Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENUNJUKAN SIAPA AKU!


__ADS_3

Saat terbangun di pagi harinya, Bram memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Namun, Bram tetap memaksakan untuk bangun, dia sudah tidak sabar untuk menjemput Elea. Sebelum ke kamar mandi Bram, terpikirkan bahwa dia harus segera membeli rumah.


Bram, segera menelepon Kristal, tepat pada panggilan ke lima baru mendapat jawaban dari Kristal. Bahkan Bram, sudah hampir emosi.


“Halo,” jawab Kristal di ujung telepon dengan suara yang serak, mungkin Kristal belum bangun dari tidurnya saat Bram menelepon, atau ia tidak biasa hidup di sekitaran desa sengketa.


“Kristal, tolong carikan aku sebuah rumah mewah saat ini juga!” ujar Bram tanpa basa basi.


“Kamu gila ya? Ini masih pagi Bram, aku juga sedang mencari bukti aplikasi system ku bermasalah tidak bisa keluar nama dan berfungsi, aku berada di puncak gunung!” teriak Kristal marah dan pagi ini Bram, sudah membuatnya marah.


“Aku akan membawa Elea keluar dari rumah keluarga Hermawan, apartement itu terlihat tidak aman. Dia membantuku mencari banyak bukti penelitian ilegal, yang aku rasa ada kaitannya dengan pemilik kedua tanah sengketa.” jawab Bram, tak kalah kerasnya.


Lama Kristal terdiam.


“Baiklah, segera aku kabari kamu!” jawab Kristal ketus yang akhirnya mengalah, dan bersedia membantu Bram, mencarikan rumah pagi ini.


Setelah menghabiskan sarapan pagi, dan menikmati secangkir kopi hangat, Bram berangkat menuju calon rumah mertuanya.


“Kali ini aku harus bisa membawa Elea, keluar dari rumah itu, dia calonku dan aku berhak membawanya kemanapun,” tekad Bram, dalam hatinya ia merasa Hermawan seorang ayah yang membuat putrinya sebagai mesin uang, berhutang pada orang dan jaminannya adalah menikahi Elea.


Bram, sudah memutuskan apapun yang terjadi nanti, dia akan tetap membawa Elea. Dia sudah tidak sanggup lagi berpisah dengan kekasih cantiknya itu.


Bram, mengatur napas saat dari kejauhan dia melihat rumah Hermawan yang sudah dua kali dia harus terusir dari sana dengan hina.


Saat tiba di rumah keluarga Hermawan, sebuah mobil berwarna putih juga masuk ke halaman rumah besar itu dan parkir tepat di samping mobil Bram.


Ternyata dia adalah pengacara yang dimaksud oleh Elea semalam, lelaki muda dengan berpakaian rapi membawa sebuah map di tangannya.


“Kamu pengacara yang disewa oleh bu Merlin?” tanya Bram, kepada lelaki muda tersebut dengan hati yang menahan kesal.


“Iya, namaku Dolbi. Dan aku diminta oleh bu Merlin untuk melayangkan gugatan penipuan Elea yang tidak berguna itu! Dia harus membayar hutang 2T jika tidak menikah dengan klien kami jawab si pengacara ketus.


“Aku tidak akan biarkan kalian menyentuhnya!” tolak Bram, tegas.

__ADS_1


Pengacara tersebut terkejut. Dia tak tahu kalau orang yang bicara dengannya ini adalah Bram, yang pernah dibicarakan itu.


Sekilas memindai Bram, dari atas sampai bawah, pengacara itu kemudian tersenyum sinis.


“Itu bukan urusanku, aku dibayar untuk melakukan tugasku!” jawabnya semakin membat Bram emosi.


Bersamaan dengan itu Merlin dan Hermawan muncul dari dalam rumah mereka dan menyambut pengacara dengan hangat.


“Kebetulan sekali kamu datang, hei lelaki Sampah! Kau mau apa kemari?"


“Aku datang ke sini untuk menjemput Elea, tidak akan pernah ada perpisahan antara aku dan Elea!” jawab Bram.


“Hahaha, jangan mimpi kamu Bram! Aku tidak akan membiarkan Elea, putriku satu satunya hidup bersama gembel seperti kamu!” ujar Merlin kepada Bram sambil mendorong bahu Bram.


