota, Bram baru saja membeli sebuah penthouse dengan harga yang tidak manusiawi.


Pria itu diam menerawang, dia butuh waktu sedikit lebih lama untuk membuat penthouse tersebut aman bagi Damar.


Berdiri di balkon bersama Hari, Bram menyandarkan punggungnya ke pagar balkon. Memilih mengamati isi di dalam penthouse-nya dari luar.


"Alex putra dari Venzo. Pemilik showroom mobil mewah dengan pelanggan kalangan atas, hidup dalam kemewahan dan juga dimanjakan. Apa yang kurang darinya?" kata Bram mendiktekan asal usul Alex.


Hari diam, dia hanya tahu Alex adalah anak dari Venzo CPR. Sebab pria itu sempat membawa mobil mewahnya ke bengkel Hari untuk merubah interior mobil tersebut.


"Kasih sayang? Kau tidak akan tahu, betapa sayangnya Venzo kepada putra semata wayangnya itu. Sama seperti aku yang menyayangi Damar. Alex hanya butuh akses dan kebebasan, Venzo tidak tahu jika anaknya memiliki bakat untuk menghancurkan dunia," lanjut Bram setelah dia mendapat informasi dari orang kepercayaannya perihal Keluarga Alex.


Mengamati Alex dari ruang kerjanya, pemuda itu tengah merakit sendiri komputer canggih yang baru saja tiba dan diletakkan di satu ruangan khusus dalam penthouse Bram.


"Kamu yakin memperkerjakan seorang Alex?" tanya Hari sangsi.


Siapa yang tidak tahu track record seorang Venzo, dia tidak segan mengkonfrontasi orang yang berani mengusiknya. Kemudian menggulung orang tersebut tanpa sisa, terlebih jika berani memanfaatkan.


"Langkah pertama, dekati anaknya. Hari. Buat anaknya begitu tergantung dan merasa nyaman padamu, maka dengan sendirinya Venzo akan merasa segan padamu," tutur Bram dia merindukan Damar. Bocah itu sedang di rumah kakeknya, Bram terpaksa menitipkan putranya pada ayah dari Elea. Sebab ada banyak hal yang harus dia urus. Memindahkan seluruh kontrol S Konstruksi di Indonesia bukanlah hal main-main.


Terlebih perusahaan besar itu rentan terkena peretasan, jadi dia butuh orang yang menguasai sistem keamanan seperti Alex.


Dia tahu cara mentreatmen seseorang dari Elea, almarhum istrinya. Terlebih perusahaan Tio, Ryan yang memulai bemacam trik menjatuhkan perusahaan timun emas, pertanian dan lembaga usaha milik papanya dan kini S kontruksi milik papa mertuanya.


"Jika induknya masih memiliki keinginan untuk menyerang dan melindas mu, maka dengan sendirinya si anak akan menjadi tameng untukmu." Bram yakin jika teori yang dia anut akan bekerja untuk Alex.


Bahkan Hari tak mempermasalahkan, karena satu misi Hari dengan jalan pikiran Bram adalah. Mengetahui dalang dibalik ayah biologisnya apakah benar keluarga Tjandra, sementara itu ada hubungannya dengan tuan Venzo perusahaan intel yang ilegal.


TBC.


Sambil Tunggu Up Bram! Yuks mampir guys.

__ADS_1



__ADS_2