
Kreek! Suara pintu gerbang otomatis.
"Bagaimana, Bram Hartanto. Putra dari mendiang Dayana Cluoe! apa kau menyukai kejutan dari kami semua?" tanya bernada tinggi dari pria yang menjadi pemimpin kelompok tersebut.
Bram mengarahkan belatinya pada pria yang usianya jauh di atasnya itu penuh dengan kewaspadaan, kenapa ia bisa menyebut nama ibunya.
Sudah tidak terhitung tubuhnya berputar berapa kali sebab takut akan mendapat serangan dari belakang atau sisi yang lainnya.
"Tenanglah. Mereka tidak akan menyerangmu, setidaknya tidak untuk sekarang," celotehnya bermaksud merendahkan.
Bram, tak memedulikan celoteh tersebut, sekarang yang menjadi fokusnya adalah mencari celah untuk keluar situasinya sekarang. Bram melupakan tombol untuk ia pencet ke arah ruangan polisi, akan tetapi sudah kelewat dulu orang mafia palsu lainnya, sejenis komplotan.
"Ternyata lima tahun tak bertemu, si sampah ini sudah mengalami perkembangan juga ternyata! Boleh juga kemampuan, menghadapi kami tadi, tapi sayang, yang terjadi sebenarnya hanya kepalsuan," lanjutnya bernada hinaan.
Bram, tak lagi bisa mengacuhkan perkataan pemimpin kelompok Naga Buaya tersebut. Kalimat terlahir yang keluar dari mulutnya, telah mampu menekan segala kesombongan yang ada pada diri Bram.
"Jadi kalian ..." Bram, terbata-bata, sambil menunjuk satu persatu orang-orang yang tadi menjadi lawan bertarungnya.
Bersama-sama mereka pun tertawa lantang tanpa merasa bersalah. Bram, berusaha tetap mempertahankan kesadarannya di tengah-tengah tekanan yang ada.
"Kau pikir kami tidak tahu rencana kedatanganmu ini?"
Bram memutar bola matanya ke kiri dan kanan. Melihat satu persatu wajah orang-orang yang sempat menjadi lawan tandingnya tadi.
Isi kepalanya dibawa untuk berpikir keras, menelisik ulang kejadian demi kejadian sebelum puluhan anggota Naga Buaya mengepungnya seperti sekarang.
Pemimpin kelompok tersebut menyeringai, seraya melipat kedua tangan. Alisnya naik turun, menandakan ia tengah menantang Bram, untuk melanjutkan mulut besarnya itu.
Bukan hanya ia saja yang menikmati tontonan, yang menampilkan acara gamblang pemuda ingusan yang mencoba mengalahkan singa di kandangnya sendiri.
"Mati kau, Bram! Bodoh banget dirimu, sampai masuk dalam jebakan mereka. Kalau sudah begini, cara satu-satunya adalah melarikan diri, tapi ..."
Bram, membatin. Tubuhnya tak berhenti berputar. Setiap kali ada pergerakan dari anggota Naga Buaya pasti dia akan langsung mengibaskan belatinya guna melindungi diri dari segala ancaman yang datang.
__ADS_1
Sekitar puluhan anggota Naga mengepung Bram dari segala penjuru. Setiap wajah menggambarkan jelas watak dan karakteristik organisasi Naga Bram yang terkenal bengis dan brutal.
Tidak ada cela bagi pemuda berjuluk mafia kelas teri itu bisa meninggalkan ruangan tersebut. Nihil untuk Bram melawan mereka satu persatu di sini. Bisa-bisa dia keluar hanya menyisakan nama saja.
Pemimpin mereka mulai mengangkat tangan kiri. Bram sudah sangat hafal betul gerak-gerik seperti itu, yang menandakan ia tengah memberi kode pada anggotanya untuk melakukan pergerakan.
Bola mata yang sedari tadi tidak bisa diam itu, terus mengedar ke seluruh sudut ruangan. Mencari cela baginya untuk keluar dari tempat yang sesaat lagi akan menjadi arena tarung.
Ketika sedang fokus mencari tanpa disadari terdapat cela kecil yang bisa dimanfaatkan untuk meloloskan diri.
Pada detik itu juga, isi kepala Bram mulai memperhitungkan kegagalan serta keberhasilan yang mungkin akan terjadi saat langkah ini diambil nanti.
"Jaraknya sekitar lima puluh meter dari sini, sekitar dua menit jika aku berlari, itupun kalau mereka tidak langsung mengepungku," batinnya tengah menghitung, mempertimbangkan jalan yang akan diambilnya.
"Kalau aku berjalan lambat, maka perlu lima menit untuk sampai di sana, tapi resikonya jelas sangat berbahaya sebab mereka sudah tentu menutup cela kecil itu," lanjutnya mempertimbangkan, keberhasilan dan kegagalan dari tindakannya ini.
