Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SALTING ISTRIKU


__ADS_3

Mikha tertegun, apakah suaminya ada masalah atau menghubungi, soal kasus Lena dan Dani yang saat ini ramai di media sosial.


Sehingga Mikha serius meraih ponselnya, niat hati ingin video call temannya bernama Osin, di jam siang kerjanya, meski saat ini ia melihat jam perbedaan negara saat ini dengan di kota.


Jujur ia bahagia liburan kali ini, tapi jika di tinggal sendirian sudah pasti Mikha akan mengacau sahabatnya itu agar tergoda mau menikah. Konon Osin anti menikah, melihat Mikha yang sering gagal berpacaran dan melabuhkan pada pria berumur membuat Osin semakin takut, jujur Osin takut menikah.


BERBEDA HAL DI RUANGAN LAIN.


Osin mengirim berkas lembur hari ini keruangan Eri. Lalu masih menatap Eri yang sok sibuk, tatapan tak jelas tanpa menatapnya jika ia datang. Ia berlaga sok bos, saat di ruangan pak Hari.


"Dih, udah kaya big bos aja loh." sindir Osin.


Tapi Eri masih menatap laptop dan mencoret sesuatu pada bolpen di map hitamnya.


"Eeh. Gue nanya, gue nyindir. Lo ga peka amat sih, bilang makasih kek. Nih gue udah selesai." ketus Osin.


Eri pun menoleh, lalu menarik nafas dengan amat kesal saat ini. Sebelumnya ia baik baik saja, tapi ketika Osin datang di pindahkan mengganti tugas Mikha yang tidak lagi bekerja. Ia cukup sulit untuk memahami karyawan yang bernama Osin.


"Jika sudah keluarlah. Saya masih banyak pekerjaan Osin. Jika keluar tutuplah pintunya lagi!" ketus datar Eri.


"Oke .. gue bakal tutup. Tapi, gue boleh minta satu pertanyaaan gak?" mendekat Osin.


"Keluar. Saya bilang keluaaar Osin!! saya tidak ingin karyawan lain. Melihat kita dekat dan berpikir buruk!" teriak Eri, yang kala itu berada di ruangan bos Hari menggantikan.


Dimana Eri, tidak ingin seorang pun karyawan lain masuk tanpa izin, apalagi dirinya saat ini bukan di ruangan semestinya.


Tatapan itu membuat Osin terkejut, pasalnya pria yang benar membuatnya kesal. Kala tatapan serius itu keluar, ia sungguh terpesona dan dengan menutup matanya. Ia berlalu dan keluar, berusaha tak menampakan menyukai ketertarikan pria di depannya dengan nada kesal.


"Oke. Gue keluar, puas lo!"


Braaaagh.

__ADS_1


Menendang kaki meja. Sehingga Eri hanya menunduk kembali dan fokus, setelah melihat aksi Osin yang seperti preman. Andai dia bukan teman baik, istri dari bosnya itu mungkin sudah melayangkan perintah surat SP.


"Nona Mikha dan Osin mereka berkawan sahabat. Tapi berbeda sekali dia, sungguh wanita penuh arogan dan emosi." lirih Eri, kembali mengetik dengan jari seribunya yang menatap system tetap aman.


Pasalnya tugasnya selain menjadi kepercayaan kantor, ia bertugas mengolah anti keamanan dan hacker yang meretas, dimana banyak pesaing yang ingin keluarga, bisnis Hartanto itu gulung tikar, setiap acara keluarga nomor satu itu selalu terpampang daftar nama. Dari Bram Hartanto, yang di generasi kedua Hari Hartanto, dan pewaris bisnis Damar Hartanto. Dari belahan negara selalu terpampang nama dan foto mereka, dimana klien tidak akan rugi jika mereka memberikan saham setengahnya sebagai investasi, itulah keluarga nomor satu yang terbilang dari keluarga miskin dan hina, sekarang sukses dengan tanpa ragu, bahkan beberapa pekerja yang ingin melamar saja, sulit 1: 100 orang hanya keterima satu orang, dari penyeleksian.


***


Berbeda hal. Di kegiatan liburan Mikha dan Hari.


Mikha cukup ingin tahu, bagaimana pria yang membawanya ini berlibur untuk berkeliling, sesaat mendapat balasan jika Osin sedang sibuk dan lembur. Maka Mikha saat ini memilih berkeliling keliling bersama Hari, setelah sekembali suaminya itu. Bahkan dengan tanpa pertanyaan, Mikha tak berani bertanya dari mana suaminya itu tadi yang terlihat gusar dan membuatnya khawatir.