“Iya, dasar tidak tahu diri! Kamu ini siapa, usaha tidak punya dan pekerjaan saja tidak jelas."


Bram geram. Dia ingin sekali membungkam kedua orang ini. Ditunjuknya mobil yang tadi dia kendarai.


“Apakah mobil supermewah itu masih belum cukup membuat kalian percaya bahwa aku bisa membahagiakan Elea?” tanya Bram sembari menunjukkan mobilnya yang terparkir bersanding dengan mobil si pengacara.


Tak lama Ryan tiba mendengar percakapan itu, segera teringat kejadian di showroom tempo hari, sehingga dia langsung emosi.


Bagi Ryan, kejadian di showroom tempo hari itu tak ubahnya aib baginya. Saat itu dia dipermalukan oleh manajer showroom karena Bram, kali ini giliran dia mempermalukan Bram.


“Mama jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh tukang halu ini, Ma. Mobil ini pasti hasil curian, dia tidak mungkin bisa membelinya, Ma!” ujar Ryan yang mengarang cerita, berusaha agar calon mama mertuanya itu percaya.


Merlin langsung percaya sebab menurutnya itulah yang paling masuk akal, karena tidak mungkin Bram, yang miskin tiba-tiba bisa memiliki mobil yang supermewah.


“Kamu benar, Ryan! Dia tidak mungkin mampu!”


“Pergi kamu dari sini! Atau kami akan melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan pencurian mobil mewah itu!” ujar Merlin yang langsung mendapat sambutan senyuman sinis di wajah Ryan melihat ke arah Bram.


Bram semakin emosi, tapi dia menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun terlebih dahulu. Tujuannya ke sini adalah menjemput Elea dan dia bertekad kalau dia harus berhasil. Serta hidup bersama dengan misi tujuan yang sama.

__ADS_1


“Sekali lagi aku katakan, aku tidak akan meninggalkan Elea!” teriak Bram, marah.


“Kamu! Berapa yang telah di bayarkan kepada kamu?” tunjuk Bram kepada si pengacara tersebut.


“Aku akan membayar kamu lima kali lipat, dengan syarat kamu harus segera meninggalkan tempat ini sekarang juga! Tidak ada hutang yang harus diganti dengan menikah paksa! Jika tidak ingin terjerat pasal balik pada kalian!" emosi Ryan.


"Kau berani?" tanya Hermawan.


"Hutang anda telah saya lunasi! Bualan Ryan pria yang ingin kalian jadikan mantu adalah penipu ulung. Aku telah melunasinya!" unjuk Ryan dengan bukti.


Elea keluar, ia menatap Bram dengan kesedihan. Sepertinya sejak semalam pulang ia di kurung dan berhasil keluar.


Bram! Teriak lembut Elea, ia turun dari anak tangga dan memohon di restui, dan memohon agar kedua orangtuanya percaya jika hutang telah dilunasi oleh Bram.


Tak lama Ryan menghubungi seseorang, tak layak adalah sang papa. Bram senyum meminta maaf akan datang terlambat menjenguk.


[ Hallo pah! Aku berada di rumah Hermawan, yakni supir papa dulu. Aku pernah ceritakan tempo lalu, bisakah kau membantuku?! ] senyum Bram.


[ Baik putraku! ] suara serak. Terdengar oleh Hermawan cukup tidak asing.


Seraya Bram, menampilkan tabletnya ke arah Hermawan. Ryan dibuat gugup kalah telak tak bisa menghasut kedua orangtua Elea lagi.


[ Hay! Her, bagaimana kabarmu setelah membuat hidup asmara putraku sulit? Kau tidak ingin berbesan denganku? ] video call.


[ Apa ... Putramu! Pak bos, benarkah ..? ] lutut melemas menatap Elea putrinya memegang tangan Bram saat itu.


"Papa restui kami, mama juga. Elea akan ikut Bram kemanapun!"


Bram saat itu membuat hidup Ryan yang notabane pembuat onar, kalah telak. Bahkan kedua orangtua Elea masih tidak percaya begitu saja lemas berkata.


"Ya! maaf Bram! Aku merestui kalian." lirih Hermawan bagai serangan jantung.


Bram menatap Elea, jujur sikap arogan ini tak ia sukai. Tapi demi misi dan hubungannya dengan Elea tidak semakin jauh, maka hanya inilah yang harus ia tunjukan siapa dirinya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2