Tidak luput dari perhitungannya, yaitu postur tubuhnya yang tidak terlalu besar dan berat badannya kurang dari 60 kilogram. Sementara, orang-orang dari organisasi Naga memiliki postur badan besar, perkiraan berat badan mereka di atas 90 kilogram, bisa jadi lebih besar dari yang dipikirkan.
Dalam artian, pergerakan mereka akan sedikit lambat, dengan begitu Bram, bisa melakukan sedikit gerakan mengecoh nantinya.
Bram yang terdiam cukup lama, nyatanya terbaca juga oleh pemimpin kelompok tersebut. Ia menyadari ada cela kecil yang mampu meloloskan mangsanya dari terkaman semua singa di sini.
"Cepat tutup cela itu dan tangkap dia!" tunjuk sekaligus perintah tegas.
Bram, terkesiap. Dia mengumpat kesal dalam hati. Namun, bukan saatnya dia menggerutu dan mengutuk mereka semua, sekarang sudah waktunya dia mengambil resiko besar tersebut.
BRUUSHH ...
Bram, melompat ke lantai, layaknya perenang yang memasuki kolam renang. Lantai yang cukup licin, memudahkan Bram meluncur seperti bola bowling yang dilempar ke arena luncur.
Sepasang bola mata dari pria yang bertindak sebagai pemimpin mereka pun tampak membulat, seolah-olah ingin melompat keluar dari tempatnya.
"Bedebah!" Ia mengumpat kesal mendapati Bram, dapat menemukan jalan untuk mencapai cela kecil di sana.
__ADS_1
Meluncur bak roket yang menembus awan, mereka yang berusaha menghalang-halangi pun merasa kewalahan lantaran Bram menggunakan belatinya untuk melukai setiap kaki mereka.
Alhasil, anggota yang kakinya dilukai pun menghindar, cela kecil sebelum ini malah terbuka selebar-lebarnya. Bram menyeringai karena bisa melihat pintu keluar yang sebagian bautnya telah terbuka itu.
Pada serangan terkahirnya, Bram menggunakan kakinya untuk menendang setiap orang yang berusaha menghalangi jalannya.
Mereka yang hendak menyerang menggunakan senjata pun harus melepaskan senjata mereka karena Bram, selalu melakukan serangan pada inti vital seorang pria.
Kaum Adam mana yang tidak menjerit kesakitan kalau benda pusaka harus menjadi korban serangan.
Badannya yang mungil tinggi ideal, serta menguasai jurus karate beladiri membuat Bram, dapat melayangkan tubuhnya saat hendak bangun. Badannya yang berputar beberapa kali di udara, menjadikan tontonan langka bagi para anggota itu.
Tidak sedikit dari mereka yang berdecak kagum akan kemahiran Bram, menguasai jurus karate dalam satu waktu, tapi tidak sedikit pula dari mereka yang kesal serta menganggap kemampuan pemuda itu tidak ada apa-apanya.
"Hei, kalian! Kenapa diam saja? Ayo, cepat tangkap dia! Jangan sampai keluar dari tempat ini!"
Suara lantang dari pria berstatus bos dalam kelompok tersebut, langsung berhasil memecah keheningan di sana. Keheningan yang tercipta sesudah Bram, menunjukkan bakatnya. Setelah berhasil mendapatkan kesadaran masing-masing, barulah mereka menyadari kalau Bram telah lolos.
Bram menjulurkan lidahnya, mengejek mereka yang hanya badan besar, tapi berotak bodoh. Sementara dia sendiri telah berada di bibir pintu berkat segala usahanya tadi.
Sebelum mereka benar-benar mengejar, dia sudah lebih dulu berlari dari sana. Sekeras mungkin tidak menoleh ke belakang. Bram langsung masuk ke mobil yang memang sengaja terparkir tidak terlalu jauh dari pintu masuk.
Dia sudah menduga, kejadian ini pastinya akan terjadi. Maka dari itu, untuk berjaga-jaga dia tidak menjauhkan mobilnya dari area gedung.
Setelah memasang sabuk pengaman, mesin telah dinyalakan, Bram segera menginjak pedal gas, mobil pun melaju secepat mungkin, meninggalkan area gedung yang terbengkalai itu. Tepat beberapa detik kemudian, para Anggota Naga Buaya keluar gedung.
Mereka segera berpikir cepat tanpa menunggu turunnya perintah. Pergi menuju kendaraan roda empat maupun roda dua yang terparkir di halaman belakang.
Kriiiiing!! Suuara dentuman.
Bram terhenti, kala seluruh polisi mengepung seluruh mafia palsu tak bisa berkutik.
Sekiranya empat puluh mobil polisi mengepung, dan Bram turun seolah mendapat kemenangan, kala Elea serta Kristal juga datang dengan tersenyum ke arah Bram.
__ADS_1
Tbc.
Dukung jejak Bram dong! Crazy Up seminggu ini, semoga kalian menyukainya ya.