Sehingga ia membangunkan Hari dengan sebuah bulu merak yang terhias di meja ruang tamu.


Ssssst!! Zzzzz !! Suara dengkuran jelas.


Eehueehuuuumh! "Sayang, kamu tidak ada lagi cara membangunkan mas?" terkejut Hari yang masih menguap, sejak pulang ia lelah dan mengantuk melupakan istrinya.


"Heuumph. Dengan cara apa, aku sudah membuat mas dengan lembut. Mencium pipi mas, tapi mas Hari ga bangun juga." senyum paksa Mikha.


"Cih. Mas, kamu gitu deh. Katanya mau keliling, ajak aku ke nusa Briliant. Tapi kalau cuma seharian di kamar, gimana bisa di anggap liburan, katanya mau ke nusa Eropa juga? mas baru ajak aku kedepan aja loh."


Hari menyandarkan dirinya, ketika matanya masih mengantuk. Mikha memberikan satu gelas panjang bening, air minum. Ia meneguknya dan berterimakasih, lalu meregangkan ototnya ketika bangun pagi.


"Maaf, kemarin ada hal mendesak sayang. Urusan kantor dan system yang sedang ditingkatkan satu level."


Hari berdiri, menampaki lantai dan berolahraga di tempat. Sesuatu terlihat jelas, Mikha sangat syok kala melihat sesuatu di bawah pusara suaminya yang ikut bangun.


"Mas, kamu olahraga seperti ini di depanku. Bagaimana kelak, kalau kamu juga di fitnes ruangan terbuka?" tatap Mikha.


"Kenapa. Pria memang seperti ini sayang, jangan jadi masalah. Oke!" goda Hari.

__ADS_1


"Mas. Kamu jahat, bisa - bisanya kamu enteng bicara kaya gitu." nada kesal Mikha.


Mikha memukul suatu benda yang bangun jelas. Dengan sebuah bantal, dan berlalu pergi. Hingga di mana, aksi Hari yang senyum mengejar kilat aksi Mikha yang marah.


Hingga di mana, ia menarik tubuh dan memeluk Mikha.


"Eehm. Mas, jangan menggesek gesek. Kamu belum mandi. Ayo cepat mandi!" menggeser tubuh.


"Jangan marah. Mas juga ga tahu kenapa, kalau dekat kamu. Kamu seperti magnet, buat mas berdiri dan on. Kamu mau menidurkannya?!"


Mikha menatap wajah Hari. lalu mencengkram halus wajah dan mencubit hidung suaminya.


"Enggak. Kamu mandi dulu mas, ayo. Kita sarapan habis ini!" lirik Mikha.


Tanpa tanda apapun lagi. Hari memasang wajah sedih, memanyunkan bibirnya dan berkata.


"Kasihan sekali, junior ini telah bangun. Tapi tuan empunya tak bisa berbuat apa apa untuk memberi sarapan. Lagi pula menolak itu tidak baik bagi seorang istri. Kamu tahu sayang kenapa ..?"


"Mas. Mandi dulu ya!" cetus Mikha.


Dengan kilat, Hari membopong Mikha dengan paksa. Ia masuk dan menutup rapat pintu kamar mandi. Membuka seluruh tak usah ditanya ...!!


"Mas, kamu nakal. Aku sudah mandi basah lagi, kamu tahu. Kalau aku ... Heuuumph."


Mikha membulat sempurna, kala masih bicara. Tapi ranumnya telah di tutup.


Dimana ritual mereka terjadi lagi, benar benar gila. Kini setelah beberapa saat lamanya, Mikha dan Hari telah bersiap dengan memakai casual senada. Jaket bulu tebal, dan rajut dalaman yang tinggi menjulang ke leher. Saat mereka berada di depan rumah pun, asap dingin saat bicara membulat membuat Mikha mengusap ngusap kedua tangannya. Padahal mereka sudah memakai penutup, akan tetapi tetap saja membuat Hari mendekap dan menghangatkan istrinya itu.


"Gimana, kamu mau berangkat sekarang. Atau kembali ke dalam, aku hangatkan seperti tadi?" bisik Mikha.


"Mas." nakal nya Hari, membuat Mikha dengan pikiran oleng, apalagi matanya terus saja menuju ke wajahnya, membuat Mikha salah tingkah.

__ADS_1


"Mas, jangan senyum menatapku terus. Aku malu!" menutup mata.


Tbc.


__ADS_2